
Sari panik, ia berusaha menyadarkan mbak Pur. Para pengintai itu cukup cerdas. Mereka memakai tubuh mbak Pur untuk masuk ke dalam pagar gaib.
Rupanya mereka selama ini telah mengawasi kondisi rumah Sari dan mengamati siapa saja yang bisa keluar masuk rumah dengan mudah.
Mbak Pur akhirnya sadar setelah Sari sedikit memberinya air yang berisi mantra penyembuh.
"Mbak Sari,..." Suaranya terdengar lirih ketika membuka matanya.
"Alhamdulillah … mbak Pur bisa bangun? Kita masuk ke dalam dulu ya?"
Sari membantu mbak Pur berdiri dan memapahnya masuk ke dalam rumah. Tubuhnya masih lemas akibat dirasuki salah satu pengintai.
"Astaghfirullah, mas Doni!" Mbak Pur memekik kaget.
"Nggak apa ko mbak, dia cuma pingsan bentar. Mbak Pur duduk disini dulu biar saya urus Doni." Sari membimbing mbak Pur untuk duduk di sofa.
Sari mendekati Doni, meluruskan tubuhnya agar sejajar dengan kepala. Sari merapalkan mantra dan meniupnya pelan ditangan lalu diusapkannya ke wajah dan dada Doni.
Tangan Sari mengusap lembut di dada Doni membuat lingkaran dan menariknya ke leher. Mengeluarkan energi jahat yang memasuki tubuh Doni. Tak lama Doni pun mengerang pelan.
"Don, kamu udah sadar?"
"Kepala gue sakit bener Sar!" keluhnya sembari memegang kepalanya.
"Kamu lihat siapa yang menyerang tadi?"
"Tau deh, gue cuma inget pas mbak Pur masuk terus kamu deketin dia, tau-tau badan gue berat banget … terus yaaa udah gelap semua."
Sari hanya diam dan membantu Doni duduk. "Sorry Sar, gue jadi ngerepotin Lo deh."
"Bagas hilang Don." kata Sari pelan.
"Hah, serius!" Doni langsung celingukan mencari sosok Bagas.
"Sepertinya mereka lebih pintar dari kita. Aku kecolongan lagi, nggak ngira mereka bisa masuk pagar gaib dengan mudah."
Sari menghela nafas berat, entah apa yang salah tapi ia benar-benar merasa bodoh.
"Terus sekarang gimana? Kita harus cari Bagas, Sar!"
"Hhmm, tapi kemana? Siapa yang bawa Bagas, Lingga atau Airlangga?" Sari bingung.
"Duh lupa gue kalo musuh kita ada dua! Feeling gue sih si Lingga ni yang bawa Bagas!" ujar Doni menebak.
Gue udah curiga aja pas di candi Tikus, si Lingga merhatiin Bagas terus sampe kagak kedip tu mata! Lingga butuh Lo buat akhirnya kutukannya kan, jadi gue rasa Lingga yang culik Bagas!" Doni berasumsi
"Kamu betul! Lingga yang bawa tunangan kamu Sar!" suara wanita terdengar dari arah pintu yang terbuka.
"Kamu …," Sari mencoba mengingat wanita dengan tangan sebelah itu.
Wanita itu diam dan mendekati Sari. Matanya lekat menatap Sari.
"Saya Lita! Masih ingat tangan ini?"
Seketika mata Sari membulat saat mengingat wanita dengan satu tangan itu.
"Jadi namamu Lita? Ada perlu apa kamu kesini?!" Sari menaikkan level waspadanya.
"Aku rasa kamu perlu bantuan ku buat nemuin tunangan kamu!"
"Bantuanmu? Kenapa kamu berpikir begitu?" tanya Sari heran.
"Bagas dibawa ke suatu tempat dan … hanya aku yang tahu dimana itu!" jawab Lita.
"Ohya, setauku kamu ada dipihak Airlangga kan? Jadi kenapa kamu mau bantu aku?"
Lita diam tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Sari. "Ceritanya akan sangat panjang, Sar. Kamu mau dengar cerita saya apa mau nemuin Bagas?"
Tanpa menunggu jawaban Sari, Lita kembali buka suara.
"Waktu terus berjalan Sar, kamu mau terima bantuan ku atau tidak?!"
Sari berpikir sejenak lalu menjawab,
"Oke, aku terima tawaranmu tapi ingat kalau sampai kamu bohong aku nggak akan segan buat habisi kamu!"
Lita menarik senyum, "Aku justru bahagia jika kamu mengambil nyawaku Sar!". katanya dalam hati.
"Ikuti aku,Sar dan juga teman priamu itu! Kamu akan membutuhkan bantuannya nanti?"
Sari mengangguk memberi isyarat pada Doni untuk mengikutinya, lalu ia berkata pada mbak Pur.
"Mbak, tolong tunggu disini sebentar! Sari pergi dulu ya, dan satu lagi … jaga rahasia ini ya mbak, Sari nggak mau ada keributan nanti!"
Sari kemudian mendekati mbak Pur dan berbisik pelan di telinga yang diikuti anggukan dari mbak Pur.
"Nggih mbak Sari, hati-hati ya … mas Doni saya nitip mbak Sari, jagani ojo nganti cuil lho!" pesan mbak Pur dengan logat medok Jawanya.
"Beres mbak Pur!"
Sari dan Doni mengikuti Lita menuju ke sebuah tempat. Tentu saja mereka tidak pergi ke tempat itu dengan kendaraan tapi melintasi dimensi waktu dan ruang.