Petualang Jagad Lelembut

Petualang Jagad Lelembut
Bab 24


Sari kembali bergabung dengan timnya di kediaman Kang Pur. Ia menangkap kehadiran Pak Lingga yang berdiri di belakang lighting. Pak Lingga menatapnya sekilas dan kembali fokus pada pengambilan gambar.


Sari berusaha mengesampingkan rasa penasarannya dengan kembali fokus pada Kang Pur dan istrinya. Malam semakin larut, kendala suara dari luar lokasi dan kondisi Kang Pur yang kurang mendukung membuat Bagas terpaksa melakukan re-take berkali-kali.


"Kang, gimana kalo kita lanjutin besok aja syutingnya?"


"Istirahat dulu, besok pagi kali aja agak enakan." Bagas menawarkan option pada Kang Pur.


"Iya mas Bagas, boleh. Saya juga capek sekali ini. Seharian banyak tamu ditambah syuting jadi lelah."


"Kalo gitu malam ini cukup dulu. Besok kita lanjut lagi."


Kang Pur menyetujui usul Bagas dan akhirnya mengakhiri kegiatan malam itu. Kamera dan peralatan pendukungnya, dirapikan ditutup dengan plastik khusus agar terhindar dari hujan ataupun embun pagi.


Bagas dan yang lainnya beristirahat di salah satu rumah yang disediakan khusus untuk para tamu Kang Pur. Letaknya berseberangan dengan rumahnya. Bagas dan yang lainnya melepas penat sejenak dengan bercengkrama bersama.


Istri Kang Pur telah menyiapkan makan malam bagi para tamu. Dibantu dengan warga sekitar, ia menyajikan masakan khas Banyuwangi. Ayam kesrut daun Wadung. Olahan ayam dengan kuah bening segar dan sedikit asam yang berasal dari daun Wadung. 


Sari dan yang lainnya menikmati hidangan yang disajikan dengan lahap. Begitu juga dengan pak Lingga dan Saka. Terbesit rasa keingintahuan Sari untuk menanyakan pada Pak Lingga kemana gerangan ketiga orang anggota timnya.


"Atikah sama yang lainnya kok dari tadi nggak kelihatan? Lagi jalan-jalan?"


"Mungkin?" jawab pak Lingga singkat, ia tidak mengalihkan mata dari piring yang ada di depannya.


"Mas Saka tahu kemana mereka?"


"Maaf saya juga nggak tahu mbak?" Saka menjawab dengan senyuman ramahnya.


"Gimana sih punya tim kok pada nggak tahu gitu? Harusnya kan kalian kompak, apalagi kita lagi liputan begini?!"


"Iya deh, nanti saya tegur mereka." sahut Saka lagi.


Pak Lingga menyelesaikan makannya dengan cepat, ia kemudian berpamitan untuk sekedar berjalan-jalan. Saka segera mengikutinya dari belakang.


"Lo Sar, yang agak lembutan dikit napa kalo nanya ma dia? Inget lho dia sponsor, jangan sampai dua ngambek gegara lo?!" protes Doni.


"Emang aku nanyanya gimana? Kan bener Don?!" 


"Ya halus dikit kenapa? Tuh liat ngambek kan dianya, pergi dah tuh orang?!"


"Biarin aja, salah dia kenapa baperan?!"


"Sari, Lo tu mo kawin sama Bagas. Belajar jadi wanita lembut jangan selengean gitu?! Ibunya Bagas orangnya lembut banget lho?!" Doni kembali mengingatkan Sari sambil mengambil kembali potongan ayam dalam mangkok sayur besar di depannya.


Doni yang sadar melirik ke atas piringnya yang ternyata memang penuh dengan potongan ayam. "Astaghfirullah, sori Mad … kirain tadi ayamnya tinggal satu jadi gue ambil lagi. Lo mau ya, siniin piringnya?"


"Bekasan Lo? Diiih ogah, bisa kena tetanus makan bekasan Lo!" Ahmad mendengus dan mengambil sendiri potongan ayam dalam mangkuk.


"Jadi orang tuh suudzon mulu ni ma gue. Padahal gue mau berbaik hati ngambilin buat Lo." Doni kembali menyuapkan makanan dalam mulutnya.


Sari tertawa melihat tingkah kedua sahabatnya yang selalu bertengkar. Ia beralih menatap Rara yang sedari tadi tampak gelisah. Ingin rasanya menegur Rata dan bertanya tapi Sari urung melakukannya.


Rara menghabiskan makanannya dengan segera dan pergi meninggalkan timnya. Sari penasaran dengan sikap Rara memutuskan untuk membuntutinya.


Rara berjalan seolah tahu pasti kemana arahnya, padahal ia juga seperti Sari baru pertama kali menjejakkan kaki di tanah Banyuwangi.


"Rara mau kemana? Kok buru-buru banget gitu, aneh."


Sari kembali mengikuti Rara dengan hati-hati dan menjaga jarak. Sesekali ia bersembunyi di balik pohon untuk menghindari Rara yang berkali-kali berhenti memantau keadaan.


"Ra … semoga kamu nggak jadi seperti yang aku bayangin."


Rara berhenti di sebuah pohon besar dimana dua orang sudah menantinya. Sari terkejut melihat Atikah dan Rey menyambut Rara dengan senyuman lebar. Mereka tampak akrab sekali.


"Rara … bener kan dugaanku, ada yang aneh sama mereka." gumamnya sendiri, ia masih mengawasinya dari kejauhan.


Sari menekan energinya agar tidak terdeteksi dengan ketiga orang itu. "Mereka ngomongin apa ya? Mencurigakan gitu, andai aku bisa denger perkataan mereka."


Sari berusaha mendekat untuk mencuri dengar percakapan mereka, tapi ia lupa mereka memiliki kepekaan telinga yang luar biasa. Sedikit saja gerakan bisa mereka dengar, dan sialnya Sari menginjak ranting kering yang ada di depannya.


"Siapa disitu?!" Atikah berteriak ke arah Sari.


Duh Gusti … kenapa pake acara nginjek sih?! Mampus deh gue! 


Sari mengumpat dalam hati sambil berusaha menahan tubuhnya yang hampir terjatuh. Atikah diikuti Rey mendekat ke arah Sari bersembunyi. Jantung Sari berdegup kencang, bukan karena takut tapi karena seekor ular besar tampak merayap di dekatnya.


Hadeeeh disaat seperti ini kenapa juga ni ular pake acara lewat udah kek iklan aja nyelonong tanpa permisi … mampus gue ketauan dah!


Atikah semakin mendekat, dan semakin waspada. Tampak dari energi berlebih yang sengaja ia keluarkan untuk memberi peringatan pada lawan.


Sari semakin bingung dan tidak tahu harus berbuat apa, hingga kemudian ia merasakan tubuhnya melayang dengan ringan di udara. Seseorang sedang memeluk pinggangnya erat dan membawanya bersembunyi ke tempat lain.


Lho kok pindah tempat begini?! Aku nggak lagi mimpi kan?! Ini bukan dimensi lain, terus siapa dia?