Petualang Jagad Lelembut

Petualang Jagad Lelembut
Bab 29


Sari dan pria berpakaian hitam itu saling berhadapan. Keramaian orang yang berada di pasar itu seolah tersibak begitu saja. Dalam penglihatan Sari pria dengan aura aneh dan kuat itu turut membawa serta penjaganya.


Aku harus tersipu apa gimana itu ngadepinnya? Perasaanku apa cuma mataku yang salah lihat kalau dia bawa penjaga juga?


Sari yang menangkap kelebatan harimau putih di sisi pria itu.


"Dia kawan, Sari … mendekatlah dan perkenalkan dirimu?!" Patih Bimasena berbisik pada Sari.


"Kawan? Akhirnya ada juga orang yang bisa satu kubu dengan ku. Yakin dia kawan, amankan?"


"Perlu dicoba dulu, biar yakin dia kawan?"


"Bisa ya? Apa kita perlu tes dulu dia?"


"Sari … ini bukan waktunya bercanda! Sapa dia, lelaki itu adalah bagian dari cerita masa lalu. Kita butuh dia untuk membantumu?!"


"Bagian dari masa lalu? Maksud kamu dia seperti Lingga? Immortal?"


"Saya juga nggak yakin tapi …"


"Bimasena! Kalo kamu aja nggak yakin bilang dia kawan, apalagi saya!"


"Test drive?!" Bimasena mengajukan pertanyaan konyol pada Sari.


"Waah, sejak kapan penjaga seperti kamu bisa ngerti bahasa sekarang?! Udah kek Bayu aja, demit milenial kalian?!" Sari tertawa kecil."


Baru saja Sari selesai menertawakan Bimasena, sosok pria berbaju serba hitam itu tiba-tiba saja sudah berada di depan Sari dengan senyuman manis bak artis Korea yang sedang tebar pesona.


"Sudah selesai bicaranya dengan dia, Sari?!"


"Eh, kok situ tau nama saya? Kita kan belum kenalan mas?!"


"Saya tahu kamu sejak kali pertama kamu menginjakkan kaki di kota Banyuwangi. Kedatangan kamu bahkan sudah dinantikan."


"Saya? Wah masnya salah orang nih. Saya cuma jurnalis yang mau meliput budaya disini."


Lelaki itu tertawa, dan memperkenalkan dirinya. "Kenalkan, saya Airlangga?!"


"Airlangga? Nama yang bagus." sahut Sari dengan menatap wajah Airlangga yang tampak begitu tampan.


*Cuma p*erasaan saya aja ni kayaknya, kenapa namanya mirip seperti Lingga … Airlangga, Lingga? Aneh!


"Teman kamu … siapa namanya? Dia ada dalam pengaruh sihir hitam, seseorang yang aku kenal." Airlangga bertanya dengan ekspresi serius.


"Rara, kamu juga tahu rupanya. Tunggu, kamu kenal energi yang mempengaruhi Rara?"


Airlangga mengangguk, "Dia musuh dari yang abadi, musuhku juga … jika dia ada disini itu artinya …," 


Untuk sesaat Airlangga berpikir, dan kemudian melanjutkan perkataannya. "Ikut aku Sar, ada yang harus aku tunjukkan padamu!"


Sari belum menjawab ketika Airlangga menariknya masuk ke dimensi lain. Sebuah perjalanan kembali ke masa lalu. 


Sari yang terkejut hanya bisa mengikuti Airlangga menembus batas waktu bukan perkara mudah, hanya orang-orang tertentu yang bisa melakukannya. 


Mereka tiba di sebuah masa dimana perang sedang terjadi dengan sengitnya. Perang antar dua kerajaan besar, ratusan bahkan ribuan orang terlibat didalamnya.


"Ini … " Sari menatap tak percaya ke arah Airlangga.


"Inilah perang yang disebutkan dalam sejarah. Perang yang berawal dari perjodohan dan berubah menjadi ambisi yang merugikan seluruh kerajaan." Airlangga berkata dengan geram, rahangnya mengeras bahkan tangannya mengepal menahan rasa. 


Sari menoleh pada Airlangga, kekuatan spiritual Airlangga begitu luar biasa hingga Sari bisa merasakan tekanan yang sangat kuat di tubuhnya.


"Sebenarnya perang apa ini? Aku pernah datang kemari."


"Inilah perang Bubat, perang antara Majapahit dan Pasundan … lihatlah para kesatria itu, mereka bahkan berjuang tanpa menyerah ditengah keterbatasan kekuatan mereka." Airlangga memejamkan matanya, ia sedih.


"Majapahit dan Pasundan? Tunggu dimana Mahapatih legendaris itu … Gajahmada? Dari dulu aku penasaran deh sama mukanya?!" Sari celingukan mencari sosok yang sangat dikagumi itu.


"Untuk apa kamu bertanya tentang dia?!" Airlangga membuka matanya dan menatap Sari dengan tajam.


Sari terkesiap, energi Airlangga seolah mencekiknya. Tatapan Airlangga begitu mengerikan dan membuat Sari sedikit terganggu.


"Eh, itu karena … nama besar dia sebagai Mahapatih yang bersumpah setia pada Majapahit. Dia tokoh penting yang dianggap sebagai pemersatu Nusantara."


"Huh, tokoh penting?! Sepenting apa dia dizamanmu?! Dia … penyebab semua kesengsaraan ini!" Airlangga menjawabnya dengan geram.


"Eh, dia? Serius? Kenapa bisa? Setiap pelajaran sejarah nama dia keluar lho?" Sari menjawab tanpa berani menatap Airlangga yang menakutkan.


Airlangga masih terus menatapnya tajam, lalu ia membuang wajahnya jauh kembali menatap peperangan yang berlangsung di depan mata mereka.


"Ambisinya telah meruntuhkan sebuah kerajaan besar. Kerajaan yang seharusnya mengalami masa kejayaan hingga akhir, kerajaan yang harusnya dia jaga dan lindungi seumur hidupnya harus runtuh karena ambisinya!"


"Wow, seriously? Saya kok baru denger cerita itu." Sari tidak percaya dengan perkataan Airlangga.


"Ada yang harus aku tunjukkan padamu!"


Airlangga kembali membawa Sari ke sebuah tempat dimana terjadi perselisihan antara beberapa utusan Pasundan dan perwakilan kerajaan Majapahit di sebuah pendopo kerajaan. Singgasana tampak kosong, hanya ada mereka yang terlibat perdebatan sengit.


Sari tidak bisa mendengar suara mereka, semua itu bagaikan film dokumenter tanpa suara. Sari melihat jelas bagaimana kekecewaan utusan tanah Pasundan saat mendengar pernyataan perwakilan Majapahit.


"Mereka bilang apa?"


"Kamu nggak perlu tahu apa isi pembicaraan itu, yang jelas para petinggi Majapahit telah menghina dan mengkhianati perjanjian bersama mereka."


Airlangga kembali melanjutkan perkataannya, "Majapahit ingin Pasundan dengan sukarela berada dibawah kekuasaannya dengan menyerahkan sang putri tapi Pasundan mengira pernikahan Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka adalah murni cinta, mereka kecewa dengan sikap Patih gila itu dan menganggap itu adalah kehendak Hayam Wuruk!"


"Cinta? Prabu Hayam Wuruk? Bukannya dia sudah punya beberapa selir dan ratu?"


Airlangga menoleh pada Sari, "Kau pikir begitu? Sebagai raja pernikahan hanya sebuah simbol diplomatik saja, terkadang tidak butuh cinta diantara mereka. Yang dibutuhkan hanya keturunan untuk melanggengkan hubungan antara dua kerajaan."


Sari menggelengkan kepalanya, "Sulit kalo begitu, mana bisa pernikahan tanpa cinta?!"


"Hayam Wuruk langsung jatuh cinta pada sang putri saat melihat lukisan wajahnya. Ia merasakan cinta yang baru kali pertama ia rasakan. Itu sebabnya dia sangat menginginkan pernikahan itu berlangsung."


"Dan si Gajah Mada itu menghancurkan segala angannya? Betul nggak?!"


Airlangga menarik tangan Sari dan kembali ke sebuah tempat. "Lihat baik-baik Sari, apa yang terjadi?!"


Sari terkejut melihat peristiwa langka yang belum pernah dilihatnya. Layaknya adegan film atau sinetron yang tragis tentang percintaan dua anak manusia. Air matanya bahkan tak kuasa dibendungnya lagi. Sebagai seorang wanita, ia turut merasakan kesedihan yang terjadi di depan matanya, tragis.


Benarkah peristiwa ini ada? Ya Allah, ini sangat menyedihkan! Ternyata cerita Romeo dan Juliet di Indonesia juga ada …,