
Doni mengarahkan kamera di beberapa spot terbaik Candi Bajang Ratu. Mitos berkembang mengatakan bahwa barang siapa pejabat pemerintahan yang nekat melintasi atau memasuki area Candi Bajang Ratu makan akan mendapatkan kesialan dan nasib buruk.
"Cuma dilihat dari jauh aja kenapa bikin merinding ya?" gumam Doni.
"Kayaknya hampir semua candi disini punya cerita mistis deh. Aura mistisnya beneran kuat, apa karena sampai sekarang masih banyak yang lelaku disini ya?!" Doni kembali bergumam dan kali ini Ahmad mendengarnya.
"Keknya gitu Don, gue juga merinding tiap kali ngelewatin candi-candi disini. Hawanya kok aneh bener." sahut Ahmad
"Hhmm, Lo bener Mad. Baru kali ini kita liputan pake acara banyak bener kejadian aneh. Dari Rara sampe hal yang nggak masuk diakal."
"Rara … gue kangen dia Don! Apa dia baik-baik saja?!"
"Tau deh Mad, mana ada orang yang baik-baik saja ketika Lo ada di bawah pengaruh kegelapan."
"Don, gue rasanya masih nggak percaya aja deh. Beneran nggak sih Rara dah berubah jahat, gue kek ada di film-film thriller rasanya! Emejing gitu!"
"Entah, gue juga bingung. Tapi kan Mayan Mad, kita jadi kek artis yang lagi main film cuma kagak dibayar?!" sahut Doni tertawa.
Ahmad hanya menanggapi dengan senyum tipis, "Iya, asal bukan sad ending aja. Biasanya film thriller kan endingnya nyesek, dead semua tokohnya."
Jantung Doni kembali berdetak lebih cepat. Kakinya seketika lemas mendengar jawaban Ahmad.
"Ccck, Lo kalo ngomong suka bikin gue jantungan Mad! Diem aja dah Lo, daripada gue pingsan."
"Lebay!"
Doni mencari pak Agus, ia ingin menanyakan tentang candi Bajang Ratu. Informasi yang ia dapat hanya candi itu merupakan gapura pintu masuk ke sebuah bangunan suci.
"Pak Agus?!"
Doni melambaikan tangan pada pak Agus yang rupanya sedang mengobrol dengan seseorang tak jauh dari bangunan candi yang terbentuk dari susunan batu berwarna merah genta.
Pak Agus bergegas mendekati Doni dengan setengah berlari. Masih dengan nafas memburu pak Agus yang ramah dan selalu tersenyum itu langsung bertanya pada Doni.
"Ada apa mas Doni?"
"Saya perlu informasi tentang candi ini pak, buat isi suara saat tayang." Doni bersiap menyalakan perekam suara miliknya.
"Ohya boleh mas siap, mau sekarang?"
"Ehm, bulan depan juga nggak apa pak, biar saya nginep sekalian disini." jawab Doni asal
Pak Agus yang ramah mengembangkan senyumnya. "Mas Doni, jangan sewot Mulu nanti jodohnya seret kek lagi makan singkong nggak pake minum."
"Iish, bisa aja pak Agus. Jodoh saya nggak seret pak cuma …"
"Kebiasaan bener ni anak, nyamber aja kek bensin!"
Pak Agus tersenyum dan menimpali, "Sesama jones dilarang saling mengejek!"
Doni pun tertawa, "Naaah, sepakat niih!"
Mereka tertawa lepas, melupakan sejenak teriknya panas matahari dan gelisahnya hati.
"Bisa kita mulai sekarang pak Agus?"
Pak Agus mengangguk, ia kemudian memberikan keterangan yang berkaitan dengan candi Bajang Ratu.
Candi Bajang Ratu diperkirakan dibangun pada abad ke 14 Masehi. Candi ini merupakan salah satu gerbang terbesar pada zaman kerajaan Majapahit. Dibangun untuk didharmakan pada Raja Jayanegara.
Dinamakan candi Bajang Ratu karena Raja Jayanegara pernah terjatuh di dalam Candi, terluka dan mengalami cacat. Beliau diangkat saat usianya masih sangat muda, dari situlah penamaan Bajang Ratu atau Raja muda yang Cacat.
"Mitos yang berkembang itu gimana pak Agus, apa sudah ada yang membuktikan?"
"Kalau kebenarannya saya juga belum tahu pasti, selama ini nggak ada yang berani melanggar pantangan itu mas Doni."
"Hhmm, lagian mana ada pejabat yang berani melanggar pantangan itu?! Rugi bandar kalo sampe lengser." Sarkas Doni yang disambut tawa kecil pak Agus dan Ahmad.
"Nah itu tahu mas Doni. Mungkin dulu pernah ada kejadian gitu, tidak ada asap kalo tidak ada api kan?" ujar Pak Agus .
"Ada Lagi yang menjadi adat masyarakat Trowulan selain pantangan itu mas."
"Oh ya, apa itu pak?"
"Candi Bajang Ratu dulu itu merupakan bagian belakang kerajaan Majapahit, itu sebabnya hingga kini masyarakat di Trowulan jika melayat orang meninggal diharuskan lewat pintu belakang."
Doni mengerutkan keningnya, sedikit heran. "Sampai segitunya ya masyarakat sini. Benar-benar deh kebudayaan Majapahit mengikat warga sampai sekarang."
"Ya begitulah mas, seolah sudah menjadi identitas diri. Majapahit adalah Trowulan dan Trowulan adalah bagian Majapahit."
Doni hanya menganggukkan kepalanya, ia melanjutkan pengambilan gambar dan sambil mendengarkan penjelasan Pak Agus. Namun itu tidak lama, dirinya mulai merasakan kedatangan tamu tak diundang.
Ada yang menyapaku? Siapa?
Matanya mengedar ke sekeliling candi, siang yang terik tidak bisa menutupi aura hitam yang ia rasakan. Tamu tak diundang itu tidak hanya satu tapi beberapa. Kelebatan bayangan hitam dengan aura gelap seolah mengejek Doni dan menantang untuk mengejarnya.
Sial, kenapa harus disaat seperti ini? Mana banyak pula, duh kalo gini caranya bisa-bisa gue kagak bisa ngelindungi Bagas juga Ahmad!