Petualang Jagad Lelembut

Petualang Jagad Lelembut
Bab 44


Kesepakatan telah dibuat antara pak Lingga dan Sari. Untuk membuatnya semakin jelas, Sari pun menanyakan beberapa hal pada pak Lingga.


"Majapahit, Blambangan, Minak Jinggo, dan Damarwulan … ada hubungannya dengan pusaka itu?"


"Kurang lebih begitu. Pusaka itu bagian dari kisah pertarungan antara dua tokoh sakti pada zamannya."


"Minak Jinggo dan Damarwulan kan? Terus saya harus ambil pusaka milik siapa?"


"Pedang Sengkayana, itu namanya." jawab Pak Lingga.


Ketika Majapahit hancur, orang-orang Osing melarikan diri ke Tengger, Bali dan Banyuwangi. Mereka adalah abdi dalem dari kerajaan. Konon kabarnya pedang Sengkayana disembunyikan oleh para abdi dalem di salah satu tempat persembunyian mereka. 


Pak Lingga selama ratusan tahun berusaha mencarinya dan mendeteksi keberadaan pedang itu di salah satu situs candi di daerah Trowulan, Candi Minakjinggo.


Pedang Sengkayana mengikuti sang tuan, kabarnya di dalam candi ditanam kepala dari Minakjinggo sendiri. Pedang itu menghilang dan menunggu pemilik barunya. Dan Sari telah diramalkan sebagai satu-satunya orang yang bisa menarik pusaka itu dari tidurnya.


"Pedang Sengkayana … sehebat itukah pedang itu sampai selama ratusan tahun hanya saya yang bisa ambil?" tanya Sari heran.


"Menurut ramalan memang begitu."


Sari membayangkan proses penarikan pusaka itu, sama seperti saat ia membantu Selia dan Alaric yang datang jauh-jauh dari Yogyakarta hanya untuk kujang Cakra buana.


Apa prosesnya akan sama seperti itu? Kali ini siapa yang bantu aku narik?


"Gimana, mau mundur sekarang atau menyerah?" tanya pak Lingga.


"Apa bedanya itu?" sahut Sari sedikit kesal.


"Nggak ada!"


"Iish, nyebelin bener! Bapak tau nggak, saya udah kek dukun-dukun ni yang tukang narikin pusaka. Dari pedang Siliwangi, kujang dari Si Bayu dan sekarang pedang lagi … lama-lama saya jualin juga nih pusaka?!" 


Pak Lingga tertawa kecil mendengar keluhan Sari, ia lalu menjawab. "Kan bagus, jadi bisa buat koleksi kamu!"


"Cck, koleksi pusaka … boleh milih koleksi pacar aja nggak?" Pertanyaan Sari yang konyol tentu saja memancing tawa pak Lingga.


"Koleksi pacar? Terus Bagas mau dikemanakan?"


"Kan iseng nanya kali aja bisa milih kek pilihan ganda gitu?!" 


Pak Lingga kembali tertawa. "Jadi gimana?"


"Kesepakatan tetap kesepakatan. Saya tetap akan bantu bapak, dan bapak jangan lupain janji bapak."


"Tentu saja, saya bukan pria yang mudah ingkar janji. Satu hal yang pasti Sar, kamu akan membutuhkan pusaka itu suatu saat nanti. Perang besar akan terjadi di masa depan, dan kamu akan ikut berperan didalamnya."


"Perang besar? Maksudnya perang dunia ketiga? Ngaco nih si bapak!"


Pak Lingga hanya tersenyum, "Bukan, perang antara manusia dan makhluk lain dari kegelapan."


"Saya serius Sar, saya sudah hidup ratusan tahun dan saya tahu tanda-tanda perang itu akan terjadi. Kamu juga akan mengalaminya."


"Cck, nggak usah nakut nakutin yang penting sekarang itu gimana caranya kita hadapi Airlangga juga yang lainnya." ujar Sari mengalihkan perhatian pak Lingga.


Pak Lingga dan Sari sepakat berada di pihak yang sama. Mereka akan menghadapi Airlangga dan juga kawanannya. Dalam hati ia berjanji akan melindungi orang-orang yang dicintainya sampai titik darah penghabisan. 


****


Bagas duduk termenung di teras. Tangannya memainkan ponsel dengan memutarnya di meja. Hatinya gelisah, sesuatu mengganggu pikirannya. 


Ia memikirkan perkataan pak Lingga dan masih belum bisa menerima fakta yang terjadi saat ini.


"Percaya nggak percaya sih, tapi nyatanya emang ada. Ini bukan tipuan kan?" gumamnya sendiri.


"Perasaanku jelek banget nih, sesuatu bakalan terjadi deh."


Bagas menghela nafas panjang, ia merebahkan punggungnya pada sandaran kursi, dan memejamkan mata sejenak.


"Boleh gabung?" tanya suara berat yang ia kenali sebagai pak Lingga.


"Eh, bapak … boleh, silahkan saja." jawab Bagas.


"Ada masalah?"


"Nggak, cuma sedikit khawatir aja."


"Sari?"


"Iya, juga semuanya. Kita tuh mau liputan apa mau berantem sih pak? Nggak jelas gini." tanya Bagas serius sambil mendekatkan tubuhnya.


"Maaf sudah melibatkan kalian di situasi sulit begini." jawab Pak Lingga.


"Saya janji bakal nyelesain semua urusan saya dengan kalian secepatnya. Kalian aman dekat dengan saya, itu janji saya!" sambungnya lagi.


Bagas kembali menghela nafas dengan berat. "Apa jaminan yang Sari kasih ke bapak, saya yakin pasti ada pertukaran diantara kalian?"


"Pertukaran? Nggak juga, saya lebih suka sebut itu dengan win win solution. Saya selamatkan kalian, dan dia bantu saya mengakhiri kutukan itu."


"Kenapa saya nggak yakin sama ucapan bapak? Saya curiga nggak ada yang namanya win win solution?!"


"Trust me Bagas. Saya sudah hidup cukup lama untuk tahu kehidupan, dan saya tahu pasti apa yang akan kita hadapi."


Bagas menatap tidak percaya ke arah pak Lingga. Entah mengapa perasaannya selalu saja mengatakan hal buruk akan terjadi pada mereka. Kegelisahan Bagas semakin menguat dengan hilangnya Rara dalam tim.


Rasanya aku ingin sekali pulang … mengulang perjalanan liputan kali ini!