
Mom Adeline menemani Sari dikamarnya. Sesekali Sari mengigau menyebut nama Bagas. Tubuhnya demam. Seharian Sari tergolek lemah di kasur, tidak mau makan ataupun minum membuat kedua orang tuanya khawatir. Begitu juga dengan mbak Pur.
"Mbak Sari, makan dulu mbak … nanti mbak Sari sakit. Mbak Pur suapin ya?!" Mbak Pur dengan setia menemani dan memijit kaki Sari.
"Hhmm, nanti mbak." jawab Sari lemah.
"Duh demamnya belum turun juga! Ndoro putri, gimana ini mbak Sari? Dibawa aja ke IGD takut kenapa-kenapa!" ujar mbak Pur panik.
Mom Adeline meletakkan tangannya ke kening Sari, ia terkejut karena suhu tubuh Sari begitu tinggi saat menyentuhnya.
"Astaghfirullah, Sari … mbak, kamu panggil si Amri buat nyiapin mobil!" seru mom Adeline.
Mom Adeline hendak bersiap ketika tangan Sari meraihnya. "Niet mama"
( Jangan mam)
"Sari hanya butuh istirahat, besok juga sembuh."
"Nggak kamu harus ke dokter sekarang sayang!"
"Mam, percaya sama Sari. Besok Sari udah baikan. Sari bisa menyembuhkan diri Sari sendiri." Sari mengatakannya dengan yakin.
Mom Adeline menatap wajah kuyu putrinya, "Kau yakin?"
Sari mengangguk, "Sekarang tolong tinggalin Sari sendiri, Sari mau meditasi dulu."
Dengan berat hati Mom Adeline meninggalkan Sari. Ia meminta mbak Pur juga keluar dari kamarnya. Setelah pintu tertutup Sari bersiap melakukan meditasi. Duduk bersila di atas karpet dan mulai berkonsentrasi.
*****
Hari pun berlalu dengan cepat, seminggu sudah dilewati Sari. Kesedihan masih tampak di wajahnya meski ia berusaha menutupinya. Doni sudah keluar dari rumah sakit, lukanya belum sembuh benar tapi jauh lebih baik dari sebelumnya.
Doni mengunjungi rumah Sari. Mom Adeline menyambutnya dan mengantarkan Doni ke halaman belakang tempat Sari sedang duduk dalam diam.
"Sar,"
Sari terkejut tidak menyangka kedatangan Doni. "Eh Don, kamu sudah sembuh?"
"Belum, tapi agak lumayan lah."
"Syukur deh." ujar Sari singkat.
"Maafin gue Sar, gue gagal cegah kejadian itu." Doni menyesal.
"Hmmm, itu sudah takdir Don."
"Sar, temenin gue ke makam yuk? Kan nggak mungkin gue nyetir sendiri begini." pinta Doni pada Sari dengan menunjukkan tangan kanannya yang dibalut gips.
Sari melirik ke arah jam dinding, sudah pukul tiga sore. "Sekarang?"
"Kagak, nanti malem juga kagak napa-napa sekalian ngerondain makam!" Doni mencoba bercanda agar Sari tersenyum.
"Ya sana ronda aja sendirian, aku males." sahut Sari datar.
"Heeeem, tega Lo sama gue! Gue kangen Bagas Sar, temenin yuk?!"
Sari menghela nafas berat lalu menjawab. "Iya … iya, tunggu bentar!"
Sari akhirnya mau mengantarkan Doni, mereka pun berangkat tak lama kemudian, meski baginya melihat makam Bagas terasa berat untuk Sari.
"Gas, sorry gue baru bisa Dateng. Gue baru keluar dari rumah sakit, nggak sempat nganter Lo ke peristirahatan terakhir." kata Doni lirih.
Sari menatap kosong ke arah nisan Bagas. Rasa rindu pada sosok Bagas membuat lidahnya kelu tak bisa bicara lagi. Hanya airmata yang kembali menetes.
Doni tidak ingin berlama-lama di makam apalagi melihat kondisi Sari yang masih terlihat muram dan sedih.
"Sar, boleh gue ngomong sama Lo bentar?" Doni berkata setelah memakai seat belt nya.
"Hmm, ada apa?"
Doni menatap Sari sejenak lalu mengeluarkan sesuatu dari tas kecil yang dibawanya.
"Gue juga nggak tau kapan surat ini masuk ke dalam tas tapi … gue pikir Lo harus baca ini."
Sari mengambil amplop putih dari tangan Doni dengan gemetar. Sari membukanya perlahan seraya menatap Doni ragu.
"Buka dan baca aja, itu dari Bagas."
Sari menatap tak percaya, matanya seketika berkaca. Ia pun membacanya,
To my beloved,
Sar, aku harap surat ini nggak pernah sampai ke kamu. Tapi kalau memang surat ini terbaca sama kamu itu artinya aku sudah pergi.
Entah apa yang aku rasain saat ini tapi aku merasa waktuku bersama kamu sudah nggak lama lagi.
………….
Sari berhenti membaca dan menatap Doni, matanya mulai basah. Ia pun kembali membacanya.
Sar, andai hidupku memang singkat aku cuma mau kau tahu satu hal betapa aku sangat bersyukur diberi waktu untuk dekat denganmu dan berkesempatan mencintai kamu, ……..
Sari terisak, tapi kembali melanjutkan membaca.
Seandainya waktuku memang sudah habis denganmu, aku ingin kamu tetap bisa melanjutkan hidup tanpa aku.
……………
……………
Don, lo sahabat gue … please jagain Sari kalo gue nggak ada.
Gue yakin Lo bisa dan mau jagain dia buat gue. Kalo perlu jadilah calon imamnya pengganti gue.
…………..
Sar, mencintaimu tidak akan pernah terbatas dimensi. Selamanya aku akan tetap mencintai kamu. Jangan salahkan takdir, jangan pula salahkan keadaan yang memisahkan kita.
I Will always fall in love with you now and forever.
…………..
Sari tidak lagi bisa menahan dirinya. Ia membiarkan dirinya jatuh lagi dalam kesedihan. Doni hanya bisa menggenggam tangan Sari, dan mengusapnya lembut memberikan dukungan pada Sari yang sedang terguncang.
Doni berjanji dalam hati, dirinya akan menjalankan wasiat Bagas. Dia akan menjaga Sari sampai akhir hayatnya. Meskipun untuk mendapatkan cinta Sari tidak akan mudah setelah apa yang Sari lewati.
"Sar … gue janji bakal jagain Lo, seumur hidup gue." bisiknya lembut ditelinga Sari.