
Kang Pur dan warga desa lain mengadakan rapat dengan para tetua adat disalah satu rumah warga. Sari dan timnya beserta pak Lingga dan juga Saka berpamitan untuk kembali ke homestay.
Kang Pur dan pak Lingga sebelumnya sempat berdiskusi tentang liputan selanjutnya. Matinya beberapa hewan ternak di desa membuat semua rencana Kang Pur berantakan. Urutan acara yang tadinya akan dijadikan media promosi desa terpaksa dirubah.
Setelah berdiskusi, mereka sepakat untuk melanjutkan liputan lusa bersamaan dengan ritual bersih desa. Pak Lingga beserta tim Journey to the East akhirnya kembali ke homestay untuk beristirahat.
...----------------...
"Sar, timnya Atikah kemana ya?" tanya Ahmad penasaran, ia celingukan mencari keberadaan Atikah dan yang lainnya sebelum masuk ke dalam mobil mereka.
Sari, Doni dan Bagas saling bertatapan. Doni memberi isyarat pada Sari agar memberitahukan perihal Atikah pada Ahmad tapi Sari menggeleng samar.
"Entah, mungkin mereka lagi jalan-jalan sendiri kali." Sari menjawab dengan mata yang masih beradu dengan Doni.
"Heran, sama-sama satu tim kok lain perlakuan begitu?! Gimana sih pak Lingga, not fair!" sungut Ahmad.
"Dah, kagak usah protes Mad lagian mereka kan tim pendukung si Lingga. Yang bayar dia, yang jadi bos dia juga, kagak usah usil!" Doni menimpali.
"Iya juga sih cuma … kok enakan mereka!"
"Biarlah Mad, yang penting sekarang tim kita solid dulu aja. Timnya pak Lingga kan emang cuma mantau aja, ibarat kata mereka di timur kita di barat." ujar Doni lagi.
"Sek, lha kok koyok rombongan kera sakti meh ambil kitab suci ke barat to dewe ki?" Ahmad berkata dengan ekspresi konyolnya ke arah Doni
"Iya, emang gue kera saktinya Lo bagian Cu Pat Kay!" Doni tertawa melihat wajah Ahmad yang langsung berubah seperti pakaian kusut.
"Sialan Lo! Ngenes dong nasib gue Don!"
"Udah berhenti, sesama jones dilarang saling mengejek!" Sari melerai mereka berdua.
"Eeh, apaan tuh jones Sar?" Ahmad bertanya dengan polosnya.
"Jomblo ngenes!" jawab Sari tertawa.
"Hhmm, pake segala dijelasin jones Sar … Sar, tambah ngenes ngene iki?!" umpat Ahmad yang dibarengi tawa dari Bagas.
"Lagian Lo berdua kenapa juga sih berantem mulu kagak capek apa dari melek sampe mau tidur kagak pernah akur?! Gue siram juga nih ma air biar bubar!" Bagas ikut menimpali saking gemasnya melihat tingkah mereka.
"Kalian debat apa ini? Yuk, kita balik ke homestay. Nggak perlu nungguin Atikah sama.yang lainnya!" kata pak Lingga yang tiba-tiba saja muncul di belakang mereka berempat.
"Eh, bapak … tau aja ni kita lagi ngomongin mereka! Iya deh ni kita mo masuk mobil." Ahmad menjawab.
"Kalian nggak perlu nunggu Rara, tadi saya lihat dia pergi dijemput Rey dan Bram." Pak Lingga kembali memberitahukan informasi pada Sari dan yang lainnya tentang Rara.
"Eeh, pergi sama Rey? Aneh!" gumam Sari.
Pak Lingga menatap Sari dengan tajam, kemudian ia berlalu meninggalkan mereka yang masih termangu dengan perkataan pak Lingga.
"Rara kemana? Gue nggak salah denger kan?" tanya Ahmad pada Doni.
"Lo gak salah denger Mad, Rara … udah bukan bagian dari tim kita lagi?!" jawab Doni sedih.
"Maksud Lo gimana sih Don, kagak paham gue?!"
Doni menatap Ahmad lalu menepuk bahunya ringan, "Gue jelasin nanti, sekarang kita balik dulu! Gue capek dari kemarin kagak istirahat?!"
Mereka akhirnya pergi meninggalkan kawasan desa dan mengikuti mobil pak Lingga. Mobil mereka beriringan menuju homestay. Wajah-wajah lelah nampak jelas, Sari memejamkan matanya, mengistirahatkan tubuhnya sejenak dari kepenatan.
...----------------...
Sari tenggelam dalam mimpinya. Kelebatan bayangan kejadian semalam dan pagi tadi silih berganti hadir dalam ingatannya bagaikan slide film hitam putih.
Keringat dingin membasahi tubuh Sari, sesekali keningnya mengerut dan nafasnya mulai berat.
Sari bingung melihatnya, kabut tipis itu bahkan menyelimuti dirinya. Rasa sesak yang menekan dada membuatnya berusaha keluar dari kabut itu. Suasana seketika menjadi gelap.
Sari berjalan perlahan, berusaha melihat dalam gelap. Tiba-tiba saja terdengar suara jeritan dan teriakan. Itu suara Rara dan Ahmad.
Apa yang terjadi? Dimana mereka? Pake segala ada asap sih, kebakaran apa gimana ini? Kayak film-film horor aja pake asep! Gerutu Sari dalam tidurnya.
Suara teriakan yang memilukan kembali terdengar dan kali ini seseorang menabrak dirinya dalam gelap.
"Aah, tolong … tolong aku Sari!"
Sari berusaha menajamkan matanya, ia terkejut saat mendapati Ahmad yang jatuh terduduk dengan nafas tersengal. Darah juga membasahi pakaiannya.
"Ahmad! Kamu kenapa ini?! Dimana yang lain?!" tanya Sari dengan panik.
Ahmad tidak menjawab ia sangat lemah, tangannya hanya menunjuk ke arah depan.
"Dia … dia, pembunuh … hati-hati Sar …,"
"Siapa … siapa membunuh siapa? Yang jelas Mad, kamu kenapa jadi begini?"
"Dia … " belum selesai Ahmad berkata, ia telah pergi terkulai lemas dalam dekapan tangan Sari
"Mad … Mad, bangun! Ahmad!" Sari menangis tak kuasa menahan kesedihan melihat Ahmad meregang nyawa di depannya.
"Bagas, mana Bagas … aku harus menemukan Bagas?!" Sari meletakkan kepala Ahmad perlahan di tanah lalu bergegas berlari mencari keberadaan kekasih hatinya.
"Lindungi Bagas, aku mohon ya Allah … semoga ini cuma mimpi buruk, ini mimpi buruk, ini mimpi buruk …," Sari terus mengucapkan kata-kata itu berulang kali, mencoba menenangkan dirinya.
Sari mencari Bagas ke segala penjuru, tapi ia tidak juga menemukannya. Ia bingung kemana harus mencari dalam gelap. Hingga akhirnya Sari berhenti karena lelah berlarian.
"Bagas … Bagas, dimana kamu?!" Sari berteriak memanggil nama Bagas.
Sari putus asa dan lemas, ia berusaha mengatur nafasnya. Sudut matanya menangkap pergerakan lambat dari seseorang, ia memperhatikan dalam gelap.
"Bagas!" Sari bergegas menghampiri sosok dalam gelap itu, dan benar saja itu Bagas.
"Gas, kamu nggak apa-apa?!" Sari panik dan memeluk Bagas, bau anyir darah tercium dari tubuhnya. Sari mengurai pelukannya, dengan was-was ia memperhatikan kondisi Bagas.
Tangan Sari terasa basah, ia menatap cairan lengket dengan bau besi menyengat. Itu darah.
"Bagas … bilang ke aku siapa pelakunya Gas, siapa?!" tanya Sari dengan deraian air mata.
Bagas menatapnya sendu, ia tidak menjawab dan hanya tersenyum. "Sar, aku sayang kamu … jaga diri kamu baik-baik ya, maaf … maafin aku Sar …,"
Tiba-tiba saja suasana berubah menjadi lebih terang, Sari mendengar suara tawa yang menggema. Ia menoleh ke arah asal suara, dan mendapati Airlangga yang menyeringai kepadanya.
"Airlangga …," Sari menahan amarahnya.
Airlangga bahkan tidak menjawab, ia menatap Bagas dengan tajam sejurus kemudian ia menyerang Bagas dengan kecepatan penuh. Bagas yang melihat hal itu segera mendorong Sari agar menjauh darinya.
Airlangga dengan kekuatannya menerjang Bagas tanpa ampun, mengalirkan darahnya ke bumi dan menghabisi nyawa Bagas. Sari histeris, ia berlari mendekati Bagas yang tergeletak tak bernyawa tapi bayangan Bagas semakin jauh dan jauh, seolah tidak bisa ia raih.
Yang Sari ingat hanya tatapan mata Bagas terakhir kalinya sebelum nyawa terlepas dari raganya. Wajah Ayu Sari yang terlihat jelas membayang di matanya untuk terakhir kalinya.
Airmatanya menetes menatap Sari yang berlari dengan berderai airmata ke arahnya.
"Maaf … Sari …," hanya itu kata-kata terakhir yang terngiang di telinga Sari. Dan tubuh Bagas perlahan menghilang ditelan kabut putih yang semakin tebal menyelimuti tempat itu.
"Bagas!"