
Sari menahan rasa haus yang luar biasa, tenggorokannya terasa panas dan tubuhnya seolah tidak bertenaga. Bibirnya memucat dan nyeri di lehernya semakin terasa menyakitkan.
"Haus … air, aku butuh air …" Sari meminta tolong pada pak Lingga agar memberinya air, tangannya mencengkeram lengan pak Lingga dengan kuat.
"Maaf, kamu harus ikut merasakan menderita begini. Aku tidak menyangka Atikah bertindak sejauh ini padamu."
Sari tidak mendengarkan perkataan pak Lingga, ia terus meminta air minum untuk menghilangkan dahaganya.
"Haus … ambilkan aku air!"
Pak Lingga menatap Sari dengan iba, "Yang kamu butuhkan bukan air Sari, air tidak akan menolongmu! Kita butuh penawar itu segera?!"
Pak Lingga berpikir sejenak sebelum kembali berkata, "Maaf Sar, ini satu-satunya jalan untuk menghambat racun itu menjalar. Aku harap kamu kuat?!"
Sari mengerang kesakitan, rasa nyeri itu membakar tubuhnya, "Panas sekali, air … mana air, aku haus …,"
Untuk sesaat pak Lingga ragu, ia menatap leher Sari yang semakin dipenuhi pembuluh halus kehitaman. Ia menarik nafas panjang terlebih dahulu sebelum akhirnya menarik tubuh lemas Sari kearahnya, "Maaf …,"
Dengan cepat pak Lingga menggigit leher Sari dan menanamkan kembali racun lain dalam tubuhnya. Sari mengerang kesakitan, ia memberontak berusaha melepaskan gigitan pak Lingga tapi sia-sia. Tubuh lemahnya sama sekali tidak bisa melawan, Sari pasrah.
Setelah dirasa cukup pak Lingga melepaskan Sari yang kini pingsan. Ia menidurkan Sari di tanah, "Racun harus dilawan racun, baik dan buruk harus berada dalam tubuhmu. Hanya itu cara untuk memperlambat perubahanmu."
Sari masih tergeletak di tanah saat keempat penjaganya muncul. Sang Patih Bimasena menyapa Lingga, "Apa dia akan baik-baik saja, kami sangat mengkhawatirkan dirinya?"
"Ya, dia akan baik-baik saja untuk sementara waktu."
"Lalu Airlangga?" tanya Bimasena lagi.
"Dia pergi, hampir saja dia mempengaruhi Sari."
Lingga beralih menatap Bimasena, "Bagaimana penjaga sepertimu bisa lengah dan mengira musuh adalah kawan?!"
Bimasena masih terdiam dan menatap Sari, "Aku tidak bisa membaca Airlangga yang aku tahu hanya dia bagian dari masa lalu."
Pak Lingga mendengus kesal, bukan salah Bimasena jika ia salah menerka. Airlangga pintar berkamuflase dan memanipulasi pikiran, bahkan sekelas para penjaga Sari yang notabene memiliki kesaktian yang sama.
"Hampir saja Sari celaka dan menjadi bagian dari mereka, andai aku tidak mengikutinya pasti semuanya terlambat!"
"Lalu bagaimana Sari, apa kau pikir dia sanggup menerima dua racun dalam tubuhnya?! Kau tahu itu berbahaya untuknya kan?"
Pak Lingga menatap Sari yang belum sadarkan diri, "Aku tahu … tapi jika ramalan itu benar, maka racun itu justru akan membantunya menyelesaikan takdirnya!"
"Jika tidak?" Bimasena bertanya dengan was-was.
"Sari akan bertukar tempat denganku …,"
" … " Bimasena terperangah, selama ratusan abad baru kali ini ia mendengar pertukaran yang dimaksud pak Lingga.
"Maaf, sepertinya kalian akan bersama sampai waktu yang cukup lama." ujar pak Lingga.
"Kalau begitu aku serahkan Sari padamu, kami pamit undur diri." Bimasena dan tiga penjaga lainnya menghilang dari hadapan pak Lingga.
"Cckk, para penjaga mu sepertinya masih harus belajar banyak dari ku Sar!" gerutu Pak Lingga.
Pak Lingga kemudian mengambil sesuatu dari balik pakaiannya, ia mengeluarkan botol kecil berisi cairan berwarna kehijauan. Perlahan ia membuka mulut Sari dan meminumkannya sedikit demi sedikit.
"Ini akan membantumu sedikit."
Tubuh Sari mulai bereaksi, setiap sel dalam tubuhnya merespon cepat racun yang baru saja dimasukkan pak Lingga melalui gigitannya. Kedua racun itu bermutasi dan mulai beradaptasi dengan tubuh Sari.
Sari kembali mengerang kesakitan, tubuhnya gemetar, keringat membanjiri tubuhnya. Perubahan sel itu sangat menyakitinya, Sari berguling ke kanan dan kiri menarik tangan pak Lingga dengan kasar seraya berteriak, "Apa yang kamu lakukan?!"
Untuk beberapa saat Sari bertransformasi dengan tubuh yang baru. Perlahan tubuhnya berangsur membaik, pembuluh darah hitam yang menjalar hampir ke wajahnya mulai menghilang. Rasa haus teramat sangat yang tadi sempat ia rasakan hilang seketika. Dengan nafas tersengal, ia melirik ke arah pak Lingga, "Apa yang kamu masukkan dalam tubuhku?!"
"Racun dan penunda perubahan." jawab pak Lingga singkat.
"Kenapa?"
"Aku cuma bisa bilang, hanya itu jalan untuk melawan racun hitam dalam tubuh kamu Sari. Take it or turn into a beast!"
Sari masih mengatur nafasnya, ia duduk dan memegangi lehernya. Nyeri itu memang menghilang tapi ia merasakan sensasi baru di tubuhnya. Sesuatu yang berbeda, sesuatu yang sangat kuat mendominasi dirinya.
"Apa aku akan baik-baik saja?"
Pak Lingga mengangguk, "Sementara kamu aman tapi obat itu hanya akan membantumu sebentar, kita tetap harus mencari penawarnya."
"Siapa Airlangga sebenarnya, pak Lingga kenal dia kan?" Sari menatap pak Lingga untuk meminta jawaban.
Pak Lingga terdiam sejenak lalu berkata, "Lebih baik kita pulang sekarang, kita terlalu lama pergi ninggalin tim. Jangan sampai mereka menguasai tim kita!"
"Pak Lingga menghindari pertanyaan saya?" Sari menahan tangan pak Lingga yang hendak pergi.
Mereka saling bertatapan, "Jika tiba waktunya akan aku jelaskan segalanya, hindari Airlangga! Dia pasti akan mencarimu lagi."
Sari masih menatap pak Lingga, ia mengharapkan sebuah jawaban.
"Sesulit itu memberikan jawaban?"
"Kita bicarakan ini nanti, hari sudah siang … kamu melupakan Bagas, dia pasti khawatir?!"
Sari akhirnya mengalah dan mengikuti pak Lingga kembali ke rumah Kang Pur.
Semakin aneh saja hidupku ini, bertemu dengan orang-orang aneh bin ajaib … berasa ada di film horor aja, semoga aku juga nggak berubah hidupnya jadi horor!