
Lingga kini menghadapi Bram dan Ray, dua orang yang dulu pernah jadi kepercayaannya. Lingga menatap tajam keduanya, menanti mereka berdua menyerang. Ini hanya soal waktu.
"Nyali kalian cukup besar rupanya menghadapi aku?!" Lingga bertanya pada keduanya.
"Yah, setidaknya kita berdua bukan pengecut." sahut Bram masam.
Lingga terkekeh mendengar jawaban mantan anak buahnya itu.
"Bukan pengecut sih tapi serakah, tamak, dan kawan-kawan nya! Hanya demi uang dan kekuasaan kalian mengkhianatiku!" cela Lingga dengan sarkasnya.
Bram dan Ray saling berpandangan lalu menghembuskan nafas berat.
"Maaf soal itu kami … terlena sesaat." sesal Bram serius.
Lingga tersenyum sinis, "Terserah apa kata kamu, tapi aku paling tidak suka dikhianati!"
"Dengar, kami tahu kami tidak pantas mohon ampun pada mu tapi setidaknya bisakah beri kami kesempatan kedua?!" pinta Ray pada Lingga yang masih tidak mempercayai kata-kata mereka.
"Tolong, kami janji akan setia padamu?!" Bram ikut menyakinkan Lingga.
Tapi sayangnya Lingga tidak menyukai cara mereka. Untuknya sekali berkhianat akan ada kemungkinan untuk kembali berkhianat.
"Aku tidak sudi menerima kalian lagi!"
Lingga langsung menyerang keduanya. Pertarungan ketiga manusia immortal itu begitu dahsyat. Kekuatan mereka memang berbeda. Lingga sudah barang tentu ada diatas mereka, tapi Bram dan Ray juga tidak bisa dianggap remeh.
Dulunya mereka adalah para kesatria unggulan dari kerajaan Majapahit juga. Mereka selalu berada di garda terdepan membela Majapahit. Bram dan Ray juga merupakan ajudan khusus Patih Gajah Mada.
Pertemuan mereka dengan Lingga seolah sudah diatur oleh Yang Kuasa. Para ksatria Majapahit berkumpul dalam satu kesatuan. Seiring dengan berjalannya waktu mereka pun mengubah nama asli mereka mengikuti perkembangan jaman.
Bram dan Ray pantang menyerah, meski kemungkinan mereka memang sangat tipis. Mereka hanya ingin menunjukkan kesetiaan mereka pada Lingga dan bersungguh-sungguh kembali mengabdi padanya.
...----------------...
Sari masih dalam pelukan Bagas ketika Doni yang ditemani pak Agus mulai tersadar. Luka yang diderita Doni memang masih tampak mengeluarkan darah, tapi setidaknya dirinya kembali tersadar.
"Sar, gue juga mau dong dipeluk gitu?!" Dengan lemah Doni menyapa Sari.
Sari terkejut mendengar Doni bicara, seketika ia menoleh ke samping dan melepaskan pelukannya pada Bagas.
"Don, kamu dah sadar?!" Sari setengah berteriak, dan segera memeluk Doni erat.
"Aku dah takut banget kehilangan kamu Don! Makasih ya … makasih udah tetap hidup demi tim kita!" ujar Sari dengan meneteskan air mata kebahagiaan.
Doni mengusap punggung Sari, ia pun tersenyum. "Akhirnya gue kebagian jatah pelukan juga dari Lo! Jahat bener sih, masa kudu gue babak belur gini baru bisa peluk Lo, Sar?!"
"Ccck, udah diem! Bawel bener, udah bonyok begini masih saja bisa bercanda! Mau aku tambahin lagi luka nya?!" ujar Sari sambil menekan luka di dada Doni.
"Aaaaw … sakit Sar, jahat bener sih! Tapi kagak napa-napa dah asal jangan Lo tambahin luka di hati gue yak! Nyeri kalo itu!" Doni berkata konyol seolah tidak ada lagi masalah yang akan mereka hadapi.
"Hhhm, biasa ni si Kribo … kalo dah ada kesempatan aja langsung dah samber!" gerutu Bagas yang sedikit cemburu melihat kedekatan Sari dan Doni.
Pak Agus ikut tertawa kecil melihat mereka. Ia pun menambahkan kekonyolan Doni.
"Iya mas Bagas, mumpung belum sah masih bisa buat barengan! Mbak, saya juga mau dong dipeluk?! Kapan lagi bisa meluk bule cantik begini?!"
Bagas langsung menghadiahi pak Agus tatapan tajam, sementara Sari dan Doni hanya menatap tak percaya pada pak Agus. Tapi sejurus kemudian mereka pun tertawa bersama, membuat pak Agus kebingungan.
"Eeh, saya salah ngomong ya? Kok malah pada ketawa?!" tanyanya dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Dasar aki-aki, kagak malu sama umur! Sempet aja jadi buaya darat, pake minta peluk segala!" Bagas menggerutu dengan kesal.
"Resiko Gas, punya calon makmum yang cantiknya kek bidadari! Sabar Gas, orang sabar anunya gede?!"
Bagas melotot ke arah Doni, "Eh sorry maksudnya keberuntungannya Gas! Duh, ni mulut kagak ada remnya pake blong segala!" Doni berpura pura menampar mulutnya sendiri.
Sari tertawa geli, setidaknya hatinya sedikit lega karena apa yang ada dalam mimpinya tidak terjadi.
...----------------...
Seseorang dari kegelapan menatap kebahagian Sari, senyuman iblis mengembang di bibirnya yang dipenuhi taring tajam.
"Tertawalah sepuasmu sayang, karena sebentar lagi tawamu itu akan hilang!"
Ia menatap ke arah pengikutnya yang telah bersiap di kegelapan menanti perintah.
"Lakukan tugasmu dengan baik!"
Anggukan kepala dari pengikutnya yang bertudung hitam itu terlihat dan dalam sekejap ia menghilang.
"Aku akan membuatmu menderita Sari!"
Makhluk itu adalah Airlangga yang sengaja menebar umpan. Dari balik kegelapan ia tertawa keras membayangkan ekspresi Sari saat kehilangan satu persatu orang yang ia sayangi.
...----------------...
Ahmad ikut tergelak melihat Doni dan yang lainnya. Ia pun lega dengan kehadiran Sari dan pak Lingga. Ketakutannya pupus seketika. Ia yakin keadaan akan baik-baik saja.
"Hhhhm syukur deh lakon dah dateng, semuanya pasti aman." gumamnya lirih
Dari kejauhan Ahmad melihat sesosok wanita dengan anggun mendekati kubah. Wanita itu tersenyum pada Ahmad dan melambaikan tangannya.
Ahmad terkesiap, jantungnya berdebar kencang. Wajah wanita itu benar-benar membiusnya. Ia menanggapinya dengan senyum dan lambaian tangan seolah sedang mengucapkan, "Hai!"
Wanita cantik itu tersenyum dan memberi isyarat Ahmad untuk mengikutinya. Dengan kedipan sebelah mata yang lentik, Ahmad terhipnotis. Ia melangkahkan kakinya keluar dari pelindung gaib.
Di matanya hanya ada wajah cantik nan menggoda itu. Tujuh langkah telah ia lewati dan ia melupakan teman-temannya. Ia lupa bahwa musuh mengincarnya, ia lupa bahwa dirinya bisa mati konyol jika jauh dari Sari.
"Ra, gue kangen sama Lo!"