Petualang Jagad Lelembut

Petualang Jagad Lelembut
Bab 42


Sari dan yang lainnya masih diruangan membahas kemungkinan yang terjadi pada Rara, ketika Doni mengaduh keras karena ulah Ahmad yang memeluknya dari belakang. 


"Apaan sih Lo?! Segala peluk-peluk lagi, gue masih normal Mad. Lepasin!" gerutu Doni dengan melepas kasar tangan Ahmad yang mencengkeram kuat di lehernya 


"Don, tolongin gue … demit Don, demit!" Wajah Ahmad pucat pasi, matanya bahkan terpejam saking takutnya.


"Demit? Dimana? Masa demit ketemu demit takut sih?" ledek Doni sambil terus berusaha melepaskan tangan Ahmad.


"Itu, dikamar mandi Don! Hiii …, ngeri?!"


Sari mengernyit, kelebatan bayangan tampak disudut matanya. Seorang wanita cantik dengan senyuman mengerikan menyeringai padanya. Sari hanya diam dan balik menatap sosok wanita yang berdiri sejenak didepannya dan menghilang begitu saja. 


"Hhmm, ni rumah angker bener … siapa lagi dia?" gumam Sari pelan.


"Udah nggak usah takut, dah pergi juga!" kata Sari menenangkan Ahmad.


"Serius Lo Sar, aman ni?!"


"Iya, aman." jawab Sari dengan yakin.


"Dah kan, lepasin ni tangan! Udah kek apa aja sih?!" kata Doni kesal.


Ahmad segera melepaskan tangannya dan menjauhi Doni, ia menengok ke belakang sebentar dan menyentuh tengkuknya yang meremang.


"Hiiii …, ngeri, gue nti tidur ma Lo yak?! Please!"


"Diiih, ogah … nti Lo peluk-peluk gue lagi!"


"Don, please gue takut ni!"


"Ogaaah!" Doni beranjak pergi meninggalkan ruangan diikuti dengan Ahmad yang terus merengek padanya. Sari hanya tertawa kecil.


Ponsel milik pak Lingga berbunyi, ia menatapnya sejenak lalu memerintahkan Saka untuk menjawabnya.


Saka dengan sigap mengambil ponsel itu lalu menjawab panggilan yang rupanya berasal dari Kang Pur. Obrolan singkat terjadi diantara keduanya melalui ponsel. 


"Kang Pur, beliau mengabarkan kegiatan bersih desa diundur. Jadi kemungkinan liputan kita juga menunggu kabar dari mereka." kata Saka setelah menutup ponselnya.


"Terus kita gimana nih, mau lanjut kemana? Kan nggak mungkin kalo kita kesini piknik doang?!" tanya Sari pada pak Lingga.


"Ada usul?" Pak Lingga balik bertanya pada Bagas.


Bagas berpikir sejenak lalu menjawab pertanyaan Pak Lingga, "Gimana kalo kita ke desa Blambangan? Suku Osing erat kaitannya sama kerajaan Blambangan juga kan? Kita bisa telusuri disana."


"Ide bagus, coba kamu buat rencananya Gas! Besok kita berangkat ke sana, siapa tahu ada petunjuk penting didesa itu." perintah pak Lingga pada Bagas.


...----------------...


Setelah beristirahat sejenak, Sari dan Bagas melanjutkan tugas mereka untuk menggali informasi tentang daerah Blambangan. Beberapa informasi penting mereka catat dan diberi catatan kecil. 


Kerajaan Blambangan diketahui tumbuh bersamaan dengan kerajaan Hindu Jawa terbesar saat itu yaitu kerajaan Majapahit. Setelah Majapahit runtuh pada sekitar abad ke 15, Blambangan menjadi satu satunya kerajaan Hindu di pulau Jawa.


Sejarah Banyuwangi sendiri memiliki keterkaitan erat dengan kerajaan Blambangan. Namun, asal usul ataupun riwayat sejarah Banyuwangi sendiri belum terkuak sepenuhnya dan sebagian masih menjadi misteri hingga saat ini.


"Beb, menurut kamu gimana ini baiknya? Kita mau langsung ke desanya cari situs kerajaannya apa kita cari informasi ke budayawan dulu." tanya Bagas sambil menscroll layar monitor didepannya.


"Aku agak males ketemu orang-orang Gas, gimana kalo kita berkunjung dulu ke situs sejarahnya. Museum gitu, ada nggak disana?" sahut Sari yang juga ikut mencari bahan liputan di laptop lain.


Mereka kembali asyik berselancar di internet mencari bahan liputan. Doni muncul bersama Ahmad dengan membawa perlengkapan masing-masing. Sari melirik sekilas ke arah Ahmad, senyum tertahan mengembang di bibirnya.


Ahmad terus membuntuti Doni seperti anak ayam yang mengikuti induknya kemana saja. Sesekali Doni mendengus kesal dengan sikap Ahmad.


"Ccck, Mad … Lo bisa minggir dikit kagak sih! Nggilani!"


Ahmad mengatur jarak dengan Doni tapi tetap saja jarak mereka hanya bergeser satu jengkal. Sari tertawa melihatnya begitu juga Bagas.


"Ciieee … yang nempel terus kek perangko! Eeh perangko ja kalah, super glue!" ledek Bagas.


Doni bergumam sendiri tak jelas, yang terdengar hanya umpatan pada diri Ahmad. "Lanang kok jirihan!" (Lelaki kok penakut!)


Sari kembali tidak bisa menahan tawanya, ia menyeka airmata yang keluar dari sudut matanya. "Apesnya kamu, Don!"


"Don, Mad, kalian bantuin Sari cari sumber liputan! Kita besok berangkat ke Blambangan cari bahan sekalian cuci mata!" kata Bagas seraya berlalu meninggalkan mereka bertiga.


"Siap bos! Nah, Lo mo kemana Gas malah pergi?!" tanya Doni.


"Keluar bentar cari angin!"


Doni segera membuka laptop kesayangannya dan dengan cekatan membuka beberapa situs arkeologi dan sumber lain. "Sar, serius kita mo kesana?" 


"Hhhmmm …"


"Wilayah Blambangan dulunya itu tempat pelarian orang-orang Majapahit termasuk Bhre Wirabhumi." gumam Doni sendiri.


"Majapahit, ada hubungannya ma pak Lingga nggak sih?!" tanyanya sendiri.


"Kamu ngomong apa Don?"


"Blambangan, Majapahit … keknya kita kudu nanya nih sama pak Lingga?!" jawab Doni.


"Bentar lagi dia juga kesini, tunggu aja Don." sahut Sari tanpa mengalihkan matanya dari monitor 


Sari kembali asyik menatap layarnya, ia mendapati sumber menarik. Sebuah berita tentang pementasan tokoh iconic, Minakjinggo. "Menarik, siapa sih dia?" gumamnya.


Sari membaca keseluruhan informasi dan juga membaca beberapa liputan yang mendukung sebelumnya. "Don, kamu tahu Minakjinggo sejarahnya gimana?"


"Minakjinggo? Pernah denger sih, dia bukannya penguasa Blambangan yang dianggap melawan Majapahit bukan sih?"


"Tau deh, kalo tahu aku nggak nanya kamu Don? Tapi keknya bener, disini juga disebutin gitu sih. Dia kalah sama …"


"Damarwulan." jawab seseorang yang berjalan mendekat, pak Lingga.


"Eh bapak, kebetulan. Pucuk dicinta ulam pun tiba judulnya." ujar Sari dengan senyumnya.


"Kita ke Blambangan cuma buat ambil gambar aja besok. Tujuan sebenarnya kita bukan kesana." kata pak Lingga lagi.


"Eh, terus kemana? Nggak jadi cari petunjuk nih pak?" tanya Sari.


Pak Lingga tidak menjawab, dia hanya tersenyum samar. Sari dibuat semakin penasaran dengan sikap pak Lingga, sementara Doni semakin mencurigai maksud terselubung pak Lingga.


Perjalananku mendekati akhir, setelah sekian lama … semoga tidak ada gangguan berarti lagi!


Tinggal membereskan Airlangga, awas saja jika dia sampai mengangguku!