Petualang Jagad Lelembut

Petualang Jagad Lelembut
Bab 62


Sari mengikuti langkah Andi menuju candi Minakjinggo. Candi yang menyimpan kisah pertarungan antara Minakjinggo dan Damarwulan yang termasyhur. 


Damarwulan adalah pemuda yang mengabdi pada Patih Loh Gender pada masa pemerintahan Prabu Sri Suhita atau Ratu Ayu Kencana Wungu pada tahun 1427 - 1447 Masehi.


Sang Ratu membuat sayembara untuk membunuh Adipati Blambangan, Minakjinggo yang melakukan pemberontakan kepada Majapahit. Damarwulan berhasil memenangkan sayembara itu dengan bantuan kedua istri Minak Jinggo yang telah jatuh hati padanya yaitu Wahita dan Puyengan.


Minakjinggo dikhianati oleh kedua istrinya. Merekalah yang membantu Damarwulan mengambil dua buah pusaka kesayangan Minakjinggo, Gada Wesi Kuning dan pedang Sengkayana. Minakjinggo tewas dihantam senjata nya sendiri Gada Wesi kuning. Dikhianati oleh cintanya sendiri tentu sangat menyakitkan. 


Sari mendengarkan cerita pertarungan Minakjinggo dan Damarwulan dari mulut Andi. 


"Dimana mana cerita cinta itu kenapa deritanya tiada akhir ya mas, udah kek semboyannya si Cu Pat Kay aja." kata Sari dengan tawa kecil.


Andi ikut tertawa dan melihat ke arah Sari. Wajah cantik Sari yang didapatnya dari campuran Indo-Belanda itu tampak semakin cantik saat ia tertawa. Andi terpesona.


"Mbak Sari udah punya pacar?" Andi yang penasaran dengan Sari tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya hal pribadi.


"Tunangan tepatnya, kalo nggak ada halangan dua bulan lagi menikah." jawab Sari tegas, ia tidak mau memberi harapan pada pria yang ada di sampingnya ini.


"Ooh, sayang sekali?!" sahut lirih Andi yang sedikit kecewa.


"Mas bilang apa?!" tanya Sari yang mendengarnya sedikit.


"Eh, nggak maksud saya kalo udah ada gandengannya saya jadi nggak bisa deketin mba Sari, eeh …," Andi spontan menutup mulutnya yang kelepasan bicara.


Uuups, see … dia beneran kan itu terpesona?!


Sari tertawa, ia mengalihkan pembicaraan karena mereka semakin mendekati candi Minakjinggo.


"Apa itu candinya?" tanya Sari ketika melihat papan petunjuk.


"Iya betul, deket kan mbak?


Sari tidak menjawab dan asyik mengambil gambar. Hawa mistis mulai dirasakan Sari, tipis tapi semakin pekat ketika Sari melangkahkan kakinya masuk ke area candi.


Bener kan dugaan ku, sesuatu yang berharga mungkin bisa aku temuin disini. Baiklah mas Andi kita lihat seberapa berharganya informasi dari kamu?!


"Mas, candi ini memang beneran didirikan buat si Minakjinggo itu? Kalo dia memang memberontak kenapa dia dibuatkan candi khusus seperti ini?" tanya Sari sedikit heran.


Selarik senyum mengembang dibibir Andi, "Mbak Sari nanyanya bagus bener nih, kayaknya tertarik banget sama Minakjinggo?!"


Sari mengedarkan pandangannya sejenak lalu menatap Andi dengan serius. "Saya butuh informasi detail tentang Minakjinggo, mas Andi bisa bantu?!"


Siapa yang tidak tau cerita Minakjinggo, kekuatannya yang hebat setelah mengalahkan Kebo Marcuet begitu menyihir setiap pembaca dan penikmat pagelaran sendratari yang mengangkat ceritanya.


"Ehm, detail? Saya nggak tau apa bisa kasih informasi detail ke mbak Sari, saya juga nggak tahu yang mbak Sari cari itu apa?" 


Sari mendengus kasar, ia sadar dirinya terlalu terburu-buru mencari informasi sampai melupakan tujuan utamanya.


"Maaf … mas Andi bilang candi ini unik kenapa?"


"Unik, karena jika dibandingkan dengan candi yang lain batuan pembentuknya juga berbeda. Jika candi yang lain dibentuk dari batu bata merah, candi Minakjinggo dibentuk dari batu bata merah dan batuan andesit."


"Cuma itu?"


"Candi ini berdiri sebelum Majapahit terbentuk mbak Sari?!"


Sari menatap Andi tidak percaya, "Sebelum Majapahit berdiri?"


"Jika dilihat dari usia karbonnya candi ini berdiri dimasa kerajaan Singasari. Dan ini didirikan sebagai tempat pemujaan pada para Dewa Dewi."


Sari mendekati beberapa potong relief yang tergeletak di tanah dan memotretnya dengan kamera yang menggantung di leher. Sementara kamera kecil ditangannya diletakkan sejenak di atas tumpukan batu penyusun candi lain.


"Ukirannya unik." gumamnya.


"Itu namanya makara. Simbol tolak bala yang selalu ada di bangunan suci zaman Majapahit." jelas Andi pada Sari.


"Makara?"


"Iya, makara dalam bahasa sansekerta adalah makhluk mitologi Hindu yang diasosiasikan dengan air dan digambarkan sebagai wahana atau kendaraan Dewa Baruna dan Dewi Gangga."


Sari mengagumi bentuk makara yang masih terlihat cukup utuh itu. Pahatannya begitu halus menggabungkan tubuh hewan air seperti ikan dan buaya untuk tubuhnya dan kepalanya campuran hewan mamalia seperti gajah rusa dan celeng.


Kelebatan masa lalu tampak di mata tak biasa Sari. Suasana mendung dan gelap menaungi altar yang cukup tinggi. Sebuah bejana unik dari perak yang berukuran cukup besar diusung menaiki anak tangga oleh beberapa orang.


Bejana indah itu diletakkan di tengah altar persembahan bersama sesaji pendukung. Mereka yang ada disana segera berlutut dengan tangan didada seperti berdoa, lalu sejurus kemudian merendahkan tubuhnya ke lantai melakukan persembahan.


Seketika cuaca seolah memburuk angin berputar tepat diatas altar dan perlahan memusat ke arah bejana. Tak lama kemudian petir menyambar dengan kerasnya di sekitar altar pemujaan, rupanya itu pertanda sesaji mereka diterima. Bejana itu ditinggalkan begitu saja di atas altar.


Sari bisa melihat dengan jelas bejana itu tertarik ke dimensi lain dan menghilang, sebuah cahaya merah ikut melesat bersamaan dengan menghilangnya bejana itu.


"Cahaya itu … mirip dengan yang aku ikuti semalam! Apa itu pertanda?!"