Petualang Jagad Lelembut

Petualang Jagad Lelembut
Bab 61


Sari masih asyik memotret dan mengambil gambar beberapa pusaka dan benda peninggalan kerajaan Majapahit. Sari ditemani oleh seorang pemandu dari pengelola museum.


Beberapa relik peninggalan kebudayaan Majapahit cukup menarik perhatian Sari. Kabarnya Museum Trowulan adalah museum yang menyimpan relik kerajaan Majapahit terlengkap di Indonesia. Selain itu Museum Trowulan juga menyimpan peninggalan dari kerajaan Kahuripan, Singosari, dan Kediri.


Sayangnya beberapa benda bersejarah dari kerajaan Majapahit ini justru ada yang dijual ke luar negeri. Relik-relik itu dibeli secara legal oleh pemerintah Amerika Serikat dan kini dipamerkan di Museum Metropolitan, New York.


Diantaranya ada patung Parwati, perhiasan dari emas tembaga dan juga tiga pusaka Pataka Majapahit yaitu Sang Dwija Naga Nareswara, Sang Hyang Baruna, serta Sang Hyang Naga Amawabhumi.


Sari masih melanjutkan pengambilan gambar, ia menjelajahi bagian kerajinan logam. Ia masih mencari kemungkinan pusaka yang ia cari di museum.


"Kecil kemungkinan pedang itu ada disini kan?" Sari bermonolog seraya mengatur fokus lensanya.


"Mbak sepertinya cari sesuatu?"


"Eh, mas merhatiin saya ya dari tadi?!" ujar Sari sedikit terkejut saat mendengar pertanyaan pemandu museum.


"Gimana nggak merhatiin, mbak dah kayak orang apa aja nanya sendiri jawab sendiri." sahut lelaki yang kira-kira berusia tiga puluhan tahun itu.


Sari tersenyum lalu membaca name tag yang ada di baju pemandu museum itu.


"Maksud mas kek orang gila?!" yang ditanya hanya tersenyum simpul.


"Maaf." 


"Mas … Andi?! Kenalin, saya Sari!" 


"Ehm, saya nggak bermaksud ngatain mbak gila cuma geli aja sedari tadi kok ngomong sendiri. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Andi saat menjabat tangan Sari.


"Hmm, kayaknya mas nya juga nggak bisa bantuin saya." sahut Sari sambil kembali mengambil gambar.


"Coba saja, siapa tahu saya bisa." Andi menantang Sari untuk bercerita.


Sari menghentikan pengambilan gambar, menutup lensa kameranya dan menatap skeptis pada Andi.


"Saya mencari sebuah pusaka unik, konon kabarnya itu milik Minak Jinggo."


Andi melihat Sari dengan mata menyelidik. Ia masih menunggu Sari bicara.


"Pedang Sengkayana, apa … itu ada disini?"


Andi menatap ragu sejenak pada Sari, ia sedikit tidak percaya dengan perkataan Sari. "Pedang Sengkayana?"


"Hhmm … masnya nggak tau?"


"Menurut cerita memang itu salah satu dari dua pusaka legendaris yang dimiliki Minak Jinggo. Tapi sayangnya … kami tidak memiliki keduanya." jawab Andi dengan sedikit menggantung.


"Dari yang saya lihat memang nggak ada disini sepertinya." 


"Mbak mau lihat arca yang berhubungan dengan Minakjinggo?" Andi menawarkan sesuatu yang tidak mungkin dilewatkan Sari.


"Boleh, kebetulan sekali?! Dimana arca itu?!"


Andi mengajak Sari ke sisi lain dari museum. Sebuah arca unik yang memiliki sayap yang konon katanya merupakan bentuk dari raja Blambangan legendaris Minakjinggo.


"Ini bentuk dari Minakjinggo?" tanya Sari sambil mengambil gambar.


"Sebenarnya bukan mbak, hanya saja masyarakat sekitar menamai arca ini dengan Minakjinggo."


"Jika menilik dari bentuknya ini adalah bentuk dari dewa Wisnu dalam kepercayaan Hindu. Ia memiliki tunggangan Garuda yang digambarkan memiliki sayap." Andi menjelaskan.


Sari menatap arca yang sayangnya sudah tidak utuh di bagian paruhnya. Ia masih menyangsikan jika arca yang sedang ditatapnya itu adalah wujud dari raja Blambangan yang legendaris itu.


"Arca yang serupa juga ditemukan di candi Minakjinggo. Manusia setengah burung." Andi kembali melanjutkan penjelasannya.


"Candi Minakjinggo? Hhm, dimana itu saya kok penasaran?!"


"Ada di sisi sebelah timur Kolam Segaran. Sekitar 100 meter di sebelah selatan makam Putri Campa. Candi Minakjinggo tergolong paling unik, jika dibandingkan dengan candi lainnya di kompleks situs ini."


"Oh Ya? Hmm, cukup menarik bisa antar saya kesana mas Andi?" pinta Sari dengan sangat antusias. Ia berharap bisa menemukan petunjuk tentang pedang Sengkayana. Setidaknya sesuatu yang bisa digunakan agar lolos dari ujian di dimensi lelembut.


Kali aja ada contekan jawaban di candi Minakjinggo, syukur ada jawaban untuk ngalahin makhluk bayangan itu! 


Cckk, ingat dia jadi gemes bener, bisa-bisanya aku kalah sama makhluk kegelapan itu! Eeh, bukan kalah tapi menunda kemenangan!


Tanpa sadar Sari menyeringai seraya mengikuti langkah Andi dibelakangnya. Mereka berjalan keluar museum, tapi sebelum melanjutkan langkah kakinya Andi berhenti dan menjelaskan sesuatu pada Sari.


"Mbak Sari pernah lihat pohon Maja, pohon legendaris yang disebut dalam sejarah sebagai inspirasi pemberian nama Majapahit?!"


"Saya cuma lihat di televisi sih, pohon itu ada disini juga?" tanya Sari yang mulai menyalakan kembali kameranya.


"Ini pohonnya." jawab Andi dengan senyuman. Tapi Sari melihat senyuman Andi berbeda. 


Sari tersenyum pada Andi, pria yang sepertinya berumur sama dengannya ini seolah menggodanya dengan senyuman manisnya. Gesture tubuhnya mengisyaratkan Andi tertarik dengannya.


Kamu itu manis mas Andi … sayang, saya sudah ada pemiliknya, so sorry kamu nggak bisa daftar jadi penggoda?!


Sebuah pohon besar yang terletak didepan pintu masuk museum Trowulan. Buah maja (Aegle marmelos) merupakan tanaman dari suku jeruk-jerukan atau Rutaceae yang penyebarannya tumbuh di dataran rendah hingga ketinggian ± 500 mdpl. Tumbuhan ini terdapat di negara Asia Selatan dan Asia Tenggara termasuk di Indonesia.


Buah Maja yang besar dan berwarna kehijauan itu dianggap memiliki andil pemberian nama Majapahit, meski hingga kini belum ada pembuktian secara arkeologi.


Kisah nama Majapahit terinspirasi buah maja yang rasanya pahit saat Raden Wijaya membuka Hutan Tarik. Kisah ini sebenarnya hanya mengadopsi dari naskah sastra kuno Kidung Harsawijaya (mengisahkan runtuhnya Singasari dan berdirinya Majapahit) dan naskah sastra Pararaton. Dimana tingkat kesahihan dua kitab sastra itu di bawah prasasti dan Negarakertagama.


"Mas Andi, ini beneran rasa buah Maja pahit?" tanya Sari tanpa menatap ke arah Andi, ia fokus mengambil gambar beberapa pohon Maja di depannya.


"Mau bukti? Saya ambil deh, tapi harus dimakan ya?!" Andi menawarkan tanpa sungkan pada Sari.


"Eh, no! Just asking mas Andi! Lagian kalo pahit ya nggak maulah saya makan!" tolak Sari dengan senyum kecut.


"Kalo pahit nanti lihatnya saya, kan jadi manis?!" kelakar Andi.


Eeh, serius deh ni orang beneran nggodain saya apa saya yang gede rasa?!


"Jiiiiah, iya konon … yang ada malah tambah pahit kali liat muka masnya?!" sahut Sari dengan tertawa kecil, ia tidak ingin menyakiti hati si pemandu museum.


Andi tersenyum dan wajahnya memerah menahan malu karena rayuannya gagal. "Jadi saya pahit ya Mbak?!"


Sari tertawa, "Dah ah, yuk ke candi Minak Jinggo! Saya penasaran pengen liat!"


"Ok, yuk jalan-jalan sebentar! Nggak jauh kok."


Mereka kembali berjalan menuju candi Minakjinggo. Tempat dimana konon kabarnya jasad Minak Jinggo diperabukan dan didoakan agar dosa-dosanya lebur dan diampuni sang Dewata.