Petualang Jagad Lelembut

Petualang Jagad Lelembut
Bab 81


Sari menepuk jidatnya kesal, ia kemudian berjalan ke belakang tubuh Ahmad, membingkai kepala Ahmad dan mengarahkannya pada Rara.


"Lihat tuh, siapa disana?!"


Seketika Ahmad terkejut dan gemetar melihat makhluk buruk rupa yang sedang melayang dengan kedua sayapnya.


"Sar … mata gue keknya perlu diobatin, i-itu apaan?! Demit apaan tuh Sar, gue baru tahu model begituan!" Ahmad menutup matanya tak sanggup melihat penampakan ajaib di depannya.


Sari sedikit merenggangkan tangannya, lalu mendengus kasar.


"Itu Rara."


"Hah, serius Lo!" Ahmad membalik tubuhnya cepat ke arah Sari.


Sari mengangguk pasti, sejenak menatap Rara lalu beralih menatap Ahmad.


"Cewek yang kamu cintai itu sudah nggak ada Mad." kata Sari sedih.


Ahmad mencoba menengok kembali ke belakang, memastikan apa yang ia lihat dengan mata kepalanya lagi.


"Hiii … batal dah gue nyatain cinta Sar! Ogah gue urusan ma cewek serem model gitu."


Ahmad kembali memutar tubuhnya menghadap Sari,


"Yuk, buruan balik Sar! Gue ngeri lama-lama disini!"


"Aku juga maunya gitu, tapi bentar deh aku kelarin urusan Rara dulu."


Sari mengedarkan pandangannya ke sekitar mencoba mencari tempat perlindungan bagi Ahmad yang tak jauh darinya.


"Mad, kamu bisa pergi ke arah sana bentar biar aku …,"


Perkataannya terhenti, Sari tiba-tiba mendengar suara serak dari seseorang yang menahan sakit.


"S-Sar …,"


Sari terkejut mendapati tubuh Ahmad yang dibungkus sayap hitam Rara, darah mengalir deras dari leher Ahmad dimana kepala Rara sedang asyik menikmati tiap teguk tetesan darah Ahmad.


Rasa sakit yang teramat sangat ditunjukkan pada wajah Ahmad yang pucat. Sari seolah membeku dan tidak bisa berbuat apa-apa.


Puas membuat luka besar menganga pada leher Ahmad, Rara kembali menghujamkan kuku hitam panjangnya dan menghancurkan jantung Ahmad.


Seketika tubuh Ahmad melorot ke bawah dengan pupil yang semakin lama semakin mengecil. Darah segar keluar dari mulut Ahmad. Bayangan Sari yang berkelebat di matanya, adalah yang terakhir terlihat untuknya.


Semuanya terjadi begitu cepat, Ahmad tewas mengenaskan. Sari menjerit dan seketika meraih tubuh Ahmad yang terkulai lemas tak bernyawa. Ia histeris dan berteriak memanggil nama Ahmad.


"Mad … Ahmad, bangun Mad!"


"Mad, maafin aku … maafin aku yang lengah jaga kamu!"


Sari mengguncangkan tubuh Ahmad yang sudah tak bernyawa berharap apa yang dilihatnya adalah ilusi dan Ahmad kembali bangun. Tapi usahanya jelas sia-sia, Sari tidak mungkin bisa membawa Ahmad kembali.


Sari menangis meratapi kebodohannya, sekali lagi ia kehilangan orang yang disayanginya. Sahabat dan rekan kerja terbaiknya, Ahmad.


Sari memeluk tubuh Ahmad erat, ia tidak peduli bau anyir darah yang menempel padanya. Tangisannya berubah menjadi amarah yang mengerikan. Matanya berkilat kemerahan, cahaya merah keemasan menyelimuti tubuh Sari.


"Mad, tunggu aku disini sebentar! Biar ku balaskan kematianmu!"


Sari meletakkan dengan hati-hati kepala Ahmad, ia mencium kening Ahmad dengan airmata yang manis menetes.


"Rara! Jangan mencoba kabur dari aku!"


Sari menarik pedang Sengkayana dari dimensi tempat ia menyimpan pusaka-pusakanya. Ia berlari dan berpijak pada dataran yang lebih tinggi lalu melompat, mengejar Rara yang terbang tinggi dengan tawa angkuh penuh kemenangan.


Rara terus terbang dan mengejek Sari untuk mengejarnya. Ia bermanuver di udara dan berbalik melesat ke arah Sari. Dengan seringai lebar ia menuju ke arah Sari dengan cepat dan bersiap menghujamkan cakarnya pada Sari.


Sari yang melihat Rara menuju ke arahnya tersenyum sinis. Dipegangnya kuat gagang pedang Sengkayana, sengatan energi masuk mengaliri tubuhnya. Matanya kembali berkilau merah.


"Pinjamkan aku kekuatanmu wahai roh pusaka!"


Seketika energi Sari bertambah berkali lipat, tubuhnya terasa ringan dan dengan mudahnya ia melesat menyambut Rara yang masih dengan angkuh tersenyum padanya.


"Matilah kau Sari!" teriak Rara lantang.


Jarak mereka semakin dekat hingga akhirnya mereka saling berbenturan. Ledakan energi dahsyat menimbulkan bola cahaya yang menerangi hampir separuh dimensi lelembut bagaikan matahari yang menyinari hutan gelap.


Rara jatuh dengan keras ke tanah, ia kehilangan salah satu sayapnya. Sebagian tubuhnya menghitam akibat energi panas yang keluar dari pedang Sengkayana.


Rara memuntahkan darah hitam kental. Ia bersusah payah berusaha menahan kesadarannya. Satu tangan menopang tubuhnya sementara sayap hitamnya yang tersisa terkoyak dan tidak bisa digunakan lagi.


Sari turun perlahan dan mendekati Rara, pedangnya masih mengeluarkan cahaya merah keemasan begitu juga dengan mata Sari.


"Sari, ini aku Rara … tolong aku Sar!"


Sari tidak menjawab dan terus mendekati Rara yang mulai ciut nyalinya melihat energi besar Sari.


"Sar … please, ini aku! Aku kangen saat-saat kita makan Lumpia basah bareng. Tolong aku Sar!"


Sari berdiri tepat di sisi kiri tubuh Rara, ia menatap sinis Rara atau tepatnya iblis yang bernama Rara.


"Aku akan menolongmu Ra, melepaskan kamu dari siksaan iblis!"


Dengan cepat Sari menusukkan pedang Sengkayana tepat dijantung Rara yang diikuti lengkingan panjang nan memilukan. Cahaya kemerahan merembes mengikuti aliran pembuluh darah Rara bagaikan aliran lahar panas yang kemudian membakar tubuh Rara menjadi abu.


Sudah berakhir, semoga kalian tenang disana … kalian adalah sahabat terbaikku. Maafkan aku yang gagal melindungi kalian.