Petualang Jagad Lelembut

Petualang Jagad Lelembut
Bab 86 (REVISI)


Sari segera menyelesaikan berendamnya setelah merasa dirinya lebih baik. Dua abdi dalem sudah menyiapkan ramuan yang disiapkan khusus untuk Sari.


"Silakan diminum mbak Sari." kata salah satu abdi dalem yang bertubuh sedikit gemuk.


"Makasih, ehm ini amankan? Nggak bikin saya sakit perut kan?" tanya Sari sambil mencium aroma dari minuman dalam gelas bambu itu.


"Aman Sar, masa saya kasih kamu minuman beracun? Itu cuma minuman untuk menyegarkan badan juga memberikan rasa tenang pada pikiran," jawab Bayu tiba-tiba dari belakang Sari.


"Ya, kali aja … aku perlu waspada setelah kejadian tadi kan? Siapa yang tau kalau kamu ingin mencoba cara lain … yaitu membunuhku lewat minuman," ujar Sari dengan kerlingan mata pada Bayu.


Bayu terkekeh, rupanya Sari masih belum memaafkan perbuatannya. "Masih dendam soal kujang nancap di perut nih ceritanya?"


Sari tidak menjawab karena mulutnya dipenuhi ramuan yang sedikit kental dan pahit. Dengan susah payah ia menelan semuanya. "Curiga kan boleh saja, Bay! Ngomong- ngomong ini ada yang lebih pahit lagi nggak?" 


"Ada, mau coba?" Bayu menantang dengan jenaka.


Sari berdecak kesal, ia memberikan gelas bambu pada kedua abdi dalem Bayu.


"Brengsek kamu, Bay!"


Setelah kedua abdi setianya itu pergi, Bayu mengatakan sesuatu. "Sar, berhati-hatilah dengan musuhmu sekarang. Airlangga sepertinya bukan lawan yang mudah, dia … sedikit ruwet."


"Maksudnya rumit?" Sari penasaran dengan maksud Bayu. Apa yang dialaminya sekarang memang sedikit membuatnya bingung. Kedatangan Lingga sebagai sponsor utama serta maksud dan tujuannya mencari pedang sengkayana masih diliputi tabir misteri.


Belum lagi Airlangga yang tiba-tiba saja datang padanya setelah sebelumnya memasukkan racun dengan perantara Atikah. Sari juga tidak mengerti maksud terselubung Airlangga. Yang Sari tahu, Airlangga mendekati untuk menawarkan posisi menjadi menjadi sekutu atau mungkin pendampingnya. 


Kedua saudara kembar itu benar-benar mengacaukan hidupnya sekarang!


Bayu menatap Sari lekat lalu menghembuskan nafas berat. "Mereka yang ada dalam kutukan keabadian membawa petaka yang tak pernah berakhir. Dan kamu sudah terikat pada Lingga secara tidak langsung saat menyetujui perjanjian kerja sama untuk mencari pusaka."


"Ramalan ratusan tahun lalu memang menyebutkan hanya wanita dengan empat penjaga yang bisa mematahkan kutukan keabadian itu, tapi tidak disebutkan bagaimana caranya."


Bayu berpikir keras, lalu melanjutkan penjelasannya. "Aku sudah berusaha mencari penjelasan yang berhubungan dengan kutukan keabadian Lingga dan Airlangga dalam beberapa kitab pasundan kuno yang aku miliki, disana disebutkan salah satu cara untuk mematahkan kutukan Sang Prabu adalah dengan pertukaran jiwa. Keabadian Lingga bisa ditukarkan dengan kehidupan manusia yang kuat menanggungnya, salah satunya adalah orang seperti kamu, Sar!" 


Sari mengernyitkan dahi, "Lalu?"


Bayu kembali melanjutkan setelah menarik nafas panjang, "Tapi sayangnya kamu justru telah berubah menjadi abadi secara perlahan karena Airlangga, jadi tidak mungkin Lingga bisa menukar keabadiannya denganmu, karena kalian sudah sama-sama menjadi makhluk abadi."


"Hm, bagus kalau begitu kan? Lalu apa ada cara lain untuk mematahkan kutukan Sang Prabu?" tanya Sari bersemangat.


"Sayangnya tidak ada." Bayu menggelengkan kepala.


"Apa? Nggak ada, terus ngapain aku dengerin kamu panjang kali lebar begini?!" Sari mulai kesal dan kehilangan kesabarannya.


"Pertukaran jiwa hanya bisa dilakukan manusia abadi dan manusia biasa, sementara kamu?!"


Sari menatap Bayu berharap ada penjelasan lebih. "Ya oke aku tau kalau aku abadi, that's good. Maksudku selain pertukaran jiwa apalagi caranya, Bayu?!"


"Airlangga menyelamatkan kamu dari pertukaran jiwa itu, tapi aku rasa itu dilakukan dengan sengaja agar Lingga mendapatkan pedang sengkayana!"


"Wah, jadi dia sekarang jadi tokoh yang baik?" tanya Sari sinis tapi juga geli menghadapi kenyataan Airlangga bak dewa penolong baginya.


Brengsek, aku benar-benar sudah jadi bahan mainan kembar bersaudara itu rupanya.


***