
Bayu tak tega melihat Sari yang terisak, ia menarik Sari dalam pelukannya.
"Tenangkan dirimu Sari, dan tentukan pilihan yang terbaik. Untukmu dan untuk semuanya."
Sari akhirnya bisa menguasai dirinya kembali. Ia mengusap matanya yang basah dan kemudian tersenyum.
"Jadi melow begini sih. Aku harus kuat, ya kan?" tanya Sari pada Bayu yang disambut senyuman.
"Iya kamu harus kuat. Yang terjadi sekarang tidak bisa diulang lagi, kamu juga tidak bisa kembali ke masa lalu untuk mengubah cerita."
"Yang harus aku lakukan menghadapi yang selanjutnya, begitu kan?" tanya Sari berusaha tegar.
"Good girl … pulanglah dan lakukan meditasi." saran Bayu.
Sari mengangguk dan tak lama ia kembali pada tubuhnya. Sari membuka matanya perlahan, lalu merebahkan tubuhnya. Mengistirahatkan sejenak dirinya sebelum kembali menatap dunia.
...----------------...
Dikamar lain dalam hotel yang sama,
Lingga menatap jauh ke luar jendela hotel. Memorinya sedang memutar pertarungan yang ia curi dari penglihatan Airlangga.
Meski keduanya berseberangan tapi ikatan darah membuat keduanya tetap terhubung. Apalagi keduanya adalah saudara kembar yang memiliki ikatan tak biasa.
"Rupanya Sari sudah mendapatkan pedang itu." gumamnya pelan.
"Maaf, tuan mengucapkan sesuatu?" tanya Saka memastikan.
Lingga mendengus kasar, lalu berbalik menatap Saka. "Sari."
"Mbak Sari? Ada apa dengan mbak Sari tuan?"
"Pedang itu sudah ada padanya." Lingga berjalan mendekati meja, mengambil ponselnya tapi kemudian urung membukanya.
"Kenapa jadi serumit ini? Harusnya semua bisa selesai dalam waktu singkat."
"Apa saya perlu mencuri pedang itu?" tanya Saka lagi.
Lingga terdiam sesaat, berpikir lalu menatap Saka. "Tidak perlu. Aku harus melakukan sesuatu, jika rencana A tidak berhasil maka aku perlu menjalankan rencana B."
"Maksud tuan …," Saka menyadari sesuatu dan ingin memastikannya pada tuannya.
Lingga mengangguk pada Saka memberi kode yang langsung dipahami Saka. Ia tinggal menunggu perintah dari tuannya saja.
"Tak kusangka jadinya malah begini, semuanya runyam gara-gara adikku!" katanya dengan geram.
"Andai Airlangga tidak memberinya racun dan aku tidak memberinya racun tandingan juga, Sari tidak akan berubah seperti kami."
"Ya, dia ... sudah berubah menjadi seperti aku, abadi. Siapa sangka racun yang kami berdua tanam dalam tubuhnya justru bisa menyatu sempurna dengan bantuan energi dari kujangnya itu." jawab Lingga datar tanpa ekspresi
"Kalo mbak Sari abadi maka rencana tuan semula tidak bisa berjalan?"
"Itu sebabnya kita jalankan rencana yang lain." Lingga gelisah, dirinya mulai frustasi.
Lingga meminta Saka mendekat ia lalu berbisik pada Saka. Tak lama kemudian Saka pun pergi meninggalkan Lingga sendiri yang memilih memejamkan mata.
Maaf, jika harus berbuat kejam. Tapi aku harus melakukannya, cuma kamu yang bisa mengakhiri semua ini.
...----------------...
Sari terbangun saat suara lembut menyapanya. Tubuh lelahnya kini terasa segar kembali.
"Sar, mau tidur sampai jam berapa? Kita mau ke makam, kamu mau ikut?" Bagas membangunkannya.
"Ehm, jam berapa ini?"
"Jam 3 sore. Kamu tidur seharian, lelap banget. Doni ngelarang buat bangunin kamu."
"Ooh … jam 3 sore?" Sari duduk dan mengintip dari balik tirai.
"Kita sekalian check out nanti. Sekarang kamu mandi, terus kita pergi. Aku tunggu di bawah ya?"
Sari tersenyum dan mengangguk. Bagas mengusap lembut rambut Sari, sedikit merapikan dan mencium kepala Sari.
"I love you."
"Cepat sedikit yaa, takut kesorean ke makam." Pesan Bagas seraya menutup pintu kamar.
Sunyi dan seperti masuki ruang hampa, itu yang Sari rasakan saat memasuki pintu pemakaman. Makam Ahmad masih dipenuhi bunga segar, sisa semalam. Sari dan tim Journey to the East, membacakan doa di sisi makam Ahmad.
Kesedihan masih bergelayut di wajah mereka. Sari kembali meneteskan air mata.
"Maafin aku Mad." ujarnya lirih dengan menuangkan air doa yang dibelinya di depan pemakaman.
Bagas mengusap lembut punggung Sari, memberinya kekuatan. "Udah Sar, jangan nyalahin diri sendiri terus. Ahmad juga tahu itu bukan kesalahan kamu, dia juga pasti sedih kalo liat kamu begini terus dari atas sana."
"Iya Sar, udah. Jangan terlalu larut gitu. Bukan salah Lo, ini takdir yang memang sudah jadi jalannya Ahmad." Doni menambahkan.
Sari diam dan mengusap nisan Ahmad.
Mad, tenang ya disana … aku akan selesaikan semuanya. Aku bakal sering kesini nengokin kamu juga emak kamu. Makasih sudah jadi sahabat terbaik sampai akhir hidup mu.