Petualang Jagad Lelembut

Petualang Jagad Lelembut
Bab 70


Doni sedikit terkejut mendapatkan serangan mendadak dari salah satu makhluk jelek dengan bau anyir darah dari tubuhnya. Suara geraman yang keluar dari mulut makhluk jelek itu sempat membuatnya terkejut.


Mereka siluman? Jangan-jangan ini makhluk sebangsa pak Lingga, immortal! Gawat kalo emang betul.


Makhluk itu menerjang Doni, menendang dan memukul. Berusaha mencakar Doni dengan kuku hitam panjangnya. Doni masih bisa berkelit dan menahan tangan yang hampir saja mendarat tepat di dadanya.


"Uups, nyaris saja!" katanya seraya tersenyum sinis pada makhluk yang menggeram itu.


Makhluk itu kembali menyerang Doni berusaha melukai Doni dengan kuku tajamnya. Layaknya wolfman dalam serial X-Men makhluk itu menyerang secara brutal dan mengejar Doni hingga ke tepian candi Tikus. 


Doni berkelit ke kanan dan kekiri dan ketika kesempatan itu datang ia segera melayangkan pukulan tepat di dadanya. Makhluk jelek itu terlempar mundur, jatuh keras ditanah dan tidak bergerak lagi. Dia mati.


Doni mengeluarkan tenaga dalamnya dalam pukulan itu dan seketika menghancurkan jantungnya. Doni tersenyum sinis menatap tubuh makhluk dengan wajah seperti mayat hidup itu.


"Syukur deh mereka bukan immortal, jadi sedikit ringan." gumamnya singkat.


Tiba-tiba dari arah belakang ada yang menyerang Doni dengan cepat. Makhluk kegelapan itu melompat dan hendak menggigit leher Doni, untung saja Doni berhasil menahan kepala makhluk bernafas bau dan panas itu.


Doni dengan cepat menarik dan membanting tubuh lawannya ke depan. Makhluk itu menggeram dan meronta melawan. Doni menguncinya, ia duduk diatas tubuh manusia setengah iblis itu menekannya kuat dengan kaki.


Pusaka milik Doni muncul begitu saja ditangannya dan dengan cepat Doni menghujamkan keris Luk sebelas dengan ukiran naga yang indah itu tepat di jantung. Satu lagi makhluk kegelapan mati dengan luka menganga di dadanya.


Doni menoleh ke arah Pak Agus, rupanya dia sedikit kewalahan karena dikerubuti oleh tiga makhluk yang menyerangnya bergantian. Untuk sesaat Doni memperhatikan para pengganggu itu, 


"Mereka selalu mengincar leher, seperti penghisap darah … tunggu apa mereka dan Rara …,"


"Butuh bantuan pak?" tanya Doni iseng seraya memukul telak salah satu makhluk yang terus mengeluarkan geraman itu.


"Mas Doni boleh nonton aja kalo mau, tapi tetap harus bayar seratus ribu per kepala mereka!" sahut Pak Agus yang sibuk melayani pukulan dan tendangan dari lawannya.


"Aah, saya tiba-tiba nyesel nanya niih!" Doni menyeringai pada Pak Agus.


Mereka berdua bekerja sama saling melindungi dan melawan para makhluk yang datang silih berganti. 


Ketiga makhluk yang menyerang pak Agus sudah berhasil dikalahkan tapi sayangnya jumlah mereka yang bersembunyi rupanya masih banyak. Para manusia setengah iblis itu terus berdatangan dan menyerang Doni dan Pak Agus.


"Gila … masih berapa banyak ini mas Doni! Saya sudah kehabisan nafas!" keluh pak Agus sambil mengatur nafasnya. Mereka berdiri saling membelakangi melindungi satu sama lain.


"Nggak tahu pak, saya juga mulai kehabisan tenaga ini! Udah deh pokoknya kita berantem sampai titik darah penghabisan!" 


"Iya mas Doni, lebih baik kalah sebagai ksatria daripada mundur sebagai pengecut!"


"Wiiih keren tuh kata-katanya! Duh apes bener saya, masih jomblo udah kudu mati muda aja disini, mana lawan demit beginian lagi?!"


"Eh jangan putus asa mas Doni, berdoa saja semoga ada keajaiban!"


Doni dan Pak Agus saling berpandangan dan mengangguk sebelum akhirnya mereka berdua kembali bertarung.


Fighting till the end!!