
Aaargh … kesel gue! Kek dipenjara gini sih!"
"Sar, gimana kalo kita keluar terus hajar itu orang! Gemes bener dah ah!" Doni emosi, ia berjalan mondar mandir sambil sesekali mengintip dari balik tirai.
"Kalian lapar nggak, aku masakin sesuatu dulu deh. Mbak Pur keknya nggak dateng lagi."
Sari baru saja berdiri saat gedoran keras di pintu terdengar. Mereka bertiga saling berpandangan dan waspada.
"Siapa tuh?" Doni langsung mendekati pintu.
"Don, hati-hati!" Sari mengingatkan.
Nggak mungkin kan mereka bisa masuk ke dalam pagar gaib yang aku buat?!
"Siapa?" tanya Doni sebelum membuka pintu.
"Mas Doni, ini mbak Pur! Saya mau anter nasi punjungan dari Bu RT buat mbak Sari!" sahut mbak Pur dari luar sana.
Doni menoleh ke arah Sari sejenak sebelum membuka pintu. Sari mengangguk.
"Iya bentar mbak!"
Doni membukakan pintu, dan mendapati mbak Pur yang tersenyum lebar sambil menunjukkan dus makanannya.
"Masuk mbak!" Perintah Doni sambil celingukan melihat situasi.
"Mbak Sari, ini lho Bu RT lagi punya hajat mau nikahin anaknya! Tadi kesini katanya mbak Sari belum Datang! Nih gek ndang dimaem takut suloyo sayurnya mbak!"
(cepat dimakan takut basi sayurnya mbak)
"Oh, iya … makasih mbak Pur. Emang kapan bu RT hajatannya?" Sari mendekati mbak Pur.
"Katanya hari Sabtu mbak." jawab mbak Pur seraya meletakkan tiga dus makanan bermotif di depan Bagas.
"Mas Bagas laper kan? Ayo ndang dimaem ini daharane!" selarik senyum aneh tertangkap mata Sari.
Mbak Pur? Kenapa senyumnya gitu?
"Oh nggih mbak, nanti saya makan deh! Taruh situ dulu aja." sahut Bagas dengan senyum.
"Mau tak ambilkan piring nopo pripun?" Mbak Pur menawarkan.
"Nggak usah nanti saya ambil sendiri aja?" Bagas menolak.
Aneh, mbak Pur nggak pernah ngomong gitu ke Bagas? Biasanya asal ngomong nggak pake basa basi!
Mbak Pur berjalan ke arah dapur, mengambil peralatan makan untuk Bagas. Sari kembali menangkap tatapan tak biasa mbak Pur pada Bagas.
Jangan-jangan …,
"Mbak, bisa buatin kopi buat Bagas? Keknya dia ngantuk, saya juga sekalian buatin ya!"
Mbak Pur tidak menjawab hanya mengangguk, dan kemudian berbalik melaksanakan perintah Sari. Ia tidak menyadari jika Sari menatapnya curiga.
Dia bukan mbak Pur!
Sari berjalan perlahan mendekati mbak Pur dan kemudian menyergapnya dari belakang. Kujang Siliwangi telah berada di leher mbak Pur.
"Siapa kamu! Beraninya kamu menipu saya!"
"Mbak Sari apa-apaan sih, ini saya mbak Sari?"
Sosok yang menyerupai mbak Pur masih berpura pura mengelak.
"Katakan atau kau mati!"
Sosok itu tiba-tiba tertawa nyaring dan dengan cepat menarik tangan Sari dan membantingnya ke depan. Sari tidak mau kalah dijepitnya leher sosok itu dengan kedua kakinya lalu berganti membantingnya ke lantai.
Sari segera naik ke atas tubuh mbak Pur jejadian itu lalu kembali meletakkan kujangnya di leher.
"Siapa kamu?"
"Aku?? Aku adalah pencabut nyawa mu!"
"Siapa yang menyuruhmu kesini!"
"Bukan urusan kamu!"
Sosok itu berubah menjadi lelaki dengan kedua taring menghiasi diantara barisan giginya. Ia menyeringai tapi Sari tidak membiarkannya lepas. Dengan tanpa ampun Sari langsung menggores dalam leher sosok itu menimbulkan suara serak yang menggidikkan telinga.
Darah hitam kental keluar dari leher sosok itu dan Sari kembali menghujamkan kujangnya tepat di jantungnya. Sosok itu lebur dan berubah menjadi abu.
"Don! Jaga Bagas, mereka berhasil masuk!"
Sari menoleh ke arah Doni berada, tapi betapa terkejutnya dia ketika mendapati Doni tergeletak di lantai. Pintu terbuka lebar dan gumpalan kabut putih terlihat pergi melalui pintu yang terbuka.
Bagas hilang!
Sari panik dan segera mendekati Doni, "Don … Doni!"
Bagas … dimana Bagas!
Sari berlari keluar dan mendapati tubuh mbak Pur yang tergeletak lemas di tengah halaman.
"Mbak Pur …, sial! Mereka berhasil masuk pake tubuh mbak Pur!" Sari geram, merutuki kebodohannya sendiri.
Kubah gaib itu tampak sedikit berlubang dan gumpalan asap putih itu sudah pergi entah kemana dengan membawa serta Bagas di dalamnya. Sari kembali kecolongan.
"Bagas … Bagas!!!"