
Didepan Sari kini sudah bukan lagi Rara yang dulu ia kenal. Rara yang lugu, selalu manis, bicara takut-takut, dan selalu menjadi penengah jika mereka sedang berdebat.
Rara yang dulu selalu menutupi wajah ayunya dengan kacamata minus. Rara yang akan dengan suka rela, datang ke kontrakan Sari jika Sari kesepian. Rara yang selalu menyenangkan hingga Sari betah berjam-jam mengobrol dengannya.
Begitu banyak kenangan manis dalam memori Sari tentang Rara. Meski mereka berteman belum lama tapi Rara bagaikan saudara perempuannya sendiri.
Rara yang ada dihadapan Sari sungguh berbeda, dia lebih dewasa, cantik, tapi juga menyeramkan. Rambutnya terurai sempurna menampakkan keindahan mahkotanya yang memang selalu Rara sembunyikan dengan menggelungnya ke atas.
Mata indah Rara yang dulu berlensa mata hitam berubah menjadi kemerahan tanpa kacamata yang selalu lekat di wajahnya. Wajahnya pucat sekali seperti tanpa darah, dan yang sangat mencolok dua buah taring tajam membuat diantara barisan gigi putihnya.
Rara bergerak cepat, berlari ke arah Sari dan menyerang dengan belati nya. Bagi Rara, Sari tidak berarti lagi untuknya. Sari menangkis belati Rara dengan kujangnya. Suara benturan kedua pusaka itu terdengar nyaring di telinga.
"Ra, please jangan paksa aku untuk melakukan lebih! Lepasin Ahmad Ra?!"
"Kamu tuli?! Aku sudah bilang kan tadi, kalahin aku dulu baru Ahmad aku lepas!"
Rara mendorong Sari kuat dan menyarangkan pukulan di perut Sari hingga ia terhuyung mundur.
Kekuatan Rara luar biasa, dia bukan lagi Rara yang aku kenal …,
Sari memegang perutnya yang sedikit nyeri. Rara kembali menyerang Sari, tapi kali ini Sari berhasil menahan dan menarik tangan Rara agar mendekat padanya.
"Ra, masih ada kesempatan untuk berubah. Ada penawar untuk mengobati kamu!"
"Penawar? Aku lebih suka dengan keadaanku sekarang Sar, aku lebih bebas, lebih segar dan punya kekuatan tanpa batas!" sahut Rara menatap tajam Sari dalam jarak dekat.
Sari seketika masuk ke dalam memori Rara, ia melihat dengan jelas bagaimana Airlangga mengubahnya menjadi monster haus darah. Rara menjadi sekutu Airlangga dan boneka untuk memancing Sari.
"Tidak ada kekuatan tanpa batas didunia ini Ra, semua memiliki batasan. Kamu udah tertipu sama Airlangga!"
"Huh, itu menurutmu! Aku yang merasakannya dan aku … menikmatinya!"
Rara menyeringai menampakkan gigi tajamnya yang baru. Seolah ingin berdemo menunjukkan kemampuan barunya pada Sari, Rara menjulurkan lidahnya yang kini bahkan telah berubah seperti ular dengan cabang pada ujungnya.
Sari membelalakkan mata tak percaya, Rara telah benar-benar berubah. Sebelum lidah panjang Rara menyentuh kulitnya Sari mendorongnya kuat agar menjauhinya.
"Rara … dia berubah seperti yang aku lihat. Sepertinya memang tidak ada lagi peluang untuknya sembuh, dia telah menyatu dengan kekuatan iblis." gumamnya.
Rara menggeliatkan tubuhnya, ia seperti hendak melakukan sesuatu dengan meregangkan tangan, kaki dan kepalanya. Perlahan tapi pasti wajah Rara berubah mengerikan.
Mulutnya menjadi semakin lebar dengan bibir tertarik panjang kesamping seolah membelah wajahnya menjadi dua. Gigi tajam tampak menghiasi mulut lebarnya membuat Sari bergidik ngeri membayangkan gigi itu melukai kulitnya.
Mata Rara pun semakin besar dan lebar, tulang pipinya ikut naik dan menonjol, wajah ayu Rara kini entah pergi kemana.
Sayap hitam lebar dan panjang yang membentang diantara kedua tangannya, kuku dan cakar hitam panjang pada kedua tangan dan kakinya semakin merubah Rara sempurna menjadi iblis.
Sari mundur beberapa langkah, ia menatap Rara iba. Sahabatnya benar-benar menyerahkan dirinya pada kekuasaan hitam.
"Sar!"
Terdengar suara Ahmad memanggilnya. Sari mencari sumber suara itu dan mendapati Ahmad yang sedang berlari ke arahnya.
"Mad, syukurlah kamu selamat!" teriak Sari menghampiri Ahmad.
"Sar, untung gue bisa nemuin jalan! Ini dimana sih kok gelap bener?! Udah mau magrib yak, perasaan tadi kan udah malem kenapa Maghrib lagi ini?!"
Ahmad celingukan bingung melihat keadaan sekitar. Dalam tarikan nafas berikutnya Ahmad sudah mengajukan rentetan pertanyaan pada Sari.
Padahal kondisi nafasnya tersengal dan keringatnya pun bercucuran tapi Ahmad terus saja mengoceh membuat kepala Sari pusing karena harus menjawabnya.
"Sar, gue kenapa ada disini sih?!"
"Tadi gue kayak ketemu Rara, Sar? Cantiiiik bener kek bidadari?!"
"Mad …," Sari mencoba menyela.
"Tapi dia hilang Sar, Lo liat Rara nggak Sar?!"
"Kangen bener gue ma tu anak!"
"Mad …," Sari kembali menekankan kata-katanya tapi Ahmad masih belum menyadarinya.
"Sar, gue mau nyatain cinta ke dia deh sebelum terlambat! Keren kan gue Sar?!"
"Kira-kira keterima kagak ni cinta gue?!"
"Mad!" Kesabaran Sari habis.
"Eeh, napa sih Sar sewot bener keknya?!" Ahmad masih bingung dan belum juga menyadari Rara yang sudah berubah mengerikan.
"Kamu bisa diem nggak sih!"
"Lah kan gue seneng bener ketemu lo disini! Dari tadi gue sendirian di dalam sono, untung gue bisa keluar ngeri bener disono Sar!" sahutnya seraya menunjuk ke sebuah ruangan dalam gedung.
"Iya tahu, tapi ini waktunya nggak tepat Mad!" Sari menekan rendah suaranya sambil memberi isyarat dengan matanya ke arah Rara yang sedari tadi memperhatikan mereka.
"Gimana sih! Gue bingung, maksud Lo apaan kok gini-gini?!" Ahmad menirukan isyarat Sari.
"Astaga … Mad, kamu bikin aku darting gini caranya!"
Sari menepuk jidatnya kesal, ia kemudian berjalan ke belakang tubuh Ahmad, membingkai kepala Ahmad dan mengarahkannya pada Rara.
"Lihat tuh, siapa disana?!"