Petualang Jagad Lelembut

Petualang Jagad Lelembut
Bab 94


Sari merapalkan mantra kuno yang terlintas begitu saja dibenaknya. Pagar gaib terbentuk bersamaan dengan langkah kaki Sari yang berjalan mengelilingi rumah. Pagar gaib itu menjulang tinggi membentuk kubah yang menutup sempurna.


Sari berdiri ditengah halaman, melihat kearah para pengintai di luar pagar gaib. Menunggu respon dari para pengintai.


"Untuk sementara sepertinya aman, mereka cuma mengawasi dan belum bertindak. Semoga yang aku takutkan nggak kejadian deh."


Sari kembali masuk ke dalam rumah setelah memastikan pagar gaibnya bekerja dengan baik.


"Beb, ada apaan sih? Kok jadi tegang gini?" Bagas langsung menyambutnya dengan pertanyaan begitu Sari membuka pintu.


Sari hanya tersenyum lalu menarik tangan Bagas agar mengikutinya ke ruang keluarga.


"Si kembar gila itu mengincar kamu dan juga Doni."


"Kembar? Siapa?" Bagas bingung, Sari lupa Bagas tidak mengetahui jika Lingga memiliki saudara kembar.


"Pak Lingga, dia sama adiknya Airlangga. Mereka saudara kembar. Sama-sama tajir, sama-sama kuat, sama-sama immortal, dan sama-sama gilanya."


" …" Bagas melongo, ia bingung dengan penjelasan Sari. 


"M-maksud kamu pak Lingga yang sponsor itu? Sponsor utama kita? Immortal? Gila?" Bagas mencerca Sari dengan sederet pertanyaan.


"Ada lingga lain yang kamu kenal?" Sari balik bertanya.


"Yaaah … siapa tau aku salah, and immortal? Come on beb, I can't believe that! In this world there is no immortal!"


(Dan abadi, ayolah sayang tidak ada yang abadi di dunia ini. Aku tidak bisa mempercayainya!)


"Waktu di homestay bukannya Dia udah jelasin ke kamu beb, kalo dia immortal?" tanya Sari heran.


"Homestay? Ehm, yaa ... dia cerita tapi aku mikirnya itu ... lelucon?"


Sari diam dan menatap tajam Bagas, sulit baginya menjelaskan kata immortal pada kekasih hatinya itu.


"Ok, fine … you have to look at this! Lihat dan perhatikan!"


Sari mengambil pisau buah yang tajam ke dapur, ia lalu kembali dan duduk tepat di hadapan Bagas.


"Wow … kamu jangan main-main beb, itu tajem lho!" Bagas panik.


Sari tersenyum miris dan tanpa ragu mengiris lengannya. Darah mengucur deras dari luka dalam yang sengaja Sari buat. Bagas langsung berteriak kencang.


"Gila kamu Sar! Don … cepetan sini, ambilin kotak p3k!"


"Beb, please lihat dan perhatikan saja!" Sari meringis menahan nyeri yang luar biasa dari lukanya.


"Lihat gimana sih?! Gila kamu, emangnya lagi main debus apa gimana sih! Pembuktian apa yang mau kamu kasih liat ke aku sampai bahayain nyawa sendiri gini!" 


"Don! Yaelah … ni anak kemana sih, lama bener! Doni!" Bagas kembali berteriak memanggil Doni.


"Iya …iya, ada apaan sih Gas! Siapa yang luka, ni kotaknya! Kagak sabaran bener dah, kan nyari dulu tadi!" Doni datang dengan bersungut-sungut.


"Sari! Bikin demo main debus, nyobain kali tu pisau tajem apa kagak!" sahut Bagas kesal dan mengambil kotak p3k dengan paksa.


Sari meringis tanpa dosa, dengan perlahan ia mengangkat tangan yang terluka di depan kedua lelaki itu.


"Perhatikan lukanya!"


Mata Doni dan Bagas terbelalak luka Sari perlahan menutup sempurna dan menghilang tanpa bekas.


"Gas, kamu kan dah pernah lihat waktu kita di serang tempo hari. Kamu lupa?" tanya Sari.


"Eeh, ehm … ya, aku … aku inget, cuma aku pikir ehm, itu halusinasi?" Bagas menggaruk kepalanya sendiri.


"Great ... lupa lagi! Untung aja kamu nggak lupa sama aku beb!" Sari kesal.


"Waaah emejing!" Doni langsung menyambar tangan Sari dan membolak balikkan tangan itu dengan takjub.


"Lo beneran jadi superhero! Luar biasa!" Doni berteriak histeris.


"Ini yang aku maksud dengan immortal Gas! Lingga, Airlangga dan juga aku. Kami tidak bisa dilukai ataupun mati." Sari mengungkapkan fakta pedih yang ia harus terima sekarang.


"T-tapi, kok bisa itu terjadi ke kamu?" Bagas masih tidak percaya.


"Panjang ceritanya Gas, bisa sampai subuh juga belum selesai." jawab Sari.


"Kedua kembar sinting itu yang membuatku berubah." 


"Lo yakin? Bukan cuma asumsi doang? Trik sulap maybe or …"


Don, please its real! Awalnya aku juga nggak mau percaya, tapi kenyataannya memang begitu. Lingga punya maksud terselubung dengan menjadi sponsor, tapi karena sesuatu hal rencananya mungkin berubah." 


"Berubah? Dia nggak minat sama pusaka itu lagi? Atau gimana nih?" tanya Doni lagi.


"Entahlah, yang jelas mereka mengincar kalian berdua." 


Bagas dan Doni saling berpandangan, "Lho apa hubungannya sama kita?"


"Lingga ingin mengakhiri keabadiannya, tapi itu nggak bisa dia lakukan sendiri. Sesuai ramalan hanya aku yang bisa melakukannya. Aku khawatir mereka berniat menggunakan kalian berdua untuk memancingku."


"Umpan maksud kamu?" tanya Bagas diikuti anggukan Sari.


"Jadi sekarang kita gimana nih?" tanya Doni serius.


"Berjaga dan saling melindungi satu sama lain."


Sari beranjak dari duduknya dan mengintip dari balik tirai. Beberapa pengintai mulai berani mendekati pagar gaib. Mereka seolah ingin mengetahui kekuatan pagar gaib yang dibentuk Sari.


"Hari mulai gelap, kita harus waspada Don mereka mungkin menyerang saat kita lengah."


"Berapa banyak yang ada diluar sana?" tanya Doni yang ikut mengintip keadaan diluar.


"Entah, lima atau mungkin lebih! Aku nggak tahu mereka ada dipihak siapa tapi yang jelas kedatangannya tidak bersahabat!"


Suasana tegang tampak menyelimuti mereka bertiga. Bagas, Doni dan Sari duduk di ruang keluarga dalam diam. Bunyi jam di dinding terasa mengerikan seolah sedang menghitung mundur waktu kematian mereka.