
Doni berusaha mengurai ketegangan keduanya dengan menarik Sari mundur. Ia mengulurkan proposal yang telah dibuat pada pak Lingga.
"Nggak usah diterusin kasian yang lain." Doni berbisik pada Sari saat berdiri di dekatnya.
"Pak Lingga silakan baca proposal ini dulu. Saya nggak mau kerja keras kami nggak dihargai!" Doni menekankan kata-katanya pada pak Lingga.
Pak Lingga menatap Doni dengan tajam, sejurus kemudian ia menerima proposal dari tangan Doni.
"Silakan duduk pak, saya akan jelaskan detailnya. Sar, Lo duduk gih gantian gue yang ngomong!"
Kubu pak Lingga menuruti perintah Doni, mereka duduk berseberangan dengan Sari dan tim. Doni memulai penjelasannya, mengulangi perkataan Sari dengan menambahkan sedikit alasan tentang keselamatan tim.
"Mengingat waktu kita nggak banyak jadi sebaiknya kita segera putuskan tempat pertama yang bakal kita kunjungi." Doni menutup penjelasannya.
Pak Lingga mengetuk jari nya ke meja beberapa kali, ia kembali membaca proposal yang ada di tangannya.
"Apa ini yang terbaik menurut kalian?" tanyanya menatap Sari dan Doni bergantian.
Tatapan pak Lingga berhenti pada Sari, ia menunggu jawaban dari Sari.
"Ini yang terbaik." jawab Sari tegas.
Pak Lingga menganggukkan kepalanya, "Ok, saya setuju dan kita berangkat lusa. Tujuan pertama desa Blambangan, alas Purwo, dan lanjut ke alas Gumitir. Terakhir kita liput tarian khas daerah disana."
"Tunggu … alas Purwo? No, saya nggak setuju kesana. Resikonya terlalu besar, lagipula siapa yang mau jagain kita disana?" Sari menyanggah.
"Kamu meragukan tim saya kalo bicara begitu?!"
"Tim kita! Tadi kan saya sudah tekankan itu pak Lingga?!" Sari kembali kesal.
"Sori, saya lupa. Tim tambahan kita bisa back up. Percayakan saja sama mereka." Pak Lingga mengulas senyumnya pada Sari.
Sari hanya diam dan beralih menatap ketiga orang berwajah pucat bawaan pak Lingga. Saka menatap Sari dan mengangguk samar pada nya. Dari kelima orang yang ada di depannya, Sari hanya menyukai Saka. Menurutnya Saka tampak lebih ramah dan bisa diajak bicara ketimbang yang lain.
"Bapak bisa menjamin kami selamat selama disana?"
"Tentu, dan itu bagian dari tanggung jawab saya sebagai ketua tim kan?"
Sari diam, ia menatap pak Arya meminta pendapatnya kali ini. "Saya setuju aja, dan cuma bisa berpesan hati-hati saya nggak mau salah satu dari kalian kena masalah disana!"
"Ok, kalo gitu kita berangkat dalam dua hari. Deal?!" tanya pak Lingga pada yang lain.
"Deal!" Sari menjawab dan kembali melanjutkan perkataannya, "Yang lain deal juga kan?!"
Semuanya mengangguk kecuali ketiga orang bawaan pak Lingga. Mereka terus menatap Sari tanpa berkedip seolah Sari adalah musuh mereka.
Apa susahnya coba jawab, lempeng bener tu muka dah mirip kayak triplek! batin Sari kesal.
Meeting pagi itu pun usai, mereka sepakat untuk menuju kota Banyuwangi terlebih dahulu menemui beberapa budayawan sebagai bagian dari narasumber.
Pak Lingga dan tim langsung meninggalkan ruangan sementara pak Arya masih berada di tempatnya.
"Gas, saya kok kurang sreg ya sama mereka itu?!" Pak Arya mengajak Sari dan timnya bicara setelah pak Lingga meninggalkan ruangan.
"Iya pak, saya juga. Tapi mau gimana lagi mereka sponsor kita."
"Heran saya kenapa sih sponsor kita ini nggak ada yang beres. Kemarin si Adit, sekarang Lingga?! Beneran liputan mistis nih, kayak sponsornya semua!" Pak Arya melengkungkan senyumnya.
"Eh iya juga ya pak, saya baru nyadar nih. Semoga aja kali ini agak bener deh pak." sahut Bagas.
Pak Arya beralih menatap Sari yang masih terdiam, ia tahu Sari memahami arah pembicaraannya. "Sar, I feel bad this time and I think it's gonna be worse."
(Perasaan saya buruk kali ini dan saya pikir ini akan semakin buruk.)
"Aamiiin …."
Hari itu Sari dan timnya disibukkan dengan persiapan keberangkatan menuju Banyuwangi. Masing-masing sibuk dengan pekerjaannya, sesekali mereka bergantian bolak balik ke ruangan pak Arya meminta persetujuan.
"Pegel juga nih seharian di depan komputer, Sar makan yuk! Laper nih gue!" ajak Doni.
"Iya, sama aku juga. Yuuk, istirahat dulu?!"
Sari mengajak yang lainnya untuk istirahat sejenak mengingat jam makan siang juga sudah terlewati.
"Kalian dulu deh, nanggung ni!" sahut Rara yang masih ingin menyelesaikan tugasnya segera.
"Mau dibawain apa nih?" Sari menawarkan makan siang untuk Rara.
"Hhm, apa ya? Mie goreng seafood pedes boleh?!"
"Boleh, mo level berapa nih?"
"Ehm, sepuluh aja deh." jawab Rara dengan senyuman.
"Eeh, sepuluh? Gila kamu, awas tu perut Ra!" Sari terbelalak karena sepuluh itu terlalu pedas untuknya.
"Biar melek ni mata Sar, udah sana buruan! Anak-anak dah nungguin tuh, eeh iya Sar sekalian ya ice Americano satu!" Rara menambahkan.
Sari menjawab dengan mengangkat ibu jarinya dan segera menyusul ketiga rekannya.
Rara masih asyik mengerjakan sesuatu di komputernya. Beberapa lembar surat perjalanan sudah siap dicetak, persyaratan perusahaan untuk melakukan perjalanan dinas pun siap.
Diantara kelima orang tim asli Journey to the East memang hanya Rara yang paling tekun dan serius. Gadis berkacamata minus itu bahkan sampai sekarang belum memiliki kekasih karena terlalu fokus dengan pekerjaan.
"Mbak Rara nggak ikut yang lainnya makan?" sapa seseorang di belakangnya.
Rara yang sedang asyik dibuat terkejut dengan sapaan itu, "Eh mas Rey, bikin kaget aja."
Pria pucat nan tampan itu tersenyum pada Rara. "Boleh saya temani?"
Rara gugup, "B-boleh … duduk aja disitu."
Rara kali melanjutkan pekerjaannya dengan hati berdebar-debar. Baru kali ini dia dekat dengan seorang pria selain Doni, Ahmad, dan Bagas.
Rey memperhatikan pekerjaan Rara, ia mendekati Rara yang semakin gugup.
"Mbak Rara kenapa? Takut?"
"Eh, nggak … bukan, tapi … mas Rey bisa jauhan dikit nggak?!" pinta Rara dengan suara bergetar.
Rey tersenyum melihatnya, dengan sengaja ia menggoda Rara dan menyibakkan rambutnya. "Kamu cantik." bisiknya pada Rara.
Rara terkejut, buku kuduknya meremang. Tiba-tiba saja kengerian menyergapnya, bisikan Rey terdengar begitu menakutkan untuknya. Rara memundurkan kursinya perlahan, rasanya ia ingin segera berlari dari Rey.
Dan saat Rara berdiri, tangan Rey langsung menyambar tubuhnya. Rey menyeringai, wajahnya semakin menakutkan Rara ingin berteriak tapi suaranya tercekat.
"You're mine babe."
Rara terkunci dalam dekapan Rey, dan dalam hitungan detik ia hanya merasakan nyeri yang teramat sangat di lehernya. Kepalanya seolah berputar, pusing. Yang ia dengar selanjutnya hanya tegukan demi tegukan dari Rey yang terus menghisap darahnya. Rara merasakan kebas, panas, nyeri dan perlahan terkulai lemas.
Rey mengentikan aksinya, ia menyeka darah yang masih menetes dari mulutnya. Ia puas, sejenak memandang Rara yang sudah tidak berdaya.
"Step two is done."