
Sari terhenyak, semuanya terjadi begitu cepat didepan matanya. Ia berlari meraih tubuh Bagas diikuti Doni.
"Gas … please don't leave me beb! Bertahan sayang, bertahan untuk aku!" Sari memohon agar Bagas bisa bertahan.
Tangannya berusaha menekan luka di dada Bagas yang terus mengeluarkan darah. Doni tidak bisa berkata apa pun. Kerlipan masa depan itu menjadi nyata di depannya.
Dalam penglihatan Doni, ia memang melihat Bagas yang tewas ditangan seseorang dengan cara yang sama persis. Ia merutuki kebodohannya yang tidak bisa menebak jika Lingga yang akan membunuh Bagas.
Sari terus berteriak memanggil nama Bagas. Tapi Bagas tidak merespon, ia hanya dua kali terbatuk dengan darah menyembur dari mulutnya.
Bagas tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun meski ia sangat ingin bicara. Tubuhnya lemah tanpa daya merasakan nafasnya yang perlahan berubah pendek dan berat.
Seulas senyum diberikan pada Bagas untuk calon makmum yang terpaksa batal ia nikahi. Tangannya hendak meraih wajah Sari tapi belum juga sampai Bagas terkulai lemas. Ia pergi untuk selama lamanya.
"Gas … nggak, jangan ninggalin aku, Gas! Bagas … no, kembali Gas … jangan tinggalin aku! Bagas …!"
Sari menjerit dalam pilu. Ia kembali harus kehilangan Bagas, orang yang paling dicintainya. Belum juga sembuh luka yang lalu kini justru luka itu kembali digores lebih dalam.
"Sar, ikhlasin … Bagas udah pergi." Doni menunduk dalam, hatinya pun sakit karena gagal meyelamatkan dua sahabatnya dalam waktu yang berdekatan.
...----------------...
Di sisi lain, saat Sari dan Doni masih meratapi kepergian Bagas.
"Akhirnya kutukan ini segera berakhir!" Lingga tersenyum penuh kemenangan.
Ekspresi Airlangga datar saat melihat perubahan raut Lingga. Dengan tenang ia meletakkan cangkir kopinya.
"Kau benar-benar ingin kehilangan keabadian? Menggelikan sekali!" kata Airlangga seraya berdiri menuju meja di sebelah, tempat dimana pedang Sengkayana diletakkan.
"Baiklah sepertinya aku sudah cukup menonton, waktunya aku mengambil alih kendali," ujar Airlangga dengan angkuhnya.
Airlangga sejak awal memang sudah menduga jika kakaknya ingin mengakhiri keabadiannya. Dia dan Lingga memang berseberangan sejak pengaruh dukun jahat, Nenek Surti masuk ke dalam tubuhnya.
Itu sebabnya ia menghasut Bram dan Ray serta Atikah agar menyusup dalam tim Lingga. Ia tak rela jika kakaknya harus mati sia-sia setelah susah payah dirinya menjauhkan Lita dari Lingga.
Dia akan kesepian jika Lingga pergi. Persaingan mendapatkan Lita cukup menyenangkan untuknya dan ia berharap akan ada persaingan lain yang bisa mereka lakukan.
Tapi mendengar rencana Lingga yang ingin mengakhiri hidupnya dengan pedang Sengkayana membuatnya marah. Ia berpikir jika pedang itu bisa dikuasainya Lingga akan tunduk padanya dan ia bisa bermain-main lagi dengan kakaknya itu.
Informasi yang ia dapatkan dari anak buahnya bahwa Sari menjadi abadi membuatnya senang karena artinya rencana Lingga gagal. Sayangnya Lingga memiliki rencana lain.
Lingga dilahirkan sebagai kesatria dan untuk itu ia pun ingin mati oleh seorang kesatria pula. Adalah sebuah kehormatan baginya untuk mati di tangan Sari, meski itu harus dilalui dengan cara yang rumit.
"Jika aku menjadi dirimu aku tidak akan melakukannya!" Lingga mengingatkan adiknya ketika melihat Airlangga hendak mengambil pedang Sengkayana.
"Ohya kenapa? Karena bisa membunuhku?" tanyanya skeptis.
"Huh, coba saja kalau kau bisa!" Lingga tidak ingin berdebat dan membiarkan Airlangga mencobanya.
Airlangga mengejek Lingga, ia menjulurkan tangannya hendak memegang gagang pedang. Belum juga tangan Airlangga menyentuh gagang pedang, sengatan energi yang luar biasa langsung menyentaknya. Membuatnya mundur beberapa langkah.
"Aku sudah mengingatkanmu!" Lingga membalas ejekan Airlangga.
"Apa itu? Pedang itu menolakku?! Mustahil!"
"Pedang itu hanya bisa digunakan oleh pemiliknya. Seseorang yang telah dipilihnya sendiri untuk menguasainya. Pedang Sengkayana adalah pedang pembunuh kaum immortal dan hanya Sari sebagai yang terpilih yang bisa memakainya," terang Lingga seraya menatap Sari yang masih menangis histeris memeluk tubuh Bagas yang tak bernyawa lagi.
"Sial! Jadi sia-sia aku menunggunya selama ini!" gerutu Airlangga sambil memegang tangannya yang kebas karena sabetan energi itu.
"Huh, sekian lama hidup otakmu masih saja dungu!" Lingga mengejek adiknya itu.
Airlangga menanggapinya dengan senyum sinis. Ia kini menatap Sari yang telah bersiap bersama keempat penjaganya dan Doni. Mereka bersiap menuntut balas.
"Aaaah, rupanya dia telah bangkit! Lihatlah Dewi kematian itu akan datang padamu, kak!"
"Aku sudah menunggu waktu ini selama beberapa abad. Jangan berani mengacaukan rencanaku, Airlangga!" Lingga memperingatkan adiknya dengan penuh tekanan.
"Terlambat!" Airlangga meyeringai.
Dengan kekuatannya Airlangga melemparkan tubuh Lingga dengan mudah hingga terpelanting beberapa meter.
"Kau cukup menontonku dipinggiran kak, aku akan membereskan semuanya! Aku sungguh tidak rela kau mati, kita akan terus bersama dalam keabadian ini!" Airlangga bersiap menghadapi kemarahan Sari dengan memasang dirinya sebagai pelindung Lingga.
Sari berhenti menangis, ia memeluk erat tubuh Bagas. "Darah dibayar darah, nyawa dibayar nyawa!"
Suara Sari bergetar menahan amarah yang memuncak saat memberi perintah pada penjaganya.
"Bimasena, Abiyaksa, Mahesa, Kandra … bantu aku menghabisi mereka!"
"No Merci for everyone!"