
Lita setengah menjerit ketika Lingga terlempar. Dirinya tidak terima Airlangga bersikap kasar pada Lingga.
"Airlangga, hentikan!"
Lita hampir saja mendekat ketika Saka menarik tangannya dengan kuat.
"Kak, jangan ikut campur! Tetap diam disini, ini perintah Tuan Lingga!" cegahnya seraya melindungi Lita, wanita yang juga jadi pujaan hatinya.
"Tapi dia dalam bahaya Saka!" ujar Lita khawatir, ia terus berusaha mendekati Lingga, tapi Saka tidak membiarkannya.
"Kak, tolong ini perintah! Tuan Lingga nggak ingin kakak terluka, lagian kenapa kakak bantu Sari? Kamu seharusnya aman disisi Airlangga!"
Lita berhenti memberontak, ia menatap tajam Saka. "Aman katamu? Sejak kapan Airlangga memberiku perlindungan? Aku hanyalah boneka mainannya! Dia bahkan menipuku dengan mengubahku menjadi monster!"
Wajah Lita seketika berubah menyeramkan saat berteriak pada Saka, membuat Saka sedikit berjingkat mundur karena terkejut.
"Tapi Tuan Lingga memerintahkan saya menjaga kakak. Tuan ingin kakak …,"
"Tetap hidup dan menderita seumur hidupku? Aku bahkan sudah hidup lebih lama dari yang lain Saka! Aku ingin mati bersama kekasihku, Lingga!"
"Tapi kak, aku … apa kamu tidak memikirkan perasaanku juga? Aku juga mencintaimu kak, aku … aku akan menjagamu menggantikan Tuan!" Saka berjanji dan berharap pada Lita.
Lita menatap iba pada Saka, ia tahu perasaan Saka sejak dulu. Bahkan ketika ia memergoki Lita yang sedang asyik minum darah manusia Saka tidak pernah mundur untuk mencintainya. Tapi sayangnya hati Lita hanya untuk Lingga selamanya.
"Dengar Saka, aku dan kamu tidak akan pernah bersatu. Kita berbeda alam, kamu murni manusia sementara aku entah jenis apa aku ini? Manusia bukan iblis pun bukan?" kata Lita dengan mata kosong.
"Biarkan aku pergi bersama kekasihku! Biarkan aku pulang. Aku juga lelah, ini adalah kesempatan kami bersama." Lita meminta pengertian Saka.
Saka menatap Lita dalam, wanita cantik yang ada di depannya itu tidak mengerikan baginya meski wajahnya sudah sangat hancur dan tangannya hanya tersisa satu. Cinta memang buta dan menyakitkan.
"Baiklah jika itu mau kakak. Jika kakak bahagia, aku juga akan bahagia."
"Terimakasih sudah memahami ku Saka, aku yakin kau akan menemukan manusia baik sebagai pengganti diriku," sahut Lita dengan senyuman.
Setidaknya ia bisa pergi meninggalkan Saka tanpa ada beban lagi. Lita bersiap menghadapi kematiannya bersama Lingga.
"Sayang, aku akan bersamamu. Menebus semua penderitaan kita, aku … akan ada disisimu hingga kematian menjemput!"
...----------------...
Sari segera berlari mengejar Lingga, namun Airlangga menghadangnya. Mereka berdua terlibat pertarungan sengit. Airlangga tidak mengijinkan Sari sedikitpun untuk mendekati Lingga. Ia terus menghalangi dan menyerang Sari.
"Lebih baik kau melawanku saja Sar, kita sama-sama memiliki kekuatan abadi yang sebanding."
Airlangga menahan serangan Sari, dan mengunci kedua tangannya. Mata Sari berkilat merah, Sari tidak menjawab, ia mendorong Airlangga sekuat tenaga. Membuat Airlangga mundur beberapa langkah.
Sari sedikit memutar tangannya membuat celah agar bisa bergerak memutar tubuhnya untuk membelakangi Airlangga. Dan dengan cepat memindahkan beban tubuh Airlangga lalu menarik dan membantingnya keras kedepan.
Doni hendak mengejar Lingga ketika Bram dan Rey mencegatnya. Dua immortal lawan satu manusia, ini tidak akan berjalan mulus. Sari melirik ke arah Doni, ia sadar Doni tidak akan sanggup melawan Bram dan Rey.
"Mahesa, Kandra! Cepat bantu Doni!" perintah Sari sambil terus memukul dan menendang Airlangga.
Dibantu Mahesa dan Kandra Doni menghadapi kedua anak buah Lingga. Mereka menjelma menjadi maung dan membantu Doni. Keris leluhur Doni mengeluarkan aura mematikan.
Bram Dan Rey meringis merasakan sabetan keris pusaka Doni. Belum lagi serangan kedua maung secara bergantian. Berkali-kali gigitan dan cakaran mendarat di tubuh mereka.
Menjadi immortal tidaklah mudah, keduanya harus merasakan sakit luar biasa tapi mereka tidak bisa mati, hanya bisa bertahan meskipun darah sudah membanjiri tubuh mereka.
"Menyerahlah dan berhenti melawan!" Doni berkata dengan iba melihat kondisi mereka.
Nafas Doni masih tersengal, dan dia harus mengatur energi yang hampir habis melawan kedua immortal itu. Bram dan Rey saling berpandangan, perjanjian mereka pada Lingga adalah kontrak darah. Sampai mati mereka harus bertahan melindungi Lingga.
Mereka mengangguk lalu mengubah diri mereka menjadi iblis. Tubuh mereka berdua berubah. Cakar tajam menghiasi kuku kaki dan tangan keduanya, tubuh mereka menjulang tinggi menjadi satu setengah kalinya.
Gigi tajam menghiasi mulut mereka yang lebar, dengan sayap hitam yang membentang diantara kedua lengannya. Kulit mereka berubah semakin pucat. Dengan mata merah menyala.
Doni terkejut. "Mampus gue Sar!"
Sari yang terus mengawasi Doni sudah bisa memperkirakan hal itu.
"Gawat, aku nggak mau kehilangan orang lagi!"
Sari mengeluarkan seluruh kekuatannya, ia menghempaskan Airlangga dengan tenaga dalamnya hingga Airlangga terpental jauh menabrak pintu kayu besar dengan keras.
Sebuah bisikan terdengar ditelinga Sari untuk menggunakan pedang Sengkayana. Matanya kembali berkilat kemerahan, Sari cukup mengangkat tangan kanannya ke arah pedang Sengkayana dan pedang itu seolah mengerti dan langsung terbang cepat ke arah Sari.
Lonjakan energi kemerahan menyelimuti Sari. Kekuatannya bertambah berkali lipat, pedang Sengkayana memancarkan warna kemerahan yang begitu terang.
"Don, menyingkir! Mahesa, Kandra …jaga Doni dengan nyawa kalian!" Sari menatap tajam ke arah kedua penjaganya.
Kandra dan Mahesa menunduk tanda mengerti dan langsung membawa Doni menyingkir.
"Gila, merinding gue liat kekuatan Lo!" gumam Doni selepas menjauh.
Sari menghadapi dua iblis besar di depannya, ia tersenyum dingin.
"Habislah kalian berdua, pergilah kembali ke neraka!"
Sari membuat pijakan dan melompat tinggi, dengan sekali tebas dua kepala langsung terpenggal sempurna. Bram dan Rey seperti terpaku di tempatnya berdiri karena aura pedang yang sangat dahsyat itu seperti membelenggu.
Mereka tidak bisa menghindar sedikitpun ketika pedang Sengkayana berkelebat di antara tubuh dan kepala.
Seringai kematian Sari tercetak bengis, meninggalkan Bram dan Rey yang mulai melebur jadi abu di belakangnya. Langkahnya pasti mengejar Lingga yang memang sudah menunggunya.