Petualang Jagad Lelembut

Petualang Jagad Lelembut
Bab 41


Ahmad bergidik ngeri membayangkan hal yang akan dihadapinya. Dirinya tak menyangka liputan kali ini benar-benar akan membawanya ke sebuah pengalaman baru. Pengalaman mistis.


Ahmad sebenarnya bukan penakut hanya saja apa yang dialaminya kali ini sungguh sulit diterima dengan akal sehatnya. Ketidakhadiran Rara ditengah-tengah tim mereka membuat Ahmad menyesal.


Ahmad sebenarnya jatuh hati pada Rara, tapi dirinya terlalu malu untuk mengungkapkan perasaannya pada Rara. Kenyataan bahwa kini Rara telah berubah menjadi pengikut kegelapan membuat Ahmad sedikit terpukul.


Ia memilih diam dan sesekali memegang tengkuknya saat mendengarkan Sari dan pak Lingga menjelaskan yang terjadi pada Rara. Kemungkinan Rara kembali fifty fifty, Ahmad bisa jadi melihat Rara lagi atau justru tidak akan pernah sepanjang sisa umurnya.


"Hhm, Sar … Lo yakin, fix kalo Rara nggak mungkin balik lagi?" tanya Ahmad cemas.


Sari menoleh ke arah Ahmad dengan sendu, "Kenapa, kamu nyesel kan sekarang Mad? Makanya kalo cinta bilang, giliran udah pergi baru deh kerasa."


"Iya, padahal kemarin gue mau bilang sayang ke dia eh, malah kenyataannya begini." jawab Ahmad sedih.


"Jangan sedih gitu Mad, berdoa saja keajaiban datang terus Rara bisa kembali normal." kata Sari menenangkan.


Ahmad kembali terdiam, ia menyesali kesempatan yang ia lewatkan untuk bersama Rara. Andai waktu itu Ahmad menemani Rara pasti tidak akan terjadi hal yang mengerikan itu. 


"Nyesel gue Sar, Ra … gue sayang banget sama Lo?!"


"Hmm penyesalan tuh datangnya emang dibelakang Mad kalo didepan namanya pendaftaran!" sambar Doni sambil menepuk bahu Ahmad.


"Iya Don, gue juga tahu … coba dulu gue buka pendaftaran dulu ya, pasti aman dia sekarang?!"


"Yaaah, miring ni anak otaknya! Dah jangan mbok pikir nemen, sakit hati nanti malah?!" 


Pak Lingga menggelengkan kepalanya, ia lalu berkata. "Lebih baik mulai sekarang kita saling terbuka. Yang kita hadapi sekarang bukan sembarang lawan."


"Beban kita ada dua cari bahan liputan dan yang kedua bersiap menghadapi lawan."pak Lingga menambahkan.


"Jadi sebenarnya apa sih yang kita hadapi pak?" Bagas bertanya dengan antusias, tanggung jawabnya sebagai ketua tim utama membuat dirinya tergerak untuk mengetahui permasalahan yang terjadi.


"Kita menghadapi manusia setengah iblis. Airlangga ingin menjadi satu-satunya manusia abadi di dunia ini, dia menginginkan kekuatanku dan menguasai dunia lewat boneka buatannya."


"Maksudnya gimana ini?" Bagas kembali bertanya.


Pak Lingga masih terdiam memikirkan kerumitan masalah yang terjadi pada dirinya dan Airlangga. Persahabatan yang ternodai cinta segitiga telah membuat keduanya tenggelam dalam dendam berkepanjangan.


"Boleh saya jelasin pak?!" tanya Sari pada pak Lingga yang disambut anggukan tanda setuju.


"Dari yang aku tahu, Airlangga dan pak Lingga dulunya adalah abdi dalem prabu Hayam Wuruk. Mereka berdua ditugaskan menjaga sang putri sebelum kejadian mengerikan itu.  Kesalahpahaman antar dua kerajaan telah merenggut nyawa sang putri dan juga membuat sang prabu jatuh sakit dan mangkat." Sari berusaha menafsirkan perjalanannya ke masa lalu bersama Airlangga kemarin.


"Kesalahpahaman akibat ambisi seseorang." sahut pak Lingga lirih.


"Sumpah sang raja menjadi kutukan bagi siapa pun yang terlibat termasuk Airlangga dan juga pak Lingga sendiri." sambung Sari lagi.


"Tunggu Sar, maksud kamu … pak Lingga dan juga Airlangga berasal dari masa lalu? Ini bukan dagelan atau semacamnya kan?" tanya Bagas tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Ini nyata Gas, dan itu ada didepan mata kamu. Pak Lingga immortal, usia bahkan sudah lebih dari seribu tahun. Apa benar tebakan saya pak?" tanya Sari pada pak Lingga.


Pak Lingga hanya tersenyum tanpa menjawab sepatah kata pun. Hanya ada satu kata yang terlintas di benaknya, menyedihkan. Siksaan kehidupan yang ditimbulkan dari kutukan sang prabu membuatnya sengsara sepanjang hidupnya. Being immortal isn't a simple thing.


"Serius? Oh my God, pantesan pak Lingga tajir bener! Duitnya dari jaman dulu kumpul dong!" ujar Ahmad dengan mulut ternganga.


"Hush, ojo ngawur Mad! Sopan sitik, dekne berarti Mbah buyute dewe Mad!" Doni mengingatkan Ahmad.


"Eeh, lha he eh ik! Lali aku ndes!"


"Sopan Mad … so-pan." kata Doni sekali lagi.


Bagas hanya menggelengkan kepalanya melihat kedua rekannya. Sari melanjutkan kembali perkataannya.


"Airlangga kasih informasi ke saya tentang pusaka itu. Dan pak Lingga juga cari pusaka yang sama. Disini saya nggak paham maksud dan tujuan kalian berdua gimana?"


Pak Lingga bangun dari duduknya, berdiri, dan menatap jauh ke depan lewat jendela yang ada di hadapannya.


"Untuk?"


Pak Lingga berhenti sejenak dan menatap Sari juga Bagas bergantian.


"Aah, lupain! Saya dan Airlangga dulu memang bersahabat, kami terikat dalam kutukan yang sama oleh karena itu kami saling mendukung dan membantu satu sama lain. Sayangnya … kami terlibat cinta segitiga, kami berdua mencintai wanita yang sama. Lita."


"Tunggu, Lita itu kan …," Sari menyela perkataan pak Lingga.


"Hhm, Lita … perempuan yang menyerang kamu kemarin." jawab pak Lingga sedih.


Sari kini memahami permasalahan yang terjadi. Airlangga mungkin membenci pak Lingga karena kisah cinta mereka, tapi masih ada yang mengganjal untuk Sari. Dengan keabadian yang dianugerahkan pada mereka lewat kutukan, bukankah mereka seharusnya bahagia?


Mereka bisa mencari wanita lain selain Lita, tapi kenapa justru malah mereka berdua memelihara dendam di hati dengan subur? Ini aneh.


Ahmad masih mendengarkan mereka dengan intens, meski pikirannya melanglang jauh pada sosok Rara. Cerita pak Lingga membuatnya bergidik ngeri. Jika benar apa yang dikatakan pak Lingga, itu artinya ia sedang berhadapan dengan seorang legend. Pria dengan pengetahuan sejarah masa lampau yang menjadi saksi perjalanan kehidupan.


"Don, gue ngeri liat pak Lingga nih … dia jin, setan, demit, vampir, apa manusia sih?" bisiknya pelan sambil merapatkan tubuhnya ke arah Doni.


"Dia masih manusia Mad, cuma dikasih umur panjang. Tapi kekuatan dia juga bukan kaleng-kaleng, auranya luar biasa. Sakti dia itu!" balas Doni.


"Serius dia manusia, muka dia kok awet muda gitu pake skin care apaan ya Don?! Gue jadi pengen punya wajah semulus dan seganteng dia!"


"Hmmm, mulai dah otak lo miring … tadi takut sekarang penasaran. Mau lo gimana sih!"


Ahmad cengengesan, ia kembali menatap pak Lingga yang masih berbicara dengan Bagas secara intens. Konsentrasi Ahmad buyar saat perutnya berontak. Panggilan alam memaksanya pergi ke toilet.


"Eeh, mo kabur kemana Lo?" tanya Doni saat melihat Ahmad dengan tergesa-gesa pergi.


"Bentar, perut gue mules!" jawabnya seraya berlari. Doni hanya menggelengkan kepalanya.


Ahmad tak kuasa menahan gejolak di perutnya yang berontak, ia buru-buru membuka pintu kamar mandi. Tapi kemudian ia terkejut, saat mendapati di dalam kamar mandi ada wanita cantik yang sedang asyik bersenandung kecil dan berendam dalam bathtub.


"Hasyeeeeem, gek kebelet malah ono cewek! Ora dikunci sisan pintune!"


Dia memaki dirinya sendiri yang terlanjur membuka pintu kamar mandi tanpa permisi. Perempuan itu terkejut saat melihat Ahmad yang berdiri di depan pintu kamar mandi dengan ekspresi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.


"Eeh, masnya kok main masuk aja? Nggak liat saya lagi mandi?!"


"Eeeh, Nganu … maaf mbak, saya tadi kebelet … jadi, Nganu …duh piye to ngejelasinnya!" Ahmad tergagap menjawab pertanyaan perempuan cantik berambut panjang itu.


Gondes tenan … dumadak ndelok awake sing putih mulus, dadi ngeres kan utekku! umpatnya dalam hati.


"Mas … mas, mau make kamar mandinya? Silahkan aja, apa mau kita samaan pake kamar mandi? Nggak apa kok?!" Suara perempuan itu tiba-tiba begitu dekat ada dibelakangnya membuat Ahmad meremang.


Lho kok, suarane neng mburi? Aduh … apa gue salah denger? Jangan-jangan …,


Ahmad berbalik dan mendapati perempuan cantik itu sudah berdiri di belakangnya tanpa mengenakan sehelai benang pun. Ia menyeringai pada Ahmad seolah menggodanya untuk menyentuh dirinya.


Duh Gusti! Tenan to …,


Ahmad menelan ludah kasar, insting prianya ingin menyentuh tubuh mulus wanita itu melupakan panggilan alam yang tadi menyiksanya.


Wanita itu kembali tersenyum dan berusaha menggoda Ahmad dengan gerakan tubuhnya. Mata Ahmad tidak menolak untuk melihat pemandangan indah di depan matanya. Ia menatap tubuh polos wanita itu dari atas sampai bawah.


Dan ketika matanya memindai bagian bawah sang wanita, ia terbelalak. Kaki wanita itu tidak menjejak pada lantai. Ia melayang. Paras cantiknya seketika berubah menyeramkan.


"Astaghfirullah … healah, luput tenan aku! Demit to jebule!" serunya setengah berteriak.


"Maaf mbak, pake aja deh kamar mandinya! Saya nggak jadi setor, puas-puasin aja mandinya! Saya mau … kabuuur!"


Seketika Ahmad berlari meninggalkan kamar mandi, seraya memanggil sahabatnya.


"Doniiii!"