Petualang Jagad Lelembut

Petualang Jagad Lelembut
Bab 69


Doni mulai gelisah, perlahan tapi pasti mereka satu persatu menampakkan diri dari kegelapan. Wajah mereka pucat dengan mata yang begitu tajam. Mereka menyeringai dengan seram menampakkan barisan gigi tajamnya. 


Tangan dengan kuku hitam panjang seperti cakar siap merobek setiap daging yang bersentuhan dengannya. Perlahan tapi pasti mereka bergerak nyata mendekati Doni dan yang lainnya.


"Aneh, mereka seperti bukan bangsa demit biasa." gumam Doni bersiap.


Pak Agus merapatkan badannya mendekati Doni, "Mas, mereka datang. Jangan gegabah mungkin mereka cuma mau nyapa aja."


"Mana ada muka jelek gitu menyapa saya yang gantengnya nggak ketulungan gini! Pak Agus ngelindur?"


Pak Agus hanya tertawa kecil.


 "Bantu saya pak, mereka terlalu banyak kalo saya harus ngadepin sendiri." pinta Doni.


"Boleh mas, gimana kalo tiap satu dari mereka saya kalahin saya dapat seratus ribu?!" seringai pak Agus jenaka pada Doni.


"Wehlah kok dadi bisnis?! Kagak usah bantu aja dah, rugi bandar saya kalo kek gitu modelnya!"


"Namanya juga usaha mas, syukur diiyain mas Doni kan lumayan dapet jackpot saya?!" sahut pak Agus cekikian karena geli melihat tampang Doni.


"Mad … Gas, ada masalah dikit nih! Kalian berdua bisa agak jauhan dikit kagak?!"


"Masalah? Ada apaan sih Don?" tanya Bagas bingung.


"Biasa, temennya calon makmum Lo bikin ribet! Repot dah jadinya!"


"Temen Sari yang mana?" Bagas semakin dibuat bingung dengan jawaban Doni.


"Demit Gas, ya Allah masa kudu gue jelasin!" Doni menggaruk kepalanya yang bahkan tidak gatal sedikitpun.


"Eeh, demit? Mana … mana Don, duh biyung mimpi apa gue semalem apes bener ketemu demit lagi!" teriak Ahmad histeris seraya memeluk Bagas.


"Apaan sih Lo Mad! Jauhan dikit!" Bagas mendorong tubuh Ahmad yang begitu lekat menempel padanya.


"Ogah! Demit Gas! Gue trauma ketemu demit kek kemarin di kamar mandi! Duuuh, Mak … Mamad takut Mak!" 


Doni tertawa tapi juga sedikit kesal melihat ekspresi Ahmad yang kini bahkan menangis.


"Eh Onta … malu maluin gue aja sih pake nangis segala!"


Ahmad masih memeluk Bagas erat dan sialnya Bagas merasakan sesuatu yang hangat merembes dan menyentuh kulitnya.


"Astaghfirullah onta! Lo kencing di celana?! Sialan celana gue ikutan kena pula! Minggir nggak Lo!" Bagas mendorong tubuh Ahmad kuat dan merenggangkan pelukannya.


"Sorry Gas, gue takut! Sumpah! Besok gue cuciin deh celana Lo!" tampang Ahmad memelas membuat Bagas tak tega


"Onta … onta, bikin malu aja dah ah!" 


Doni mendekati keduanya dan membuat mantra pelindung untuk Bagas dan Doni. Kubah gaib terbentuk.


"Jangan keluar lebih dari tujuh langkah, kalian aman disini! Duduk manis sama diem aja, doain gue juga biar selamet!" Doni berpesan seraya keluar dari kubah pelindung.


"Gas, ngeri bener! Ada apaan sih, gue nggak liat apa-apa padahal?!" tanya Ahmad celingukan mencari makhluk yang dimaksud Doni.


"Tau dah, gue juga nggak paham maksud Doni. Tapi yang jelas Doni lagi ngadepin sesuatu yang jahat!" sahut Bagas yang matanya tak lepas dari memperhatikan Doni.


Semburat jingga mulai terkalahkan gelapnya malam. Kabut turun semakin tebal dan hanya menyisakan jarak panjang sekitar dua meter.


Gondes tenan! Kok Yo kabute seng soyo kandel! 


"Bersiaplah mas, mereka semakin dekat!" Pak Agus mengepalkan tangannya di samping tubuh. Dia sendiri dalam posisi siap tanding.


Ini adalah sesuatu yang ada di luar dugaan Bagas dan yang lainnya. Liputan mistis mereka berubah menjadi malapetaka. 


Makhluk-makhluk itu berjalan dengan angkuh mendekati Doni dan pak Agus. Menembus kabut tebal dengan langkah penuh percaya diri.


"Siapa kalian, kenapa mengikuti aku dari tadi?" Suara Doni terdengar lantang bagaikan berada sebuah arena laga.


Suasana memang seketika berubah mencekam bersamaan dengan turunnya kabut abadi. Seolah semua suara menghilang dan sunyi senyap. Aura mistis begitu kuat dirasakan Doni.


Mereka kini seolah berada diruang hampa udara, begitu menyesakkan dengan benturan aura jahat dan baik. 


Doni melirik kearah Bagas dan Ahmad, memastikan keduanya masih aman di dalam pagar gaib. Salah satu dari sekumpulan makhluk kegelapan itu mendekati Doni dan menantangnya dalam isyarat, ia menyeringai sejenak lalu menyerang Doni tanpa peringatan.


Oke, its show time!