
Sari, masih terduduk dengan satu lutut menopang tubuhnya. Pedang Sengkayana masih menancap kuat di tanah. Tangannya menggenggam erat pedang yang baru saja menghabisi nyawa Rara.
Tubuh Rara hanya menyisakan sedikit jejak hangus. Air mata Sari mengalir deras, ia histeris. Bayangan kenangan bersama Rara sesaat sebelum keberangkatan liputan mereka ke Banyuwangi membayang jelas dimata.
Memorinya membuka kembali Canda tawa Ahmad dan Rara. Siapa yang menyangka jika Sari akan kehilangan mereka berdua dengan cara menyedihkan. Bahkan Sari menjadi Dewi kematian bagi Rara, sahabat terdekatnya.
Sari meluapkan kesedihan, ia berteriak dengan keras menyuarakan kepiluannya. Mencabut pedang Sengkayana dengan kasar, menyabetkannya ke ruang hampa ke segala arah.
Melepaskan energi besar berwarna merah keemasan dan menghancurkan apa pun yang ada didekatnya. Pepohonan, batuan besar, tebing dan bahkan tunas - tunas tanaman gaib. Untuk beberapa saat Sari menggila membuat keempat penjaganya khawatir.
"Kak, apa tidak sebaiknya kita …," Mahesa tampak cemas.
"Menghentikannya? Tidak, biarkan dia melepas emosinya hingga tenang. Itu akan membantunya menerima kenyataan." jawab Bimasena sambil terus menatap Sari.
"Siapa pun akan kalut jika menjadi malaikat kematian bagi temannya sendiri." lanjut Bimasena lagi.
"Apa yang akan dihadapi Sari di depan Kak?" tanya Abiyaksa.
"Entahlah, aku tidak ingin melihatnya hanya saja perjalanan Sari akan sedikit terjal." jawab Bimasena diikuti tatapan iba ke arah tuannya diikuti dengan yang lain.
"Aku harap dia kuat menghadapinya." Mahesa kembali berharap besar pada Sari.
"Tugas kita masih panjang untuk mendampinginya."
Sari mengakhiri aksi demo pedangnya setelah tubuhnya lemas tak berdaya. Ia mengeluarkan begitu banyak energi untuk kesedihannya. Pedang Sengkayana dilempar dengan kasar ke tanah dan seketika menghilang kembali ke tempatnya.
"Sar, waktunya pulang. Ahmad harus dikuburkan dengan layak." Bimasena mendekati Sari dan mengusap lembut punggungnya.
Sari menatap sejenak Bimasena dengan mata basah, lalu mengusapnya perlahan. Ia melihat kearah jasad Ahmad, dengan raut sedih Sari menyahut,
"Hhm, kamu benar … dia harus segera pulang. Ayo Bimasena kita antar dia kembali."
Sari melangkah gontai mendekati jasad kaku Ahmad, menatapnya lekat dan berbisik tepat di telinganya.
"Ayo kita pulang onta …yang lain menunggu disana."
Bulir air mata kembali membasahi pipi Sari. Mahesa membantu Sari menaikkan tubuh Ahmad di punggung Kandra. Mereka kembali ke alam manusia.
...----------------...
"Don,Sari kok lama bener ya? Gue khawatir?!" Bagas tampak mondar mandir menatap ke arah Sari pergi meninggalkan mereka.
Pak Lingga sudah memberikan Doni dan pak Agus obat untuk menyembuhkan lukanya, obat ajaib yang membuat luka Doni dan pak Agus cepat mengering.
Pak Lingga menatap Bagas dengan pikiran rumit. Tak sedikitpun gerak gerik Bagas yang luput tatapan matanya. Senyuman tipis tertarik disudut bibir Lingga.
Doni menangkap senyuman janggal itu, dan mengikuti pandangan Pak Lingga.
Cuma gue, apa … memang ada yang aneh sama si Lingga? Doni curiga.
Kabut tebal masih menyelimuti kawasan Candi Tikus. Bagas, Doni, Pak Agus, pak Lingga dan juga duo Bram dan Ray masih menunggu dalam gelap dan sunyi
Kawanan makhluk setengah iblis itu telah pergi seiring dengan perginya Airlangga entah kemana. Bahkan mayat mereka yang mati pun hilang tak berbekas. Bram dan Ray dengan luka-luka menghiasi wajah dan tubuhnya kini telah bergabung kembali bersama Pak Lingga.
Mereka bertiga sepakat berdamai dengan Lingga dan membuat perjanjian darah baru. Barang siapa dari mereka melanggar perjanjian itu maka kematian adalah harga mati.
Sari muncul dari pekatnya kabut abadi bersama keempat penjaganya. Ia berjalan gontai dan menatap sendu pada mereka.
Kandra perlahan meletakkan jasad Ahmad ke tanah. Semua terkejut dan menatap tak percaya.
"Innalillahi wa Inna ilaihi Raji'un … Sar, ini bohong kan?" Bagas tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Doni panik dan langsung mendekati Ahmad tanpa peduli lukanya lagi.
"Mad … bangun Mad, ini gue Doni Mad!" Ia menepuk nepuk pipi Ahmad berharap sahabatnya itu membuka matanya.
Doni merasakan tubuh Ahmad yang dingin dan kaku, mata Ahmad sedikit terbuka seolah memicingkan matanya pada siapa pun yang terkejut dengan kepergiannya.
"Onta … bangun! Lo jangan prank gue gini! Nggak lucu!" teriak Doni dengan tangisan yang mulai terdengar.
"Mad, Lo beneran mati ini Mad?!" Doni menahan isakannya, Ia memeluk tubuh kaku Ahmad yang telah membisu.
Bagas bersimpuh lemas menatap ke arah Ahmad, ia tak percaya Ahmad pergi begitu cepat. Beberapa menit sebelumnya ia masih melihat dan bercanda dengan Ahmad menertawakan kekonyolannya yang ketakutan tapi kini sahabat yang ia tertawakan telah pergi.
"Mad, maafin gue …," Bagas menahan tangisnya.
Sari menatap nanar pada rekan satu timnya, satu lagi orang yang ia sayangi meregang nyawa karena kelengahannya. Sari menggigit bibirnya, air mata kembali menetes, kedua tangannya mengepal keras di samping tubuhnya.
Ini nggak boleh terjadi lagi!