
Mereka terdiam sesaat lalu Sari kembali bertanya, "Sebenarnya apa yang dimaksud dengan pertukaran jiwa? Apa jiwaku masuk ke tubuh Lingga? Ganti posisi? Jadi cowok dong?"
Bayu sedikit menarik senyumnya, "Bukan itu yang dimaksud Sar. Pertukaran jiwa disini hanya perumpamaan kata, bukan jiwa kalian yang tertukar, jiwamu menempati tubuh Lingga lalu sebaliknya jiwa Lingga menempati tubuhmu … bukan seperti itu!"
"Lalu seperti apa, Bayu?"
"Secara sederhana seperti yang aku bilang tadi, Lingga hanya menukar keabadiannya dengan manusia biasa yang notabene bisa mati kapan saja. Hanya saja manusianya tertentu, seperti kamu … atau perempuan yang memiliki kekuatan melihat sampai ke dasar jiwa manusia dengan matanya," jawab Bayu menerawang jauh.
"Heh, siapa lagi itu? Apa ada orang seperti itu di dunia ini?" tanya Sari skeptis.
"Mungkin kamu akan bertemu dia di kemudian hari."
"Oh i see, kamu semakin banyak teka teki. I hate that!" ucap Sari kesal.
Bayu menimpali dengan nada berat, "Soal pedang itu …."
"Kenapa soal pedang? Jadi pedang sengkayana itu fungsi pastinya apa …?" tanya Sari menatap nanar pada Bayu, menuntut jawaban cepat dan akurat.
Bayu menjelaskan, "Mereka yang abadi tidak bisa dilukai dengan senjata biasa. Hanya pedang Sengkayana yang bisa melukai mereka karena memiliki kutukan yang sama."
"Aku rasa tujuan Lingga sekarang mungkin ingin mengakhiri hidupnya dengan pedang itu. Aku hampir yakin kalau fokusnya adalah terbunuh oleh pedang itu. Dia pasti sedang memikirkan caranya sekarang mengingat rencana awalnya untuk melakukan pertukaran jiwa denganmu bisa dianggap gagal total."
"Apa mungkin dia bermaksud … mencari gara-gara denganku agar aku suka rela membunuhnya?." Sari mencoba memahami penjelasan Bayu.
"Apa saja bisa terjadi dan menjadi rencananya, Sar! Aku tidak pasti soal itu, tapi melihat gelagat Lingga beberapa waktu lalu, aku menaruh curiga padanya." Bayu berkata datar.
Sari terdiam, dia melangkahkan kaki ke saung kecil di halaman rumah Bayu. Raut wajahnya berubah muram.
"Jika aku menjadi abadi, itu artinya aku juga akan mengalami siksaan seperti Lingga." Sari bergumam lirih menatap jauh ke depan.
"Juga hidupku kan?" tanya Sari pasrah.
Bayu menghela nafas berat, "Iya betul, sayangnya juga begitu. Pilihan ada ditanganmu Sari. Kamu yang menentukan hidupmu, bukan orang lain!"
"Menjadi abadi bukan bagian dari rencana hidupku, Bayu!" ucap Sari dengan suara bergetar.
"Aku mengerti, Sar! Tapi takdir sudah berjalan tanpa bisa dihentikan."
"Aku cuma mau hidup bahagia bersama Bagas, memiliki kehidupan yang baik memiliki keturunan dan menua bersama. Bukan melihat dan mengantarkan orang yang aku cintai pergi tanpa aku menua dan berubah sedikitpun." Sari mulai terisak.
"Itu juga yang diinginkan Lingga, dia ingin menukar keabadiannya denganmu karena ingin menua dan mati secara normal sebagai manusia. Merasakan sakit, mungkin jatuh cinta dan berumah tangga. Aku rasa itu alasan logis yang bisa diterima meskipun terdengar jahat!" jelas bayu gusar.
Dia hanya bisa menatap iba pada Sari tanpa bisa berbuat apapun. Bayu hanya salah satu abdi yang ditugaskan para leluhur sebelumnya untuk menjaga Sari dan keturunan trah Siliwangi lainnya tanpa bisa ikut campur dalam kehidupan pribadi. Bayu hanyalah seorang penasihat.
...☘️☘️☘️☘️☘️...
...selamat malam semuanya......
...mohon maaf sebelumnya bab 86 & 87 saya revisi semua, semoga bisa lebih enak dibaca yaa...maaf atas ketidaknyamanan teman2 semua🙏...
...maklum authornya LG agak eror gegara salah muter lagu plus kurang Aqua 🤭🙈...
...terimakasih atas dukungan, saran dan kritikannya juga...love u all🥰🥰...
...☘️☘️☘️☘️☘️...