
Saka akan membantunya di masa depan. Itu sebabnya Lingga memberikan perlakuan dan fasilitas khusus pada Saka. Termasuk juga pendidikan Saka. Semuanya yang terbaik. Hingga di usia ke 23 tahun, kali pertama Saka bertemu dengan Lita.
Saka dan Lita bertemu di sebuah acara amal yang diselenggarakan perusahaan Lingga. Lita tidak pernah berada jauh dari Lingga. Meski dirinya telah berubah, Lingga tetap menempatkan Lita tak jauh darinya. Tentu saja semua itu dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Koneksi yang dimiliki Lingga membuatnya selalu terhubung dengan Lita dimanapun ia berada.
Kala itu Lita yang ikut menjadi tamu undangan menolong Saka yang hampir saja tertabrak sepeda motor. Lita membantunya mengumpulkan semua berkas yang berserakan tapi hal yang paling membekas dalam ingatan Saka adalah senyuman dan kelembutan Lita saat membantunya.
Saka muda jatuh hati untuk kali pertamanya pada Lita. Kedekatan mereka berlanjut karena Saka sering membantu Lita dalam pekerjaannya. Namun Lita, hanya menganggap Saka adik.
Lita tahu Saka bekerja untuk Lingga, dan dari Sakalah Lita tahu setiap kegiatan Lingga atau … bisa dibilang, sengaja diberitahu oleh Lingga melalui Saka.
Lingga ingin Lita tetap mengetahui apa saja kegiatannya meski mereka telah berpisah. Sementara Lita yang tidak punya nyali untuk bertemu dengan Lingga, tetap bahagia mendapatkan berita tentang lelaki pujaannya meski harus menahan diri.
Hingga pada suatu malam, disaat Lita harus merelakan dirinya kembali dikuasai iblis yang ada dalam tubuhnya. Ia menjelma menjadi sosok wanita mengerikan penghisap darah demi kelangsungan hidupnya.
Tanpa diketahui Lita, Saka mengikutinya malam itu. Menembus pekatnya malam dan dinginnya hembusan angin. Dengan mengendap endap Saka mendekati Lita yang tengah berjongkok membelakanginya.
Saka tidak menyangka Lita yang tengah dikuasai iblis itu tengah menikmati manisnya darah dari korbannya. Wajahnya yang cantik berubah mengerikan. Tidak ada lagi sosok Lita yang baik hati.
"Kak Lita …" sapa Saka pada Lita yang tengah asyik menikmati buruannya.
Sapaan Saka membuatnya berhenti, matanya yang merah berubah sejenak menjadi normal. Ia kembali pada wujud Lita. Dengan perlahan, Lita meletakkan buruannya lalu berbalik ke arah Saka.
Saka terkesiap melihat mulut Lita memerah oleh darah ditambah lagi percikan darah manusia yang menghiasi wajah Lita.
"Astaghfirullah … kak Lita, ini mimpi kan?"
Lita Tidak menjawab, ia diam tapi perlahan mendekati Saka. Tidak ada keraguan di matanya untuk memangsa Saka saat itu juga. Mata Lita sudah tertutup oleh iblis yang bersemayam dalam tubuhnya.
"Kak Lita, jangan mendekat! M-maaf sudah mengganggu … a-aku ...,"
Detik-detik terakhir yang terjadi kemudian, Saka hanya bisa merasakan hembusan nafas panas dari seseorang yang tengah duduk diatas tubuhnya. Geraman kecil yang ditahan menghiasi nafas berat yang jaraknya hanya sejengkal saja dari wajah Saka.
Lita menahan dirinya, terlihat pergulatan batin yang bergejolak dalam dirinya. Antara iblis dan manusia. Lita tidak mau melukai Saka tapi iblis memintanya untuk menghabisi nyawa Saka. Wajahnya berubah menjadi manis kembali, dengan kasar Lita melepaskan Saka yang pucat pasi.
"Pergilah! Segera sebelum aku berubah pikiran!"
Saka dengan gemetar menjawab "Kak Lita?!"
"Diam! Dan pergi sekarang juga! Jangan pernah lagi kamu datang menemui aku Saka atau aku tidak akan menjamin hidupmu besok!" ujar Lita seraya pergi meninggalkan Saka.
Setelah kejadian malam itu Saka tidak pernah lagi bertemu dengan Lita. Itu adalah pertemuan terakhirnya secara langsung. Setelahnya Saka hanya mendengar kejadian-kejadian ganjil di setiap desa yang disinggahi Lita.
Saka mengikuti perkembangan Lita diam-diam, ia bahkan melihat Lita dari kejauhan. Mencari keberadaan wanita yang mencuri hatinya dari tahun ke tahun tanpa lelah. Cintanya pada Lita tidak membuatnya berubah meski ia sadar yang dicintainya adalah manusia setengah iblis.
Kejadian ternak mati di desa wisata waktu itu juga ulah Lita. Meski tidak sepenuhnya semua perbuatan Lita. Saka melihatnya, tapi dia juga menyembunyikan fakta itu. Fakta jika Lita dan Atikah bersama.
Atikah dan Lita berada disisi yang sama, mereka sama-sama pendukung Airlangga. Jika diibaratkan Lita adalah Ratunya maka Atikah adalah selir Airlangga.
Atikah begitu berambisi menguasai Airlangga dan berniat menyingkirkan Lita tapi ia tidak pernah bisa mengalahkan Lita. Hingga Atikah rela masuk dalam mimpi Sari dan merubah wujudnya menjadi Lingga. Ia menjalankan misi mustahil dari Airlangga, menanamkan racun dalam tubuh Sari.
Keberanian Atikah memang mendapat respon positif dari Airlangga tapi tidak merubah posisinya sebagai cadangan. Atikah kesal, dan ia semakin beringas dan berambisi pada Sari. Targetnya mengubah Sari menjadi kaumnya.
Harapannya tentu saja apalagi jika bukan mendapatkan simpati Airlangga. Tapi tindakan konyolnya itu justru dihadiahi kematian oleh Lingga. Atikah meregang nyawa dan mati karena ambisinya sendiri.
Atikah dan Lita, dua anak manusia yang terjebak dalam lingkaran keabadian dan kesesatan nyata. Jalan keluar bagi mereka hanya satu, kematian yang menyakitkan. Dan Lita memahami hal itu.