
"Bagas!"
Sari berteriak dengan deraian air mata, mencari sosok Bagas lelaki yang seharusnya menjadi imam untuknya. Ia kalut terbawa emosi, dan tanpa ia sadari dirinya telah membangkitkan energi besar yang tersimpan dalam dirinya.
"Sar …Sari!" Bagas mengguncangkan tubuh Sari dengan keras.
Ia khawatir dengan keadaan Sari yang sedari tadi mengigau dalam mimpinya. Begitu juga dengan Doni dan Ahmad.
"Waduh ni anak kenapa Don?" tanya Ahmad dengan wajah pucat karena melihat Sari terus mengigau.
Doni terdiam dan terus menatap Sari, aura Sari yang berubah merah kehitaman sedikit membuatnya khawatir.
"Sari, lagi mimpi keknya!" sahut Doni datar.
Diam-diam Doni mengeluarkan energi miliknya untuk menetralkan Sari. Tubuh Sari memanas, ia mendengar suara Bagas tapi kekuatan tersembunyi yang telah bangkit dalam dirinya mengaburkan suara asli Bagas.
Dalam alam bawah sadarnya Sari masih menangisi kematian teman-temannya. Letupan energi itu membuat Sari tidak bisa mengontrol dirinya. Pedang Siliwangi muncul di tangannya dengan sinar kemerahan yang mengerikan.
Ia mengayunkan pedangnya kesana kemari, berusaha mencari Airlangga. Kilatan cahaya yang keluar dari pedang Sang Prabu membuat terang dalam gelap. Sari kalap dan menebas apa pun yang ia lihat.
"Sar … sadar!" Doni datang ke alam bawah sadar Sari untuk menyadarkan dirinya, tapi di mata Sari Doni adalah musuh.
"Airlangga, aku hanya butuh nyawamu!" Sari memekik dan beralih memburu Doni.
Seketika Doni juga mengeluarkan keris pusaka peninggalan leluhurnya. Kedua pusaka itu beradu kekuatan. Doni tidak ingin menyerang sahabatnya, ia hanya menangkis, bertahan dan menghindar setiap kali Sari menyerang.
"Sari! Ini gue, Doni!" serunya sambil menahan serangan Sari.
Doni melihat dengan jelas mata Sari yang berubah menjadi hitam, ia dirasuki sesuatu yang Doni belum pahami.
"Lawan Sar, Lo kudu sadar!" Doni kembali menangkis serangan Sari yang begitu lihai memainkan pedangnya.
"Bagas, nunggu kamu disana! Ini cuma mimpi Sar, jangan biarin energi gelap nguasain Lo!"
Sari belum bergeming ia terus berusaha melukai Doni yang di matanya telah berubah menjadi Airlangga. Kedua pusaka mereka beradu tepat menyilang di depan dada. Doni sedikit kewalahan dengan tenaga yang dikeluarkan Sari.
Gila! Ni anak dapet kekuatan dari mana sih?! Energinya luar biasa tapi … ini mirip seperti energi Lingga …, batinnya kesal karena Sari belum mau mendengarkan dirinya.
Dengan terpaksa, Doni akhirnya melakukan serangan balik untuk segera menyadarkan Sari. Ia mengerahkan kekuatannya untuk mendorong tubuh Sari menjauh, dan secepatnya mengungkung dari sisi belakang lalu menahan Sari dengan kuat. Doni berusaha meminimalisir tenaga Sari dengan energinya.
"Sar, dengerin gue! Ini mimpi Lo, bangun! Jangan biarin kamu kalah sama kekuatan itu!" kata Doni sedikit keras di telinga Sari.
Sari masih belum bergeming, ia masih berontak dan melawan Doni dengan kuat tapi Doni tidak menyerah.
"Bagas menunggu disana Sar, juga yang lain! Tenang … kontrol diri Lo!" Doni kembali berkata tapi kali ini sebuah mantra yang diucapkan dalam bisikannya.
Perlahan Sari melunak, kekuatannya melemah. Perlahan warna matanya yang begitu gelap kembali normal. Nafasnya kembali teratur, suhu tubuhnya yang memanas perlahan berangsur turun.
"Don, kamu ngapain peluk aku gini?!" Sari akhirnya tersadar.
"Lo dah sadar? Syukur deh." Doni lega tapi belum melepaskan tangannya dari Sari.
"Aku kenapa? Don … lepasin?!"
"Hhm, beneran ni Lo dah sadar?"
"Iya, udah lepasin!"
"Bentar Sar, gue pastiin dulu Lo beneran sadar apa cuma mau nipu gue?!" Doni masih enggan melepaskan pelukannya.
"Cckk, sengaja kamu nih?! Udah lepasin!"
"Yaelah Sar, kapan lagi gue bisa meluk Lo coba?! Kalo di dunia nyata kudu ngadepin Bagas, kan dikira nikung gue Sar?!" sahut Doni cengengesan.
"Lepasin Don, kalo nggak …" Sari tidak meneruskan ucapannya.
Sari dengan cepat berbalik dan mengarahkan pedangnya ke arah Doni, "Eeeits, Sar jangan bercanda … "
Sari menatap netra Doni, ada rasa aneh yang menjalar dalam hatinya sesuatu akan menjadi cerita panjang di antara keduanya dan Sari mendapatkan kelebatan masa depan dalam mata Doni.
"Sar … yaelah kumat lagi, sialan Lo ngibulin gue!" Doni siaga hendak melawan Sari.
Sari masih diam, tapi beberapa detik kemudian ia menurunkan pedang sang Prabu dan tersenyum pada Doni.
"Sorry, kita kembali sekarang … makasih Don?!"
"Makasih buat apa? Udah tanggung jawab gue juga nyelamatin Lo?!" jawab Doni dengan berlalu berjalan di depan Sari.
Sari hanya menatap Doni, sejujurnya ia tenang jika Doni ada disisinya. Kelebatan masa depan yang sepintas ia lihat tadi menyadarkan Sari akan pentingnya Doni.
Cerita kita masih panjang Don … tetaplah berada di sisi yang sama denganku …, batin Sari seraya menatap kembali punggung Doni yang berjalan di depannya.
...----------------...
"Sar … Sari, bangun!" Bagas kembali berusaha membangunkan Sari dari mimpinya.
"Don … eh buset, ni anak bisa-bisanya tidur pas gue butuhin!" Bagas kesal melihat Doni yang memejamkan matanya.
"Eeh, kapan dia tidurnya yak?! Parah ni anak, temen lagi susah malah dia molor!" Ahmad juga terkejut melihat Doni yang dengan santainya tertidur.
Tidur? Tidak … Doni sedang menjemput Sari dan membantunya keluar dari alam mimpi. Membebaskan Sari dari kekuatan hitam yang ia bangkitkan sendiri karena kesedihannya. Kekuatan gaib yang Sari dapatkan dari reaksi kedua racun yang ditanamkan Lingga dan Airlangga.
Sari membuka matanya, ia kenali ke raganya. Bagas lega. "Akhirnya … kamu kenapa Sar? Bikin kita khawatir aja!"
"Bagas … Mad, kalian nggak apa-apa kan?!" Sari menatap Bagas dan Ahmad bergantian dengan cemas.
Ahmad dan Bagas saling melempar pandangan, mereka bingung. "Lo gimana sih, orang kita dari tadi disini aja kagak ngapa-ngapain juga?!"
Ahmad melanjutkan perkataannya, "Emangnya Lo liat apaan di mimpi Sar, gue jadi merinding jijay nih?!"
"Iya, kamu mimpi apa sih? Kita yang khawatir malah lihat kamu nggigau gitu?" tanya Bagas cemas.
Sari lega, semuanya hanya mimpi. Mimpi buruk yang membuatnya terhanyut dalam duka. "Syukurlah …," gumam Sari pelan
"Hmm, mimpi Lo bikin geger aja Sar!" sahut Ahmad.
"Sorry, aku terlalu capek kayaknya." Sari memaksakan senyumnya.
"Doni …" Sari menengok ke kursi belakang dan mendapati Doni mulai membuka matanya perlahan.
"Noh, si Doni malah ngorok! Orang lagi bingung sama Lo malah dianya ngorok, kagak ada empatinya bener ni anak!" sungut Ahmad.
"Enak aja Lo bilang gue ngorok!" Doni menghadiahi Ahmad dengan toyoran kepala.
"Laaah emang iya kan, kita sibuk bangunin Sari Lo malah merem." ujar Ahmad hendak membalas toyoran Doni.
"Gue, jemput Sari kalo Lo mau tahu! Suudzon wae kowe ki Mad! Gek usaha aku narik Sari Ben mulih, ngerti rak?!"
"Kagak ngarti dah gue, bodo amat! Gue taunya Lo ngorok!" sahut Ahmad cengengesan.
Bagas menggenggam tangan Sari mengabaikan pertengkaran kedua sahabatnya di belakang.
"Yakin semuanya baik-baik aja?" tanyanya lembut pada Sari.
"Iya, nggak apa kok. Cuma bad dreams aja." jawab Sari dengan senyum.
Hati Sari sejujurnya tidak tenang. Kemampuan yang dimilikinya bisa memilah mana mimpi dan mana visi masa depan. Sesuatu yang mengerikan sedang menantinya di depan. Ia melirik ke arah Doni, netra mereka beradu sejenak.
Hanya dia, yang bisa aku andalkan kedepannya … kita akan berjuang bersama Don!