
Sari kembali berkumpul ke rumah peristirahatan yang disediakan Kang Pur.
Doni, Ahmad dan Bagas menantinya dengan harap-harap cemas.
"Kamu dari mana Sar? Kita sampe bingung lho nyariin kamu dari tadi?" Bagas menginterogasi dengan tangan dilipat di depan dada.
"Ngikutin Rara tadi?" Sari mengambil botol mineral di tasnya dan segera meminumnya.
Berada di dekat pak Lingga tadi serasa menguras banyak energi dan membuatnya dehidrasi. Bagas mendekati Sari dan berbisik, "Serius ngikutin Rara? Dari tadi dia disini lho Sar?!"
Sari tersedak air mineral yang diminumnya, ia terkejut dengan perkataan Bagas. "Jangan bercanda deh, nggak lucu?!"
"Siapa yang bercanda, Rara dari tadi ada disini Sar! Kamu yang menghilang bareng pak Lingga?!"
Sari menatap tidak percaya, "Dimana dia?
Bagas menunjukkan pada Sari dimana Rara berada. Ia berada bersama Atikah dan Rey, mereka sedang bersenda gurau seolah tidak ada apa pun yang terjadi. Sari mengernyit, ia bingung jika Rara ada disini sejak tadi lalu siapa yang tadi Sari ikuti?
Sejumlah pertanyaan bergelayut dalam pikirannya, "Mungkinkah … nggak mungkin kan Rara menembus dimensi waktu?" gumamnya.
"Mereka memanipulasi pikiran Sari, lihat dengan jelas siapa yang ada disana?" Patih Bimasena berbisik di telinga Sari memberikan petunjuk.
Sari menajamkan penglihatan nya perlahan ketiga orang yang menyerupai Rara, Atikah dan Rey berubah menunjukkan wujud aslinya. Ketiga orang berwajah pucat dengan gigi tajam tampak berinteraksi dan bersikap seolah menjadi Rara dan yang lainnya.
Sari tersenyum sinis pada ketiganya, "Bagus … Bimasena, apa yang mereka rencanakan sebenarnya?"
"Sepertinya, mereka hendak menyerang Lingga. Mereka menginginkan kekuatannya, dan juga pusaka itu?"
"Hhm, pusaka lagi! Sebenarnya apa sih sih yang si Lingga itu cari?!"
"Sebuah pusaka unik milik seseorang yang mengkhianati kerajaan Majapahit pada zamannya. Konon menurut ramalan hanya pusaka itu yang akan mengakhiri keabadian Lingga."
"Ccck, kamu kenapa nggak bilang dari kemarin tentang pusaka itu! Bikin repot aja sih, emang nggak bisa apa ambil sendiri pusaka itu! Dia kan sakti bahkan lebih sakti dari orang manapun?!"
"Pusaka itu hanya bisa diambil oleh seorang wanita dengan ciri khusus, dan itu telah diramalkan ratusan tahun yang lalu."
"Lama bener ratusan tahun, trus siapa wanita yang dimaksud dalam ramalan?!"
"Kamu ... wanita dalam ramalan itu disebutkan memiliki empat penjaga dari leluhur. Bertanding tanpa mati, dan bisa melewati batas dua dimensi."
Sari tergelak, "Bimasena, wanita dengan ciri seperti itu banyak kali! Kenapa harus saya yang dianggap menjadi wanita dalam ramalan."
"Sekali lagi kamu menertawakan takdir Sari, ingat apa yang terjadi pada pamanmu! Jangan sepelekan ramalan yang telah berusia ratusan tahun."
Tawa Sari terhenti, dan wajahnya berubah tegang. "Kamu kalo bercanda nggak lucu Bimasena bikin ilfeel!"
Bimasena terdiam sejenak, ia tahu sifat Sari. Lebih baik untuk saat ini ia mundur dan menunggu Sari menyadari takdirnya. Ia dan ketiga penjaga lainnya hanya perlu menjaga Sari dan membantunya menyelesaikan misi yang juga bagian dari takdir para penjaganya. Membantu Lingga menuntaskan kutukan menyedihkan.
Sari mengakhiri pembicaraannya dengan Mahapatih Bimasena. Ia masih sulit menerima informasi dari Bimasena tapi juga tidak ingin menyepelekan ramalan yang konon telah berusia ratusan tahun.
"Jika benar yang dikatakan Bimasena dan juga pak Lingga itu berarti liputan kali ini sangat berat."
Bagas menyadarkan Sari dari lamunannya,"Jangan traveling, disini serem lho Sar?!"
"Siapa yang traveling, lagi mikir dikit aja." Sari langsung menjawab
"Kirain, biasanya kan kamu gitu suka jalan-jalan tanpa sadar."
Sari dan tersenyum dan menatap Bagas, lelaki di hadapannya itu memang selalu bisa menenangkan hatinya.
"Kamu ini ... emang aku bisa begitu, sakti bener saya." elaknya.
"Nggak, kamu nggak bisa gitu … kamu cuma bisa berjalan dihati aku, bukan ke dimensi lain bukan juga ke hati orang."
"Uhuk … uhuk, pacaran didepan jones itu bahaya! Bikin penyakit hati!" Celetuk Doni yang melihat keduanya bermesraan.
"Don, dilarang mengiri?!" sahut Sari.
"Kagak, gue mau nganan aja dah. Biar lempeng pikiran gue! Nasib, nasib …"
"Kayak pikiran Lo lempeng aja Don, biasanya juga banyak kelokan?!" Bagas menimpali.
"Mending Gas banyak kelokan daripada banyak tikungan?! Habis Lo gue tikung mau?!"
"Awas aja kalo berani!"
"Iiiih atuuut … kabur dah gue ketimbang ditimpuk kamera, bisa tambah miring otak gue!"
Doni hendak beranjak pergi ketika Sari menahan tangannya, "Don, hati-hati! Jangan tertipu sama mereka!"
Doni melihat ke arah yang dimaksud Sari. Ia paham dan mengangguk. Doni bergegas pergi untuk melakukan sesuatu. Ia harus berjaga untuk melindungi rekan satu timnya. Hal yang seharusnya ia lakukan sebelumnya. Dan semoga itu belum terlambat.
Sari kembali melirik ke arah ketiga orang yang berhasil memanipulasi pikiran orang disekitarnya, aura aneh yang berbeda dari biasanya menyapa Sari.
Mereka sadar kehadirannya telah diketahui oleh Sari, ketiganya segera meninggalkan lokasi menuju ke suatu tempat di kegelapan malam.
****
Ditempat lain, Atikah membawa Rara ke sebuah rumah yang jauh dari pemukiman warga. Rumah itu diselimuti oleh pagar gaib yang diciptakan seseorang dengan kekuatan tinggi.
"Ra, waktunya menyempurnakan perubahanmu." Atikah membimbing Rara pada seseorang yang sedang terduduk di kursi dalam gelap.
Wajahnya tidak terlihat, tersembunyi dalam gelap. Hanya mulut yang menyeringai lebar dan menampilkan deretan gigi tajam.
"Kemarilah anak manis, biar kau rasakan manisnya keabadian."
Rara berjalan dengan sedikit takut ke arah seseorang yang misterius itu. Hanya dalam sekejap mata, Rara menghilang dalam gelap dan hanya menyisakan suara jeritan yang menyakitkan. Suara geraman seperti binatang buas dan keributan kecil terdengar dari kegelapan.
Entah apa yang terjadi pada Rara di kegelapan tapi yang jelas seseorang tengah mengubahnya menjadi makhluk mengerikan pemburu darah dan keabadian.
"Bertambah lagi kekuatan kita Rey, menghabisi Lingga tinggal menunggu waktu yang tepat." Atikah mengembangkan senyuman iblis.
"Tetap waspada, Lingga bisa saja mengetahui kita berkhianat. Jangan gegabah sebelum waktunya menyerang."
...****************...
...Sakathahing upas tawa sami ...
...Lara raga waluya nirmala ...
...Tulak tanggul kang panggawe ...
...Duduk padha kawangsul ...
...Ketawuran sagunging sikir ...
...Ngadam makdum sadaya ...
...Datanpa pangrungu ...
...Pangucap lawan pangrasa ...
...Myang paningal kang sedya tumeka napai Pangreksaning pra ngaluhur....
Kidung Jatimulya ; Mangkunegoro IV