Petualang Jagad Lelembut

Petualang Jagad Lelembut
Bab 55


Sari meninggalkan Lingga sendiri, ia memilih untuk berjalan jalan sejenak melepas beban berat dipikirannya. Firasat jeleknya tentang Saka segera ditepisnya. Kenyataan bahwa Lingga telah mengenalnya sejak lama membuatnya berusaha percaya bahwa firasatnya salah.


"Kalo pak Lingga udah kenal Saka sejak lama, mungkin dia juga mengenal baik siapa Saka. Tapi … bayangan itu, kenapa begitu jelas?!" gumamnya sambil berjalan jalan di sekitar homestay.


Sari mencoba mengingat kembali kelebatan masa depan yang ia lihat sesaat setelah dirinya berbicara dengan Saka.


Dalam kelebatan itu, Saka tampak terlibat di pertarungan hebat antara Lingga dan Airlangga. Saka memegang belati perak dengan ukiran indah di gagangnya. Belati itu begitu indah tapi mematikan. Yang membuat Sari bingung adalah Saka justru menghujamkan belati itu pada Lingga. 


"Jika memang Saka adalah kawan kenapa dia melakukannya? Apa yang aku lihat hanya ilusi?"


Sari tetap saja tidak bisa mengindahkan firasatnya, semakin ia berusaha percaya tentang Saka yang baik semakin ia meragukan hal itu.


"Bimasena?!" panggil Sari pada penjaganya.


"Ya Sar, ada apa memanggil saya?" Bimasena dengan cepat menjawab panggilan Sari, tuannya.


Sedari tadi keempat penjaga Sari memang sudah mengikutinya, bersiaga dengan kewaspadaan penuh. Mereka mendeteksi keberadaan musuh di sekitar Sari. Kekuatan gelap mengintai Sari dan bersiap menyergapnya kapan saja.


"Apa kalian sudah tahu siapa yang mengintip kita di candi Wringin Lawang?"


"Hhm, pengabdi kegelapan Sar. Bagian dari musuh." jawab Bimasena.


"Siapa? Apa kalian berhasil ngalahin dia?"


"Kami berhasil mengalahkan dia tapi … tidak banyak informasi yang kami dapatkan. Dia menghindari setiap pertanyaan kami dan memilih untuk membinasakan tubuhnya sendiri."


"Bunuh diri? Waaa, luar biasa pengabdi yang setia rupanya! Terus informasi apa yang kita dapatkan?!" tanya Sari serius.


"Mereka sedang menanti saat yang tepat untuk menyerangmu Sar."


"Ehm, kalo itu aku juga tahu. Apa nggak ada informasi lain?"


"Pedang Sengkayana, itu tujuan utama mereka."


"Iya, aku juga tahu … kalian ni bisa nggak kasih aku informasi yang lebih penting lainnya! Nggak pinter nih, masa iya saya harus kasih kalian daftar pertanyaan dulu buat cari info! Cckk, nggak asyik bener cara kerja kalian!" gerutu Sari dengan kesal.


Bimasena hanya bisa tersenyum menanggapi ocehan Sari, tuan mereka sedang moody jadi butuh kesabaran ekstra untuk menjawab setiap pertanyaannya.


"Apa ada masalah?" tanya Bimasena perlahan.


"Nggak! Cuma … badmood?!"


"Kenapa?"


"Aku melihat sesuatu yang tidak seharusnya dan itu membuatku sedikit … ehm, kesal!"


"Boleh saya tahu apa itu?"


Sari menatap Bimasena, mungkin untuk saat ini hanya merekalah yang bisa membantunya. Akhirnya Sari menceritakan semuanya, penglihatannya yang tak biasa tentang masa depan dan juga kecurigaannya pada Saka.


Bimasena mendengarkannya dengan baik, ia berusaha menafsirkan firasat Sari.


"Sar, kemampuan melihat masa depan bisa dijadikan pegangan. Firasatmu tidak salah, Saka memang sedang merencanakan sesuatu."


"Lita? Wanita setengah iblis itu, fans berat Lingga?" Bimasena bertanya balik.


Sari tertawa mendengar Bimasena menyebut Lita fans dari Lingga. "Khodam gaul bener kalian, tau aja julukan fans!"


"Saya hanya mengikuti gaya kamu Sar," jawabnya dengan senyum.


"Lita … aku dengar dia kekasih Lingga dulunya, dan demi bersama Lingga dia menjual jiwanya pada Airlangga." kata Sari.


"Tapi aku nggak habis pikir gimana bisa Airlangga dapetin ilmu begitu ya?" Sari melanjutkan perkataannya.


"Takdir Sar, Airlangga telah melanggar garis yang menjadi pembatas antara manusia dan alam lelembut. Kekuatan jahat telah memilihnya berbeda dengan Lingga yang mencoba melawan."


"Terus hubungannya dengan Saka apa dong?" tanya Sari yang memang belum mengetahui jika Saka mencintai Lita.


Cinta rumit yang terbentuk diantara Airlangga, Lingga, Lita, dan Saka.


Sari hendak mengatakan sesuatu ketika sebuah cahaya kemerahan melesat tepat diatasnya. Cahaya itu begitu terang dan membuat langit tampak seperti terbakar.


"Apa itu?!" Sari terkejut karena merasakan hawa panas yang menyentuh kulitnya.


"Aura ini …" gumam Bimasena


"Sar, itu pertanda! Ayo kita kejar!" Bimasena segera menarik Sari masuk ke alam lelembut sebelum Sari sempat menjawab.


Sari dan Bimasena diikuti ketiga penjaga lainnya segera mengikuti jejak cahaya itu, hingga ke suatu tempat.


"Apa itu Bimasena?! Rasanya aku pernah merasakannya!" 


"Itu aura pusaka Sar, kamu pernah bersentuhan dengan aura yang mirip dengannya. Apa kamu lupa?"


"Kujang Cakrabuana?"


"Benar, kekuatannya serupa tapi ini sedikit berbeda. Bisa jadi ini petunjuk dimana pedang itu berada."


"Pedang Sengkayana milik Minak Jinggo? Secepat itu dia menunjukkan dirinya? Apa itu nggak aneh?" tanya Sari skeptis.


"Kemungkinannya hanya dua, jebakan atau pusaka itu memang ingin ditemukan olehmu!"


Sari terdiam, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tidak ada cahaya matahari yang menerangi, seperti suasana malam hari dengan kabut tipis yang menyelimuti di setiap sudut. Sesekali tampak kerlipan cahaya dari kehadiran makhluk lain.


Sari tiba-tiba melihat kelebatan bayangan yang juga ikut berlari bersamanya dan para penjaga.


"Bimasena, apa lagi itu? Apa mereka kawan?" bisiknya pelan di telinga Bimasena.


"Bukan, mereka juga pencari pusaka! Berhati-hatilah Sar, jangan terkecoh karena mereka akan mempengaruhi pikiranmu!"


"Enak saja! Berani mengusikku, lihat aja apa akibatnya!"


Sari membuat kubah pelindung untuk dirinya, mencegah dari kejahatan licik para pencari pusaka lainnya yang mulai bersinggungan.


Kalau saja aku tahu mencari pusaka itu sesulit ini aku minta bayaran dobel ke aki-aki itu!