Petualang Jagad Lelembut

Petualang Jagad Lelembut
Bab 63


Mbak … mbak Sari?! Weh lha kok malah ngelamun mbak!" Andi berusaha menyadarkan Sari.


Mata Sari berkilau kebiruan sebelum akhirnya sadar. "Eeh, iya mas gimana?"


"Hati-hati jangan melamun mbak, disini tempat keramat lho! Banyak orang masih bertapa semedi disini!"


"Eeh, semedi?" tanya Sari heran.


Pantesan aja disini kuat banget aura negatif nya! Rupanya masih ada orang-orang yang lelaku disini.


"Mas Andi, kenapa ini dinamakan candi Minakjinggo? Dari yang saya lihat candi ini nggak ada hubungannya dengan tokoh Minakjinggo?!"


"Betul mbak Sari, candi ini sebenarnya tidak ada hubungannya dengan Minakjinggo. Dulu ditemukan arca yang bergambar garuda yang berwujud manusia, dengan kaki yang panjang, kuku-kuku yang panjang, tangannya ada cakarnya, mulutnya seperti paruh, dan ada sayapnya, sehingga orang-orang dulu menamakan itu Minakjinggo,"


"Oh arca yang kita lihat di dalam museum?"


"Betul mbak, burung Garuda yang disebutkan tadi itu namanya Garudho Muko, ciri khas dari titisan batara Wisnu atau ‘tumpakane’ Wisnu,” jelas Andi lagi.


"Oh, gitu!"


Sepertinya bukan disini tempat pedang itu ada, tapi kelebatan tadi sepertinya pertanda untukku.


"Saya pernah dengar cerita Minak Jinggo itu hanya mitos, menurut mas Andi gimana?"


"Boleh saya koreksi mbak Sari? Bukan mitos tetapi silang pendapat antara sejarawan dan antroplog tepatnya."


"Jadi cerita pertarungan itu salah?"


"Bukan salah mbak Sari cuma kalo dilihat dari waktu dan peristiwa ada gap besar yang membedakan cerita yang beredar selama berabad-abad dengan cerita yang sesungguhnya."


Sari mengarahkan kamera pada mas Andi dan menunggu penjelasannya.


"Selama ini cerita yang beredar Minakjinggo adalah pemberontak besar Majapahit yang harus ditumpas dan merugikan kerajaan. Beliau selalu digambarkan jahat, bertampang jelek dan jiwa pemberontak persisi seperti yang tertulis dalam serat Damarwulan yang ditulis salah satu pujangga Mataram."


"Yang terjadi sebenarnya adalah Minakjinggo bukan pemberontak, ia difitnah oleh Patih Loh Gender yang melaporkan dirinya ke Ratu Kenconowungu kalo Minakjinggo mengubah basis militernya dan bersiap menyerang Majapahit."


"Tunggu, jadi legenda itu salah? Minakjinggo yang benar dan Damarwulan yang salah?"


"Bukan, saya lanjutin lagi ya ceritanya? Bolehkan?"


"Ya asal jangan sampai ratusan episode kek novel yaa?!" sahut Sari jenaka.


Andi tersenyum, "Nggak sebanyak waktu yang harus aku lalui untuk menemukanmu kok mbak Sari?!" balas Andi tak kalah konyol.


Mereka berdua pun tertawa lepas melupakan teriknya matahari siang yang cukup menyengat di kulit.


"Gini mbak, daerah Blambangan itu letaknya sangat jauh dari pusat kerajaan Majapahit sampai utusan kerajaan pun malas untuk menyampaikan berita dari Ratu ke Adipati Blambangan yaitu Minakjinggo."


"Pasca kemenangan Minak Jinggo melawan pemberontak kebo Marcuet, beliau membangun Blambangan dan memakmurkan wilayahnya. Tidak ada rakyat yang menderita saat kepemimpinan beliau. Suksesnya beliau membuat pamannya Logender iri dan akhirnya mengadu domba Majapahit dan Blambangan."


Sari hanya menganggukkan kepalanya, kepalanya sedikit berat. Indra penciumannya mulai sensitif dengan wewangian yang tidak semestinya ada disekitarnya.


"Siang-siang begini ada demit? Nekat ni demit kalo muncul!" gumam Sari.


"Mbak Sari bilang apa?" Andi penasaran karena ia sedikit mendengar.


"Eeh, nggak. Saya kepanasan!" jawab Sari tersenyum.


"Bisa saya lanjutin ceritanya?"


"Nggak banyak cukup dua bab." Andi menjawab dengan seringai konyol membuat Sari tertawa.


"Sampai mana kita tadi, saya lupa?" tanya Andi berpura-pura, ia hanya ingin banyak berinteraksi dengan Sari.


"Ehm, adu domba?"


"Aaah iya, bukan salah Minak Jinggo jika ia tidak pernah datang dan melaporkan keadaan Blambangan ke Majapahit. Itu karena jarak dan tidak ada bimbingan dari pusat kerajaan untuk melapor kan perkembangan daerah. Disinilah awal mula legenda buruk berasal."


"Misunderstanding dan Miscommunication." sahut Sari.


"Betul. Disisi lain janji ayahanda Ratu Kenconowungu pada Minakjinggo yang saat itu masih bernama Jaka Umbaran juga memiliki andil terjadinya kesalahpahaman. Minak Jinggo datang menagih janji sang prabu pada ratu Kenconowungu tapi sang ratu menolaknya."


"Janji? Janji apa?"


"Ayahanda Ratu Kenconowungu menjanjikan siapa pun yang berhasil mengalahkan Kebo Marcuet akan dinikahkan dengan putrinya. Mbak Sari tahu nggak, padahal waktu sayembara itu diselenggarakan ratu Kenconowungu bahkan belum lahir."


"Eh, penipuan dong namanya kalo gitu. Gila aja tu Raja, masa anak belum lahir dah dijodohin!" sahut Sari terkejut.


"Begitulah sejarah, konon katanya begitu mbak." Andi tersenyum melihat raut wajah Sari yang tampak semakin menggemaskan saat terkejut.


"Lanjutin deh ceritanya mas!" pinta Sari.


"Minakjinggo atau Jaka Umbaran itu menang meski dengan wajah rusak dan tubuh hancur. Sekian puluh tahun berlalu beliau kedatangan utusan dari Majapahit. Beliau diundang ratu Kenconowungu untuk datang ke kerajaan."


Sari masih mendengarkan saat ia merasakan hembusan angin yang seolah berbisik di telinganya.


Ada yang mulai nakal nih!


"Saat datang ke kerajaan itulah Minakjinggo jatuh hati pada sang Ratu dan ia kembali teringat akan janji sang raja pendahulunya. Ia menagih janji pada sang Ratu yang cantik jelita namun sayang ratu Kenconowungu menolak mentah-mentah dan Minak Jinggo diusir dari kerajaan."


"Hhm, aneh orang nagih janji kok malah diusir! Salah siapa pake bikin janji gitu?" ujar Sari.


"Mungkin karena Minakjinggo berwajah buruk rupa jadi sang Ratu nggak mau mbak. Coba mbak Sari deh dilamar orang yang jelek emang mau?" tanya Andi dengan penuh selidik.


"Saya? Ehm, jelek kalo tajir kan lumayan juga mas?!" sahut Sari tertawa.


"Iya Juga sih ya mbak, wanita sekarang sukanya gitu yang penting dompet tebel sama kebutuhan terpenuhi. Urusan muka sama usia belakangan." Andi menambahkan perkataan Sari.


Mereka berdua tertawa, Sari kembali bertanya. "Mas Andi, kenapa di sekitar sini selalu turun kabut abadi?" Sari bertanya meskipun ia sudah tahu jawabannya.


"Itu salah satu ciri khas Trowulan, adalah kabut abadi. Udah dari jaman dulu kala mbak hal seperti ini terjadi."


Sari melirik jam ditangannya, sudah mendekati jam tiga sore. Waktu begitu cepat berjalan, dan hembusan angin kecil itu kembali menyapa Sari ringan.


Kali ini disertai wangi bunga yang sedikit menusuk hidungnya. "Siapa yang datang, kenapa menyapaku dari tadi?"


"Mbak Sari mau kembali ke museum atau kita mau nelusuri Pendopo Agung Trowulan?" Andi menawarkan spot yang konon kabarnya memiliki aura mistis kuat.


"Boleh, saya penasaran juga sama pendopo itu."


Mereka berjalan lagi menuju tempat yang dimaksud Andi. Baru saja kaki Sari melangkah tak lebih dari sepuluh meter, ruang hampa menyapanya. Langkah kakinya semakin berat dan kepalanya terasa berputar.


Oh, tidak … lagi? Aku belum nemuin petunjuk buat ujianku disana!


Bimasena, Mahesa, Abiyaksa, Kandra … aku butuh bantuan kalian!