
Lingga kembali ke homestay dimana Sari dan tim Journey to the East menginap. Ia tak menyadari sepasang mata sedang mengawasinya dari kejauhan. Lingga terdiam sejenak di teras rumah menatap jauh ke depan. Pikirannya berat.
Untuk sejenak ia memejamkan matanya. Lingga baru menyadari ada energi lain disekitarnya. Dengan sedikit pergerakan tangannya dengan mudah menghempaskan pemilik energi itu dan memaksanya keluar.
Terdengar jeritan kecil seorang wanita tak jauh dari Lingga berdiri. Dia mengumpat Lingga dengan sesuka hatinya. Itu Sari.
"Nggak lucu! Ngapain sih pake sok-sokan nunjukin kekuatan! *I'm not your enemy! " (Saya bukan musuhmu!)
"Jij oude man! Zet op een show toon alles! Dit is hoe lang je leeft*."
(Dasar pak tua pake acara unjuk gigi segala! Begini ini nih kalo kelamaan hidup!)
Lingga yang mendengar umpatan Sari tertawa apalagi melihat Sari terjungkal dari duduknya.
"Siapa suruh kamu mengintip disitu?!" ujarnya seraya menghampiri Sari dan membantunya berdiri.
"Siapa juga yang ngintip! Orang lagi nungguin pak Lingga! Baru mau deketin malah diserang begini udah kek stalker yang ketahuan ma target aja ini!" sahut Sari, ia menyambut uluran tangan Lingga yang ingin membantunya.
"Sorry, saya cuma jaga-jaga aja takut ada musuh."
"Jaga-jaga sih boleh tapi masa nggak tahu itu saya! Sakit tau nggak!"
"Cck, gitu aja ngeluh sakit bukannya kamu pernah luka yang lebih parah dari ini?!" ejek Lingga.
"Cck, udah salah pake acara ngejek!" sahut Sari kesal.
"Iya …iya, saya kan dah minta maaf! Nggak mau maafin nih ceritanya?"
Sari melirik kesal ke arah Lingga yang masih tersenyum padanya. Ia kesal bukan karena sakit di pantatnya yang dengan sukses mendarat di lantai dengan keras tapi karena wajah Lingga yang begitu tampan ketika dilihat dengan jarak dekat.
Damn, hai mata kenapa kamu pake acara lihat muka dia sih! Tapi … ganteng juga dia, sayang dah tua! Batin Sari yang membuatnya geli sendiri.
"I know what you are thinking about me, Sari?!"
(saya tahu apa yang kau pikirkan Sari?!)
"What, I'm not thinking about you! Dasar ge-er!" Sari merona, ia malu.
(apa, aku nggak mikirin kamu!)
Tawa Lingga meledak melihat semburat merah dipipi Sari, "Itu muka dah kayak kepiting rebus lho, kamu masih mau ngelak nggak mikir wajah tampan saya?"
"Iiish, that's so rude!" seru Sari.
(itu nggak sopan!)
"Eh, tunggu! Kamu bisa baca pikiran saya?!" lanjut Sari.
Lingga mengangguk, "Sama seperti kamu yang juga bisa baca pikiran kan?"
Aah, sial! Kan jadi ketauan kalo aku suka muka gantengnya! Uups …,
"I hear that too?!" kata Lingga kembali tertawa.
(saya juga mendengarnya?!)
"Bisa nggak jangan baca pikiran orang!" pinta Sari setengah berteriak.
Lingga tertawa lepas, ini kali pertama ia merasa begitu nyaman dan senang. Sari membuatnya sedikit melepas ketegangan.
"Ok, sekarang serius deh! Kamu ngapain nungguin saya disitu? Besok kita liputan pagi kan, ni dah malam kenapa nggak istirahat?"
"Kenapa?"
Sari berjalan ke kursi di teras dan mendudukkan dirinya dengan kasar. Ia melirik ke arah Lingga sebentar lalu berkata. "I have vision!" . (Saya melihat sesuatu!)
Lingga menghentikan tawanya sejenak, lalu berjalan mendekati Sari, ia mengambil posisi berhadapan dengan Sari.
"Bisa ceritain?"
"Entahlah mungkin cuma ketakutan saya saja. Just forget that!" (lupain!)
Lingga masih menatap tajam Sari berharap gadis cantik blasteran indo Belanda di depannya itu berubah pikiran.
"Saya serius pak Lingga, lupain?!" kata Sari lagi tanpa harus menatap Lingga dua kali.
"Ok, kalo kamu nggak mau cerita it's fine."
Sari terdiam sesaat, lalu menanyakan sesuatu pada Lingga. "Saka … kenapa saya curiga sama dia? Boleh tahu dimana pak Lingga nemuin tu orang?"
"Kenapa kamu curiga, dia tangan kanan saya dari dulu. Satu-satunya yang terlibat langsung dengan kehidupan saya selama berpuluh-puluh tahun lamanya."
"Oh, gitu ya." kata Sari singkat.
"Jiwanya terlalu gelap untuk seseorang yang biasa-biasa aja. Apa … pak Lingga nggak ngerasain sesuatu tentang dia?"
Lingga mulai terpengaruh, "Nggak, apa itu bisa jadi masalah untuk kita kedepannya?"
"Maybe, terkadang orang terdekat kita bisa jadi orang yang paling membahayakan untuk kita." jawab Sari menatap Lingga dengan yakin.
"Kamu benar, kalo kamu memang khawatir tentang dia aku bakal mengawasi gerak geriknya."
"No, jangan begitu. Ini kan cuma feeling saya aja pak, takutnya saya salah yang ada jadi fitnah. Saya, cuma mengingatkan sedikit."
Mereka berdua terdiam asyik dengan pikirannya masing-masing. Sari memikirkan cara agar liputan dan misinya mencari pusaka bisa berjalan beriringan dan Lingga memikirkan perkataan Sari tentang Saka.
Lingga memang sedikit curiga dengan Saka akhir-akhir ini tapi ia berusaha menepisnya. Anak kecil yang ia asuh sebaik mungkin rasa tidak mungkin mengkhianati nya begitu saja, kecuali …,
"Nggak mungkin karena itu kan?" gumamnya sendiri.
"Pak Lingga bilang apa barusan?" Sari mendengar gumaman lirih Lingga.
"Ehm, nggak … cuma sedikit mikir." sahutnya dengan senyum manis di bibirnya.
Damn, ni aki-aki beneran ganteng … andai dia belum tua aku bisa pindah ke.lain hati dari Bagas ke dia!
"Don't you think about that Sari! Saya nggak jamin kamu bisa menghindar dari pesona saya!" Lingga kembali membaca pikirannya.
( jangan kamu pikirkan tentang itu Sari!)
"Pak! Nggak sopan bener baca pikiran orang ni! Nggak seru!" ucap Sari kesal, ia berlalu meninggalkan Lingga sendiri.
"Eeh, kita belum selesai bicara Sari! Mau kemana kamu?!"
"Mo ke Arab, nyari onta biar nggak kebaca pikiran ma bapak!"
Lingga kembali tertawa, "Sari … Sari, semoga saja kamu tetap seperti itu meskipun takdir yang kau pilih menyakitkan." ujarnya lirih.
Pilihan Sari untuk membantu Lingga seperti buah simalakama. Menguntungkan dan merugikan saat bersamaan. Lingga memang tidak menjelaskan resiko yang dihadapi Sari dengan pasti karena dia sendiri belum memahami apa yang akan terjadi.