
Sari dan keempat penjaganya menyambut serangan puluhan makhluk setengah iblis itu.
Keempat penjaga Sari sesekali berubah bentuk ke wujud asal dan menerkam beberapa lawan sekaligus. Mengoyak, mencabik, dan melemparkan makhluk-makhluk itu dengan mudahnya.
Sari langsung mengejar Airlangga yang dengan angkuh masih berdiri di tempatnya semula. Beberapa pengikut Airlangga menghalangi Sari mendekat, menyerang Sari bergantian.
Sari membalas serangan dengan pusaka kesayangan miliknya. Cahaya kebiruan yang indah menari nari bersama gerakan Sari yang anggun.
Sesekali Sari melompat tinggi, melecutkan energi kebiruan ke arah beberapa lawannya, menarik tubuh mereka dengan mudah ke atas dan membantingnya seketika ke tanah dengan keras. Tidak ada yang bisa selamat dari serangan balik Sari.
"Geen genade voor degenen onder jullie die mijn vrienden storen!"
(Tidak ada ampun bagi kalian yang mengganggu temanku!)
Cahaya kebiruan indah menyelimuti Sari dan kujangnya membuat gentar siapapun yang melihatnya. Sari kembali menjelma menjadi Dewi Kematian yang tak terkalahkan.
Sari melirik sejenak ke arah Bagas dan yang lainnya berada. Pak Lingga tengah menjaga mereka dari serangan beberapa makhluk jejadian juga. Mereka tampak berusaha merusak pelindung dengan kekuatannya.
"Apa semua bisa terkendali pak Lingga?" Sari bertanya dengan telepati nya.
"Jangan meremehkan kekuatan saya Sar, mereka bukan lawan saya?!" jawab Pak Lingga dengan senyuman tipis.
Sari melihat keempat penjaganya, "Sepertinya mereka juga bisa mengatasi makhluk jelek ini." gumamnya.
Sari mencari keberadaan Airlangga, pria angkuh yang menjadi sumber kekacauan semua ini. Tak lama matanya pun melihat sosok yang ia cari sedang menatapnya tajam dengan senyuman iblis.
"Waaah… senyuman mu indah sekali Airlangga!" ejek Sari sambil berjalan mendekati Airlangga.
Sesekali ia harus melayani makhluk yang kembali sengaja menghalangi jalannya. Tanpa harus melihat Sari hanya sedikit melayangkan pukulan ke rahang lawan dan menusukkan kujangnya. Membakar tubuh makhluk itu dari dalam dan mengubahnya menjadi abu.
"Rupanya kamu sudah belajar banyak Sar, aku bisa melihat dirimu begitu berbeda dibanding saat kita bertemu pertama dulu."
"Saya belajar dengan cepat!"
Sari melesat menyerang Airlangga, menghunuskan kujangnya ke tubuh Airlangga tapi dengan sigap Airlangga menghindar.
Tangan Airlangga menangkis kujang, membelit tangan Sari memutar dan menariknya hingga jarak keduanya berdekatan.
"Aku masih membuka peluang itu Sari, pikirkan lagi kita bisa bersama menguasai dunia. Kau dan aku!"
"Sayang sekali tapi aku sudah ada janji di depan penghulu bulan depan!"
Airlangga tersenyum, "Aku bisa membatalkannya. Jangankan penghulu yang punya KUA bisa saya taklukkan!"
Sari tertawa, "Lucu sih tapi garing! Sayangnya saya suka lelaki yang lebih muda bukan aki-aki seperti kamu!"
Sari memukul mundur Airlangga agar menjauh darinya. Sari jengah harus berdekatan dengan lelaki ratusan tahun tapi masih awet muda dan tampan, membuat hatinya agak sedikit tergoda.
Kenapa dimana mana wajah tampan itu bikin bencana sih?!
Airlangga ganti menyerang Sari, melemparkan bola energi kemerahan berukuran sedang secara bertubi-tubi. Sari berusaha menghindari serangan Airlangga, beberapa kali bola api itu nyaris membakar kulitnya.
"Hanya itu kemampuanmu!" tanya Sari dengan senyum sinis saat Airlangga berhenti menyerang.
Airlangga tersenyum penuh makna, "Aku hanya ingin memastikan kekuatan barumu Sar! Dan juga … mengalihkan perhatian dari mereka."
Seringai Airlangga licik membuat Sari seketika membagi perhatiannya. Ia spontan menoleh ke arah Bagas berada. Pak Lingga masih disibukkan dengan menghadapi beberapa makhluk yang menyerangnya.
"Apa kau yakin dengan penglihatanmu?" Airlangga membaca pikiran Sari.
Sari beralih menatap Airlangga, ia bersiap kembali menyerang Airlangga.
"Aku percaya dengan kakakmu itu Airlangga, dia akan menepati janjinya melindungi mereka!"
Airlangga kembali mengelak, serangan Sari selalu bisa ia hindari.
"Benarkah itu? Apa dia lupa menyebutkan bagian pertukaran jiwa?"
Sari mulai terpengaruh, tapi ia tetap menyerang Airlangga berusaha melukai tubuh lelaki ratusan abad itu dengan kujangnya. Airlangga kembali memprovokasi Sari.
"Kau ditipu mentah-mentah Sari, sekarang lihatlah apa yang akan aku lakukan padamu!"
Airlangga melompat ke belakang beberapa meter, ia merubah dirinya menjadi sosok menyeramkan. Tubuhnya berubah menjadi dua kali lipat lebih tinggi dan besar.
Taring tajam menghiasi wajahnya, matanya berkilat merah dan berubah seperti layaknya hewan buas. Cakar tajam dan panjang menghiasi kaki dan tangannya. Sayap lebar membentang di kedua tangannya, kibasan sayapnya membuat pusaran angin kecil yang cukup merepotkan Sari.
Debu yang beterbangan membuat pandangan Sari terhalang, ia mencoba mencari keberadaan Airlangga. Gelapnya malam dan cahaya yang minim membuatnya sedikit kesulitan.
"Konsentrasi Sar, racun yang ditanamkan Lingga dan adiknya telah memberimu kekuatan baru. Gunakan mata tak biasa milikmu!" Bimasena kembali berbisik.
Mata Sari seketika berkilat kemerahan. Kini ia mampu melihat dalam gelap seterang siang hanya bedanya cahaya dominan yang terlihat berwarna kemerahan.
Airlangga mendekati dengan cepat berusaha melukai Sari dengan cakarnya. Sari berguling menghindari Airlangga yang terbang rendah dengan cakar setajam pedang.
"Untung aku batal jatuh cinta padanya, label tampan untukmu terpaksa aku batalkan Airlangga!"
Sari bersiaga menghadapi Airlangga yang kembali datang. Kujangnya bersiap melecutkan cambuk energi kebiruan saat sebuah suara dengan lantang memanggilnya.
"Sar … tolong!"
"Bagas?!" Sari lengah, hatinya mendadak gelisah.
Memorinya kembali teringat pada mimpinya. Sari melupakan lawan besar yang sedang menuju ke arahnya dengan cepat.
"Bagas, apa sesuatu terjadi?!" gumamnya resah.
Airlangga tersenyum, dengan cepat cakarnya dilayangkan tepat di punggung Sari membuat Sari jatuh dengan keras ke tanah.
"Sial! Apa ini triknya!" dengus Sari kesal
"Kamu curang Airlangga!" seru Sari seraya berdiri.
"Aku tidak berbuat curang, kau yang lengah!"
Airlangga kembali terbang rendah dengan kecepatan tinggi dan kembali berhasil melukai lengan atas Sari. Luka terbuka memanjang tampak jelas terlihat. Sari mengaduh kesakitan. Tangannya bahkan bergetar menahan sakit.
"Sari …," suara panggilan itu kembali terdengar.
Sari terkesiap, ia yakin itu Bagas sesuai dengan mimpinya. Sari merubah tujuannya, ia berlari dengan susah payah menahan sakit. Ia harus menyelamatkan Bagas.
Bagas … aku yakin itu Bagas, aku harus pergi! Masa bodoh dengan Airlangga!