Petualang Jagad Lelembut

Petualang Jagad Lelembut
Bab 8


Ini mimpi, pasti mimpi … aku pasti ketiduran. Ini bukan kenyataan kan? Tapi sakit ini rasanya benar-benar nyata. 


"Sari … Sar, bangun Sar! Yah, ni anak malah tidur disini!" Doni sedari tadi berusaha membangunkan Sari yang menggugah dalam tidurnya.


Itu suara Doni … kenapa aku nggak bisa bangun? Ya Tuhan apa aku masuk ke dimensi lain lagi?


Sari hanya mendengar suara pak Lingga yang meneguk setiap tetes darahnya. Ia ngilu mendengarnya. Sakit, tapi tidak bisa berbuat apa pun. Kekuatannya seolah lenyap begitu saja, ia lemah dan tidak bisa melawan.


Berkali-kali ia mencoba melepaskan diri dari kungkungan pak Lingga yang masih menggigit lehernya dalam dan semakin dalam.


Aku mati … mana penjagaku, tolong aku!


Sari kembali berusaha melepaskan dirinya, ia menendang tubuh pak Lingga sekuat tenaga. Tapi kekuatan pak Lingga jauh melebihi dirinya, ia hanya menghentikan gigitannya dan memandang Sari dengan pupil merahnya. Darah segar masih menetes di sela gigi tajam yang mengerikan.


Dia berhenti, saatnya menghajar pria jelek ini! 


Cincin yang dikenakan Sari berpendar, dengan sisa tenaganya ia memukul wajah pak Lingga dengan telak. Mendorong tubuhnya sekuat tenaga dan menghadiahi dengan tendangan di perutnya. Pak Lingga terjengkang, ia hendak menerkam Sari ketika dua maungnya muncul.


Mereka melindungi Sari yang masih mengeluarkan darah dari gigitan pak Lingga.


"Serang dia!" 


Kedua maung Sari segera mengejar pak Lingga yang mundur dan menghilang dalam kegelapan. Maung milik Sari mencoba mengejar dan menangkap pak Lingga tapi nihil. Mereka kehilangan jejak.


...----------------...


"Sar, Sari? Bangun … Gas, keknya harus Lo cium ni anak. Biar bangun kayak di film-film Cinderella gitu deh?!" Doni kesal karena Sari belum juga terbangun.


"Abis minum obat apaan sih dia? Tidur kayak orang pingsan gitu Gas?" tanya Ahmad yang ikut bingung melihat Sari.


"Dia nggak sakit kok? Duh kenapa sih kamu Beib? Sar, Sari … bangun dong dah malem ini lanjut dirumah aja yuk tidurnya?!" Bagas mengambil alih posisi Doni.


"Hhmm, belum muhrim main mo lanjutin tidur segala!" Doni kembali usil.


"Huussh, diem Lo! Lagi usaha ini gue bangunin Sari, kali aja dia demen trus bangun kan lumayan Don nyicil dulu." Bagas mengedipkan matanya berharap Sari mendengarnya.


"Enak aja Lo, nyicil! Lo kira Sari rumah bisa di DP- in Gas! Awas aja kalo Lo macem-macem ma Sari sebelum sah, gue sliding sekalian otak lo!" ancam Doni kurang kesal dengan pikiran mesum Bagas.


"Eeh, kalian malah ribut sendiri! Kebiasaan ini tolongin Sari dulu dong, coba pindahin dia di lantai mungkin nafasnya sesak." Rara berteriak melerai Bagas dan Doni.


Sari yang memang dalam posisi tertelungkup di meja, tampak kesusahan bernafas. Dengan hati-hati Doni dan Bagas memindahkan tubuh Sari kebawah. Keringat tampak membasahi tubuh Sari, nafasnya terdengar memburu. 


"Kayaknya ni anak traveling lagi deh." Doni memeriksa nadi Sari, ia juga memeriksa beberapa bagian tubuh Sari.


"Iya, ni anak lagi jalan-jalan. Bentar lagi juga balik." Doni menatap Sari dan berharap Sari segera kembali.


Doni mencoba memanggil Sari untuk kembali, ia khawatir sahabat cantiknya itu gegabah dalam bertindak.


Pulang Sar, jangan Lo ikutin emosi Lo! Belum waktunya kita lawan mereka …,


...----------------...


Maung milik Sari kembali ke tempat Sari berada. Mereka berubah wujud menjadi manusia. 


"Kami kehilangan jejak."


"Siapa pak Lingga sebenarnya?" Sari bertanya seraya memegang lehernya yang terus mengeluarkan darah segar.


"Kami hanya tahu dia memiliki kekuatan yang luar biasa." jawab salah satu jelmaan maung Sari yang bernama Abiyaksa.


"Lukamu cukup dalam, lebih baik gunakan ini Sari." 


Abiyaksa mengeluarkan sebuah kantong berisi air yang disimpan di balik bajunya. Ia mendekati Sari dan membasuh luka di leher Sari. Itu adalah air penyembuh yang dibawa dari kediaman Bayu. Sari menjerit, air itu seperti garam yang ditaburkan di atas lukanya.


"Tahan, ini memang sakit tapi lukanya akan segera menutup." Abiyaksa terus membasuh luka Sari.


Dan benar saja keajaiban terjadi. Luka Sari perlahan menutup. Sari tidak merasakan sakit lagi. 


"Berhati-hatilah dengan pria itu Sari, dia bisa mencuri mimpimu!" Abiyaksa mengingatkan Sari.


"Mencuri mimpi?" Sari belum bisa memahaminya.


"Dia telah mengambil darahmu, itu artinya kamu menjadi bagian dari dirinya. Yang kami takutkan telah terjadi. Dia bisa menjadikanmu sebagai bonekanya." 


"Kalian tahu siapa dia?" Abiyaksa menggelengkan kepala begitu juga dengan Mahesa, maung penjaga lainnya.


"Kami berusaha menolongmu tapi dia menciptakan medan energi yang cukup kuat. Maaf, kami terlambat." sesal Mahesa.


"Sudahlah, bukan salah kalian juga. Aku yang lengah. Belum aja mulai liputan udah aneh begini." 


"Masih ada bahaya lain didepan yang siap menghadang perjalanan kalian. Berhati-hatilah dengan mereka yang bersembunyi dalam bayangan." Mahesa kembali mengingatkan Sari sebelum ia dan Abiyaksa pamit undur diri.


Sari tidak menyangka mendapat serangan sedini ini dari pak Lingga. Biasanya musuh baru akan menyerang setelah sekian lama mengintai, tapi pak Lingga tidak.


Apa maksudnya menyerang ku? Sepertinya ada maksud lain dibalik penyerangan ini.