Petualang Jagad Lelembut

Petualang Jagad Lelembut
Bab 76


Sari terus berlari menembus kawanan makhluk setengah iblis yang tengah dibabat habis oleh keempat penjaganya. Ia tidak lagi memperdulikan keberadaan Airlangga. Pikirannya hanya tertuju pada Bagas, calon imamnya.


Tunggu, aku datang Beib! Semoga belum terlambat.


Hanya sepersekian detik Sari telah sampai ditempat dimana Bagas, Ahmad, Doni dan Pak Agus berada. Matanya langsung mencari keberadaan Bagas. Ia lega setelah menemukan calon pendamping hidupnya itu masih aman berada dalam selimut pelindung.


"Syukur lah … kamu nggak apa-apa kan sayang?" tanya Sari seraya masuk menembus pelindung gaib.


"Sar, astaghfirullah …badan kamu?!" Bagas tidak menjawab pertanyaan Sari, ia justru terkejut dengan kondisi Sari yang penuh luka dan darah.


Sari hanya tersenyum dan tidak menjawab. Ia menghambur dan memeluk Bagas dengan erat. Sari tak kuasa menahan rasa itu, ia begitu takut kehilangan Bagas. Sari takut mimpinya menjadi nyata. Ia pun menangis.


"Hei, Srikandi ku kok nangis?" Bagas mengusap lembut punggung Sari, ia kembali terkejut ketika menyentuh cairan lengket berbau anyir yang keluar dari luka Sari.


Bagas melihat telapak tangannya sejenak, menatapnya tak percaya. Darah begitu banyak keluar dari luka Sari, ia tidak habis pikir Sari mampu menahannya.


"Beib, luka kamu …,"


"Diamlah, aku cuma mau peluk kamu sebentar aja Gas. Aku takut …," jawab Sari semakin mempererat pelukannya.


"Aku nggak apa-apa kok Beib, tenang aja! Doni sama pak Lingga sudah jaga aku dengan baik." ujar Bagas mencium lembut kepala Sari.


Sari masih memeluk erat Bagas selama beberapa waktu membiarkan dirinya menikmati aroma tubuh Bagas yang dirindukan. Berada di alam lelembut selama beberapa waktu membuatnya begitu merindukan Bagas.


"Mau sampai kapan pelukannya? Kamu nggak kasihan sama pak Lingga or Doni?"


Sari tersadar dan akhirnya melepaskan tangannya dari Bagas. Nyeri akibat cakaran di lengan membuatnya meringis. Sakit itu kembali terasa saat Sari menurunkan tangannya.


"Luka kamu parah banget beb?!" Bagas sangat mengkhawatirkan kondisi Sari, ia menyentuh lengan Sari perlahan.


"Nggak apa kok, ini cuma …"


"Nggak apa gimana ini dalem lho Sar!" Bagas segera merobek bagian bawah dari kemejanya dengan paksa. Ia tidak mau luka Sari terus menerus mengeluarkan darah.


"Gas, please I'm ok?!"


"No, you're not! Lihat itu, kamu bisa kehabisan darah kalo begini terus …,"


"Sar, apa ini?!" tanya Bagas sambil meraih tangan Sari yang kini bahkan tidak terlihat bekas luka sedikitpun.


"Entahlah, aku juga bingung. Setiap kali aku terluka, itu akan sembuh cepat dengan sendirinya."


Bagas membalik tubuh Sari untuk memastikan luka di punggung Sari juga telah sembuh. Matanya membelalak, tidak ada lagi luka yang mengeluarkan darah. Yang ada hanya lah pakaian bagian belakang Sari yang terkoyak.


"Sejak kapan?!" Bagas bertanya dengan penuh selidik.


"Hmm, kayaknya sejak aku mulai mencari pusaka peninggalan Minak Jinggo. Aku mulai merasa ada yang aneh. Dibilang kebal juga nggak tapi, setiap aku terluka badan aku meregenerasi dengan cepat. Aneh." jawab Sari datar mengingat hal yang baru kali ini ia rasakan.


Apa mungkin aku berubah immortal seperti layaknya Lingga dan adiknya? Nggak … itu sama sekali nggak mungkin!


"Sesuatu sudah terjadi dan mengubah sistem di badan kamu Sar. Apa kamu merasa sakit juga kalo terluka?!"


"Hhmm, iya sakit itu jelas. Tapi cuma sebentar terus luka itu sembuh perlahan dan menutup sempurna."


Bagas menatap kekasihnya iba, ia sama sekali tidak membayangkan perjuangan Sari untuk membantu pak Lingga demikian sulit dan menyakitkan.


"Sar, apa semua akan baik-baik saja?"


"Aku harap juga begitu, tolong Gas jangan jauh-jauh dari aku keadaan sangat berbahaya." pinta Sari dengan memegang lembut tangan Bagas dan berharap Bagas akan menurutinya.


"Iya, pasti itu. Kamu tenang aja kita pasti bisa selesaikan ini semua dan pulang ke rumah lagi dengan selamat. Pak penghulu sudah menanti kita bulan depan!" sahut Bagas dengan mengerlingkan satu matanya pada Sari.


Sari tertawa sejenak, membingkai wajah Bagas dengan kedua tangannya lalu menciumnya lembut,


"I love you beb, really love you now and forever." bisik Sari ditelinga Bagas.


"Me too, you'll be my lovely Sari forever."


Mereka kembali berciuman tanpa memperdulikan kekacauan di luar pelindung. Sari tidak peduli dengan Lingga yang kini tengah menghadapi Bram dan Ray.


Bagi Sari perjanjian adalah perjanjian. Lingga berjanji untuk menjaga Bagas dan yang lainnya, jadi sudah kewajiban Lingga melawan mereka sendiri.


Itu janji kamu padaku kan Lingga jadi … lakukan itu dengan cepat dan habisi mereka berdua!