
Malam itu Sari gelisah, ucapan pak Lingga cukup mempengaruhi pikirannya. Belum lagi rasa penasarannya pada wanita yang menyerangnya.
Pintu kamar terbuka, Sari menatap Rara yang berdiri disana menatapnya sejenak. Sari waspada, tapi Sari tetap bersikap seperti biasa.
"Ra, darimana kamu? Nggak tidur, aku capek nih?!" Sari berpura-pura tidur dan membelakangi Rara.
"Iya, ini juga mau tidur."
Sari bisa merasakan Rara mengambil posisi di sebelahnya, mereka saling memunggungi satu sama lain.
"Ra, kamu sudah baikan? Muka kamu pucet gitu? Aku jadi khawatir lho ke kamu?!"
"Aku nggak apa-apa kok Sar, cuma sedikit lelah saja. Bisa kita tidur sekarang?"
"Ok, tidur deh. Aku juga capek!" sahut Sari yang kembali berpura-pura.
Ra, maaf kalau akhirnya kita harus berhadapan. Maafin aku yang lengah dan nggak bisa jagain kamu …, sesal Sari dalam hati.
Sari berusaha memejamkan mata tapi kegelisahan hatinya mengalahkan rasa lelahnya. Sementara Rara tertidur dengan pulas tanpa bergerak sedikitpun dan tidak terganggu dengan sikap Sari yang berkali kali mengubah posisinya.
Sari menyerah dan akhirnya memilih kembali terjaga dan keluar dari kamar. Malam semakin larut, Sari duduk di teras rumah dan menyapu sekeliling. Sepi dan sunyi hanya terdengar suara binatang malam dan aliran air dari sungai kecil yang berada tak jauh dari kediaman Kang Pur.
"Sar, ngapain Lo disini? Sendirian lagi?" Doni menepuk bahu Sari membuatnya terkejut.
"Astaghfirullah, aku kira siapa?!"
"Demit?!" Sari tersenyum, lalu kembali bertanya pada Doni.
"Darimana kamu Don, kok aku lihat nggak ada di dalam tadi?"
Doni tidak menjawab dan duduk di samping Sari, "Bagas dah tidur?"
"Udah tuh, capek kayaknya dia. Langsung tidur nggak lama setelah kita masuk." jawab Sari.
"Sar, gimana si Rara? Gue khawatir sama tu anak!"
"Rara ya, dia …"
Sari hanya terdiam, dalam hati ia setuju dengan perkataan Doni. Lingga telah membawa Sari dan tim nya dalam situasi yang tidak nyaman.
"Aku khawatir sama Ahmad juga Bagas Don?!" ujar Sari lirih.
"Sama, gue juga. Kalo kita berdua bisa jaga diri, nah mereka gimana coba?!"
Sari menatap Doni, "Bukannya tadi kamu bikin sesuatu?"
Doni menoleh pada Sari lalu menghela nafas dengan berat, "Harusnya gue ngikutin feeling gue. Kayaknya sekarang terlambat deh."
"Belum Don, bantuin aku buat jagain Bagas juga Ahmad. Biar Rara jadi urusan aku."
Doni menatap jauh ke atas, "Sar, kalo ada apa-apa ma kita, Lo tolong bilangin emak gue ya?! Bilangin kalo gue sayang banget sama dia, bilangin juga gue minta maaf belum bisa kasih menantu secantik Lo Sar?!"
Sari terkekeh, "Diiih males, bilang aja ndiri besok! Lagian kamu, kayak kita bakalan mati aja Don, jangan aneh-aneh dan bikin takut orang!"
Doni hanya melirikkan matanya ke Sari, ia tahu resiko pekerjaan sebagai jurnalis yang berhubungan dengan alam gaib. Ide gila Sari yang mengawali perjalanan karir mereka di dunia mistis. Doni tidak menyalahkan Sari hanya saja takdir kali ini seolah mempermainkan mereka.
"Sar, kita harus minta bantuan ke pak Lingga deh?!"
"Kenapa tiba-tiba bilang gitu?"
"Gue cuma ngerasa aja, dia yang sanggup jagain kita Sar? Lo kan juga ngerasain besarnya kekuatan dia, kalo dulu ada Mang Aa ma mas Hendra yang back up kita sekarang kita harus punya bantuan juga."
Sari memikirkan perkataan Doni. Melihat situasi yang cukup rumit sepertinya mereka memang membutuhkan bantuan pak Lingga untuk menghadapi Atikah dan kawan-kawan nya.
"Besok deh kita pikirin lagi, aku sendiri masih ragu sama kemampuan pak Lingga. Aku mau pastikan kebenaran ceritanya dulu."
"Eh mang ada cerita apaan dia? Kasih tahu ke gue!" Doni meminta Sari untuk menceritakan yang ia ketahui tentang pak Lingga.
"Ehm, besok lagi aja deh … aku kok ngantuk ya Don." sahut Sari seraya menguap.
Doni pun merasakan hal yang sama. "Iya nih, aneh padahal tadi nggak. Masuk yuk Sar, ngeri gue diluar sini."