
Kekuatan Kujang legendaris itu memendarkan cahaya kebiruan yang menyilaukan mata. Sari menggenggam kuat kujangnya merasakan energi sang prabu yang tersimpan didalamnya. Perlahan masuk melalui tangan dan membanjiri tubuhnya dengan energi.
Racun yang ditanamkan Lingga dan Airlangga bereaksi hebat terhadap energi Kujang Siliwangi membuat setiap sel tubuh Sari seolah bermutasi dan membuat kekuatan Sari menjadi berkali lipat. Mata Sari berkilat dan berubah kebiruan menyesuaikan energi yang diterimanya.
Para penjaga Sari juga merasakan peningkatan energi tuannya. Secara otomatis mereka juga menjadi lebih kuat mengikuti sang pemilik.
"Apa ini kakak? Sari berubah?" tanya Abisatya pada Bimasena.
"Hhm, energi Sari bertambah dengan pesat. Sepertinya ramalan itu benar adanya." sahut Bimasena.
"Ramalan?" tanya Mahesa
"Ehm, ramalan kini tentang lahirnya seorang pejuang wanita yang bisa mematahkan kutukan sang prabu."
"Siliwangi?"
"Bukan, Majapahit."
"Apa?!" teriak para penjaga Sari bersamaan.
"Kita harus membantunya Bimasena!" kata Abisatya setengah khawatir.
"Tidak! Biarkan Sari melatih dirinya, ia memerlukannya sebelum berhadapan dengan Airlangga!"
Para penjaga Sari hanya berdiri di tempatnya menyaksikan sang tuan yang mulai menyesuaikan diri dengan kekuatan barunya.
Kelima pemburu itu tidak peduli dengan lonjakan energi yang dihasilkan Sari, mereka menyerang Sari dengan tombak hitam berapinya.
Sari bagai melintasi waktu, ia bergerak cepat dan bahkan tahu kemana arah tombak itu melesat. Dengan mudahnya ia menghindar seraya melecutkan energi kebiruan yang keluar dari ujung Kujang Siliwangi ke arah kaki kuda gaib tunggangan mereka.
Seketika kuda itu meringkik kesakitan dan jatuh dengan kaki depan terputus. Mata Sari diliputi cahaya kebiruan, tak ada rasa iba sedikitpun saat melihat kuda-kuda itu menggelepar di tanah.
Para pemburu terjatuh, mereka dengan sigap melompat dan kemudian menerjang Sari. Dengan cepat pedang panjang milik mereka dikeluarkan dari sarungnya dan segera menghunus ke arah tubuh Sari.
Sari dengan mudah berkelit, tubuhnya seringan kapas dan ketika ia memutar tubuhnya energi serupa cambuk kembali keluar dari ujung Kujang miliknya, menghantam satu persatu para pemburu membelit dan melontarkan mereka jauh dari tempatnya.
Sari sama sekali tidak kelelahan, ia hanya tersenyum sinis pada kelima pemburu yang dengan susah payah bangun. Kelimanya masih semangat menyerang Sari, dan bersama sama berlari menerjang Sari untuk kesekian kalinya.
Bersamaan dengan semakin mendekatnya para pemburu, Sari melakukan gerakan menyilang dibarengi energi maha dahsyat yang keluar dari ujung Kujang Siliwangi milik nya.
Energi panas dan kebiruan yang muncul dari ujung Kujang itu menyabet sempurna kelima pemburu itu. Membakar setiap bagian tubuh mereka, dan meleburkan tubuh kelimanya menjadi debu dengan seketika. Yang tersisa hanyalah pusaran angin yang berhembus menerbangkan setiap atom dari debu tubuh di udara.
Sari berdiri dengan anggun masih dengan mata yang kebiruan dan kujang Siliwangi ditangannya. Kekuatan barunya telah mengubah Sari. Sekali lagi ia menjelma sebagai Dewi Kematian.
Para penjaganya tak mampu berkata-kata, mereka dibuat takjub dengan kemampuan baru Sari.
"Luar biasa! Darimana Sari mendapatkan kekuatan besar itu? Kita bahkan tidak mampu menandingi mereka tadi!" kata Mahesa.
"Tinggal menunggu waktu saja sebelum hari besar itu datang." ucap Bimasena.
"Apa maksudnya? Apakah akan ada bencana yang menimpa Sari?"
"Lebih tepatnya Angkara yang tak berkesudahan. Kutukan ini tidak akan pernah berhenti dan berakhir sampai disini."
Bimasena menghentikan ucapannya lalu sejenak memandang ketiga penjaga lainnya. "Bersiaplah menghadapi kemungkinan terburuk. Sari adalah prioritas kita!"
"Yang lainnya serahkan pada Lingga!"
Mereka saling menatap dan memahami maksud Bimasena. Tak lama kemudian, Sari mendekati keempat penjaganya setelah kembali ke dirinya yang normal.
"Ayo kita masuk?!" ajak Sari tanpa menunggu keempat penjaganya menyahut.
Kaki Sari menjejakkan langkah pertamanya ke area keputren. Ruang hampa menyambutnya, memberinya himpitan udara yang menyesakkan dada.
"Apa ini?!" gumamnya sambil menahan sesak.
Ia berusaha melangkahkan kakinya kembali tapi rasanya sungguh berat. Dan betapa terkejutnya Sari saat melihat kemunculan tiga orang berpakaian ala kerajaan berdiri dihadapannya. Dengan sedikit senyuman salah satu diantara mereka mengeluarkan suara.
"Selamat datang Sari, kami telah menunggu setelah sekian lama."
Eeh, ada panitia penyambutan juga disini?! Ini keputren apa among tamu nikahan yak, kok bajunya begitu dah kayak ketoprak aja!