
Bagas dan Doni mencari tempat yang kira-kira bisa dijadikan bahan liputan. Begitu banyak destinasi wisata mistis yang terletak di Banyuwangi. Tapi Bagas dan Doni tetap harus melakukan seleksi tempat yang terbaik.
"Don, banyak bener ni rujukan tempat wisata mistisnya? Kita pilih yang mana nih?"
"Pilih aja yang Lo mau Gas, gue ngikut aja." jawab Doni datar.
"Gue bingung Don, agak ngeri juga nih dari ceritanya! Salah nggak sih kita pilih Banyuwangi, apa kita cari tempat lain aja gimana?" Bagas menyentuh tengkuknya yang terasa tegang.
"Hem, Lo Gas baru gitu aja dah ngeper duluan! Gimana besok kalo terjun langsung?!"
"Tau deh, mood gue ilang Don. Liputan kali ini kok rasanya beda ya!"
"Perasaan Lo aja kali Gas, dah kagak usah baperan, kerja!" Doni mengingatkan Bagas.
Selang beberapa menit Doni bertanya pada Bagas, "Gas menurut Lo mana nih yang mau kita bahas, ada alas Purwo, rawa Bayu, pantai Boom, alas Gumitir, atau … desa penari nih?"
"Desa penari dah banyak liputan, jangan latah! Cari yang lain aja." sahut Bagas dengan terus memperhatikan monitor di depannya.
Doni melongokkan kepala ke kubikel Bagas, "Gas, kita cari tempat yang aman aja deh gimana?"
"Nah kan, malah sekarang Lo yang takut. Udah terlanjur antepin aja deh, takutnya si Lingga kagak mau tahu Don?! Kita belum tau karakter dia gimana?!"
"Iya juga sih, tapi … oke dah, lanjut!" Doni kembali melanjutkan pencariannya.
Ahmad yang sedari tadi asik sendiri dan tidak ikut berkomentar mengusik rasa penasaran Doni.
"Tumben ni bocah diem aja, Lo ngapain Mad?" tanyanya pada lelaki Jawa-Arab itu.
"Ini, lagi serius baca berita tahun 1998, tragedi pembantaian Banyuwangi 1998. Heboh juga dulu, kok gue baru denger ya Don?!" jawab Ahmad serius.
"Gue tahunya tragedi Semanggi doang. Serius ada itu, coba liat!" Doni mendekati Ahmad dan ikut membacanya.
Tragedi pembantaian Banyuwangi 1998 adalah peristiwa pembantaian orang-orang yang diduga terlibat dalam ilmu santet. Tragedi itu terjadi sekitar kurun waktu Februari hingga September 1998 dan memakan korban jiwa kurang lebih 114 orang.
Konon kabarnya pembantaian itu dilakukan oleh orang-orang yang mengenakan pakaian layaknya ninja. Salah satu dugaan penyebab terjadinya pembantaian itu adalah kebocoran radiogram Bupati Pur yang memuat data orang-orang yang memiliki kekuatan supranatural.
Maksud sang Bupati untuk memberikan perlindungan dan pengamanan justru disalahgunakan oleh pihak tertentu untuk melakukan pemusnahan massal. Dugaan pelanggaran HAM mencuat, hingga sejumlah petinggi negara turun tangan. Hingga saat ini belum diketahui jelas siapa dalang sesungguhnya.
Peristiwa inilah yang menjadikan kota Banyuwangi semakin dikenal dengan kota santet.
"Waduh … gue agak trauma nih beginian." gumam Doni usai membaca informasi di layar monitor.
"Gimana menurut Lo?" tanya Ahmad.
"Cck, gimana apanya? Gue juga bingung, Lo tau kan kemarin Sari gimana? Apalagi coba yang bakal kita hadapin?" Doni khawatir.
"Apaan nih, kok muka kalian tegang gitu?" Sari menghampiri Ahmad dan Doni.
"Keliatan gitu?" sahut Ahmad.
"Gimana nggak keliatan Mad, muka Lo dah kayak kertas putih bener. Padahal kulit Lo item!" Doni meledek Ahmad.
"Iteman mana ma Lo?!"
"Cck, kalian berdua sok kegantengan aja. Gantengan juga tuh anak buahnya pak Lingga!" Sari menimpali ocehan mereka berdua.
"Belain temen kek, malah tambah ngehina Lo Sar!" protes Doni.
"Ogah, emang kalian berdua jelek!"
Sari mendorong tubuh Doni, ia cukup penasaran dengan apa yang dibaca kedua rekannya itu.
"Aku baru denger ini deh, kalian juga?"
"Iya, mungkin karena dulu yang heboh kan yang di Jakarta jadi berita ini ketutup." jawab Ahmad.
"Tapi duluan ini lho kejadiannya Mad?" Sari menscroll layar yang menunjukkan waktu kejadian.
"Well who knows beb, itu urusan atas?!" Ahmad mengedikkan bahunya.
"Iya juga sih, gimana udah dapet lokasinya?" Sari penasaran mencari kertas yang baru saja dicetak Ahmad.
"Udah, baca aja ndiri." Ahmad mengulurkan beberapa kertas pada Sari.
Sari membacanya dan tersenyum, "I love this place!"
Mereka bertiga saling berpandangan dan tersenyum tanda puas.
...----------------...
Di sebuah ruangan tak jauh dari tempat Sari dan timnya berkumpul, Pak Lingga tampak mengawasi dari balik tirai. Ia terus memperhatikan interaksi kelima jurnalis itu tanpa berkedip.
"Apa ada masalah Pak?" tanya Saka.
"Nggak, semoga mereka bisa menemukan benda yang aku cari."
"Sari bukan tipe yang mudah menyerah, saya yakin clue yang kita kirimkan padanya bisa dipahami." ujar Saka menenangkan pak Lingga.
"Kita lihat apa yang mereka ajukan besok, semoga sesuai harapanku?"
Sebuah pesan rahasia telah terkirim ke alam bawah sadar Sari. Pak Lingga mulai berani memancing para penjaga yang tertidur. Dan kini mereka bersiaga, merespon pesan yang dikirim.
Sari merasakan kehadiran para penjaganya yang bersiaga. Kelebatan maung putih tertangkap sudut matanya. Sari meletakkan kertas yang ia baca, dan bergegas menuju tangga darurat dimana sang pemimpin menunggu dirinya.
"Patih …"
"Mereka datang membawa angkara Sari, bersiaplah menghadapi kemungkinan terburuk!"
"Mereka? Siapa?"
"Mereka yang berjalan dalam gelap, bersembunyi dibalik bayangan dan hidup dalam kesengsaraan."
Sari bingung dengan perkataan sang Patih. Ia mencoba memahami dan mengerti pesan terselubung darinya.
Saya nyesel suka bolos pas pelajaran bahasa, kalo gini kan pusing sendiri maksudnya?!