Petualang Jagad Lelembut

Petualang Jagad Lelembut
Bab 51


Lita berdiri menatap wajahnya di cermin, masih cantik di usia yang hampir mendekati angka seabad. Ya … Lita telah melewati hampir sepuluh dekade, tapi wajah cantiknya tidak pernah berubah. Tidak menua sedikitpun, ia hanya akan berubah saat jiwa iblis nya mendominasi dirinya.


Lita mengingat saat itu, saat dimana ia mengikat janji pada bangsa lelembut yang menipunya. Hari dimana hubungan dirinya dan Lingga harus mengakhiri kisah cinta mereka. Lingga yang tidak ingin menyakiti gadisnya harus bersandiwara demi menyakiti Lita agar melupakan dirinya.


Lingga membayar seorang wanita cantik yang berpura-pura menjadi calon istrinya. Semua itu demi Lita agar menjauh darinya, Lingga tidak ingin dirinya kembali mengalami kejadian berulang. Ditinggalkan kekasih hati selama-lamanya tanpa bisa berbuat apa pun.


Ia hanya ingin melihat dan mengawasi Lita dari kejauhan, dari balik kegelapan tentu saja. Meski itu menyiksanya.


Lita memejamkan mata, keningnya berkerut tangannya yang hanya tersisa sebelah mengepal menahan rasa penyesalan mendalam.


Lita yang saat itu terluka karena sandiwara Lingga dengan berderai airmata mendatangi Airlangga agar membantunya mendapatkan keabadian. Hal yang selama ini menjadi alasan Lingga untuk menjauh darinya.


"Kau harus membantuku?!" pintanya disela Isak tangisnya.


Airlangga hanya menatap tajam Lita, ia yang kala itu memang mencintai Lita hanya memikirkan satu hal. Mendapatkan Lita disisinya. 


"Apa yang bisa aku lakukan untukmu?"


"Buat aku sama sepertimu juga Lingga! Aku hanya ingin bersamanya Airlangga, aku mencintai kakakmu!"


Hati Airlangga mendidih mendengarnya, ia kemudian menjawab. "Tidak pernah ada dalam ingatanku seorang manusia berubah menjadi abadi Lita."


"Tapi kau juga Lingga bisa kan?!"


"Kami … berbeda, kutukan itu membuat kami abadi dan itu diluar keinginan kami." ujarnya tanpa mengalihkan perhatian sedikitpun pada Lita.


Lita terdiam, ia masih terisak dalam tangisnya. "Apa tidak ada jalan lain?" tanyanya lirih.


Airlangga mendengus kasar, "Ada! Tapi berat, apa kau sanggup?"


Lita bagai mendapat angin segar, wajahnya sumringah ia pun langsung mengangguk tanda setuju, "Bisa, aku bisa melakukannya! Apapun demi bersama Lingga!"


Airlangga menyeringai mengerikan, ini kesempatan baginya. "Dasar bodoh!" gumamnya lirih yang hanya bisa didengar olehnya sendiri.


...----------------...


"Aku … harus meminumnya?" tanya Lita tak percaya pada Airlangga.


Didepannya ada segelas cawan dari perak yang sangat indah. Ornamen yang menghiasi cawan itu begitu indah. Didalamnya terdapat darah segar manusia yang baru saja dihabisi Airlangga di hadapan Lita, mengerikan.


"Kau ingin abadi kan? Minum ini, dan aku jamin dirimu akan menjadi seperti kami. Immortal!"


Lita menatap Airlangga ragu, ia tidak yakin dengan perkataan Airlangga dan Airlangga tahu itu. "Kau ragu?! Baiklah lihat aku baik-baik!"


Airlangga mengambil cawan itu dan dengan santai meminumnya hingga habis, ia bahkan tidak menyisakan setetes pun darah dari cawan itu. Airlangga seolah sedang meminum sari buah tanpa rasa mual sedikitpun. Ia mengusap sudut bibirnya dari sisa darah.


"Ini sangat menyenangkan Lita, cobalah dan rasakan manisnya. Kau … tidak akan menyesalinya!" bujuk Airlangga.


Lita bergidik ngeri, ia ragu untuk melakukannya. Dirinya masih menatap cawan perak itu tanpa ada niatan untuk menyentuhnya. Airlangga kesal, ia lalu meletakkan cawan itu dengan kasar diatas meja.


"Baiklah jika kau ragu lebih baik mundur sekarang!" ujarnya seraya hendak meninggalkan Lita.


Berhasil … akhirnya kamu masuk juga dalam perangkap ku! Batin Airlangga dengan senyuman tersungging di bibirnya.


"Tentu, aku janji!" jawab Airlangga jelas tapi hatinya berkata, "Aku janji akan membuatmu menderita selama mungkin Lita!"


Lita pun meminum darah yang ada dalam cawan setelah sebelumnya Airlangga mengisinya kembali. Lita tidak tahu bahwa sebuah mantra Jawa kuno milik Nek Surti telah dirapalkan ke dalam minuman yang konon bisa membuatnya abadi.


Mantra yang mengubah jiwa manusia menjadi iblis tanpa perasaan. Menyiksanya hingga akhir hidup. Airlangga tersenyum penuh kemenangan melihat Lita perlahan menunjukkan reaksinya.


Sebuah perjanjian telah dibuat antara Lita dan penguasa kegelapan.


...----------------...


Lita masih menatap cermin di depannya, ia mengusap lengan kirinya yang kini hanya menyisakan setengah nya saja. 


"Sari … kau membuat hidupku semakin sulit saja! Lihat apa yang kau perbuat padaku! Aku akan menuntut balas, tangan dibayar tangan Sar!"


Bayangan dirinya dicermin tiba-tiba saja berubah. Pantulan dirinya dalam cermin itu berkacak pinggang dan tertawa pada Lita.


"Lihatlah siapa yang sedang bercermin?!"


Lita masih menatap pantulan dirinya dalam cermin dengan rasa sebal. "Kenapa kamu keluar?"


"Aku? Aku hanya ingin mengingatkan akibatnya melawan takdir Lita!"


"Terlambat!"


"Belum terlambat Lita sayang … belum." sahut bayangan kembar dirinya itu.


"Ya … semua sudah terlambat!"


"Ada cara untuk kembali seperti sedia kala, apa kau mau?"


"Apa itu?!"


"Bantu Sari untuk menarik pusaka itu! Cegah jangan sampai Airlangga mendapatkannya! Pusaka itu bisa membebaskanmu juga Lingga!" sahut Lita versi cermin.


Lita mengerutkan keningnya, ia bingung. "Aku harus membantunya? Kenapa, aku lebih suka membunuhnya karena lancang telah bersama Lingga!"


"Cck, bodohnya dirimu Lita! Otak kamu jongkok bener! Bersama belum tentu mencintai, terlalu lama hidup abadi sepertinya membuat otak kamu sedikit miring!" ejek Lita versi cermin.


"Sepertinya begitu?!" jawab Lita asli.


"Dengarkan aku baik-baik! Hanya pedang Sengkayana yang akan memutuskan kutukan itu. Pergi dan bantu Sari, lupakan dendammu saatnya untuk memilih berada di sisi mana!"


Lita termenung memikirkan ucapan Lita versi cermin itu. Ia lelah dan ingin mengakhiri semuanya. Menjadi abadi ternyata tidak menyenangkan. Lita ingin kembali ke titik awal, saat dimana dirinya masih mencintai Lingga tanpa keserakahan.


Aku akan membantu Sari dan memastikan kutukan ini berakhir! Demi Lingga dan juga diriku sendiri!