
Doni memeluk erat jasad Ahmad, tangisnya masih terdengar menyayat hati.
"Siapa yang bikin Ahmad begini Sar?" tanya Doni geram.
"Rara." jawab Sari datar dengan mata menerawang.
Bagas terbelalak, "Terus dimana dia sekarang?"
"Mati ... aku udah bunuh dia." Sari menjawabnya dengan datar, matanya kosong menerawang ke depan.
Semuanya terkejut mendengar jawaban Sari. Mereka tak percaya bahwa Rara yang dikenal baik bisa menjadi pembunuh.
"Rara yang kita kenal dulu bukanlah Rara yang semanis dulu. Dia berubah menjadi iblis dan menculik Ahmad. Dia …," Sari tercekat.
Ia menunduk dalam dan kembali terisak, "Maaf … maafin aku yang gagal bawa Ahmad pulang dengan selamat, ini salahku … aku yang lengah, aku yang menganggap sepele Rara ..,"
Tangis Sari begitu memilukan, Bagas dan Doni hanya bisa memandangi jasad Ahmad. Semuanya larut dalam kesedihan masing-masing.
Lingga mendekati Sari, ia menepuk bahu dan berusaha menghibur Sari.
"Kamu sudah berusaha dengan baik Sar, jangan salahkan diri sendiri. Kita nggak bisa menyentuh takdir seseorang."
Sari diam dan menatap Lingga dengan mata basah lalu kembali menatap Ahmad.
"Kita harus bagaimana sekarang? Liputan ini nggak mungkin dilanjutkan, saya nggak sanggup." tanya Sari serak menahan tangis.
Pak Lingga menatap Sari dengan lekat, ada rasa tidak rela di hatinya jika liputan ini berhenti. Tapi ia juga harus bisa memahami kesedihan timnya yang kehilangan dua anggota sekaligus, apalagi kematian mereka tidak wajar.
Bagas mendekati pak Lingga, wajahnya muram dan dengan suara berat ia mengatakan,
"Kita kembali ke Semarang segera, Ahmad harus kita kembalikan pada kedua orang tuanya. Ini tanggung jawab kita."
Pak Lingga hanya mengangguk dengan berat hati. "Iya mas Bagas benar, kita rehat sejenak."
Bagas mendengus kasar, menjambak rambutnya dengan frustasi.
"Mau bilang apa coba sama keluarganya? Nggak mungkin kan kita bilang Rara yang bunuh dan lagipula jasad Rara juga nggak ada!"
Sari tidak bisa menjawab, dirinya masih memutar memori canda tawa Ahmad dan Rara.
"Sekarang kita harus bilang apa sama orang tuanya?! Bisa-bisa kita semua dilaporkan ke polisi sama orangtuanya!" Bagas benar-benar panik dan frustasi.
"Tidak, jika saya yang mengaturnya!" sahut pak Lingga penuh misteri.
Sari dan Bagas saling berpandangan sebelum akhirnya menatap ke arah pak Lingga.
"Saya akan mengatur semuanya, serahkan urusan mereka sama saya. Kita rehat dua Minggu, setelah itu kita lanjutkan lagi liputan!" Pak Lingga berganti menatap keduanya dengan tajam.
Sari menggelengkan kepalanya,
"Nggak, saya nggak mau ikutan lagi! Cukup, saya mundur!"
Pak Lingga menatap Sari tajam, dari sorot matanya jelas dia tidak terima dengan pernyataan Sari.
"Apa alasan kamu mundur?! Kontrak sudah dibuat, kamu nggak bisa main mundur aja gitu! Saya nggak izinin kamu keluar dari tim!"
Sari berhadapan dengan Lingga menatap tajam pria berumur ratusan tahun itu dengan geram.
"Saya nggak butuh ijin bapak juga buat keluar. I quit!" (saya berhenti!)
"Perjanjian diantara kita sudah dibuat, dan itu mengikat kamu dan juga yang lain!"
"Nggak masalah, saya transfer ulang semua uang bapak besok! Nyawa mereka lebih berharga daripada uang pak Lingga!" Sari meninggikan suaranya, ia begitu emosi.
"Lalu?!"
"Kalian telah membuat perjanjian denganku, perjanjian mengakhiri kutukan dan itu mengikat kalian sampai akhir!"
Sontak Bagas dan Sari terkejut mendengarnya, mereka tidak percaya dengan perkataan Lingga.
"Apa maksud bapak?" Sari mengernyit.
"Sebelum kutukan itu berakhir kalian akan tetap terikat padaku sampai akhir. Meskipun kalian menghindar perjanjian itu tetap akan mengejarmu dimanapun, menagih janji hingga semua urusan selesai. Kalian tidak akan tenang dan Airlangga akan mengejar kalian."
Sari mendekati Lingga hingga jarak mereka hanya menyisakan sejengkal saja.
"Saya tidak peduli! Kalo saya bilang mundur itu berarti saya akan mundur tanpa perlu embel-embel lain, jadi … jangan mengancam saya dengan cara murahan begini!"ujar Sari dengan tak lepas menatap mata Lingga.
Pak Lingga hanya terdiam tak membalas, menanti Sari menyelesaikan perkataannya.
"Uang saya kembalikan besok!"
Sari membalik badannya dan hendak pergi meninggalkan pak Lingga, sebelum akhirnya dia bersuara.
"Kematian akan datang menjemput kalian satu persatu, Airlangga tidak akan berhenti mengejar kalian! Apalagi kamu Sar, dia terobsesi padamu sejak ramalan itu mencuat!"
Sari berhenti melangkah, dan hanya melirik sedikit dari sudut matanya. "Kalo begitu, suruh dia datang padaku secepatnya!" ujarnya cuek dan berlalu pergi.
"Sar, pertimbangkan lagi!" Pak Lingga berteriak.
Sari tidak mengindahkan pak Lingga, ia mendekati jasad Ahmad dan berjongkok disebelah Doni yang masih tampak bersedih dalam diamnya.
"Kita pulang Don … semua sudah selesai, liputan kita berakhir."
"Apa Lo yakin semua ini selesai sampai disini?"
Sari menoleh ke arah Doni, "Its over Don!" Ucapnya sekali lagi.
"No, its not! Lingga bener Sar, misi kita mengakhiri kutukan selama Airlangga dan Lingga masih ada kita nggak akan tenang." Doni mengatakannya datar tanpa ekspresi.
"Gue lihat masa depan Sar, and this is not over yet!
(Ini belum berakhir!)
Sari diam, firasatnya mengatakan hal yang sama tapi Sari hanya merasakan lelah. Ia hanya ingin memberikan penghormatan terakhir pada sahabatnya.
Ia lelah bertarung dengan jenis makhluk selain manusia. Ia lelah untuk menangisi kenangan yang menyedihkan, ia lelah kembali kehilangan orang yang ia cintai.
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
...hai...happy weekend semuanya...
...terimakasih sudah bersabar nungguin up yaa, real life cukup sibuk jadi slowup.....
...untuk teman-teman baru sambil menunggu Sari up bisa mampir baca ke karya author keren sepanjang masa...uhuuuk, batuk dah saya🤭🤭...
..." Santet 40 Hari "...
...karya Kak Al Orchida...
...genre horor yang dikemas apik dan tulisan yang keren, saya jamin nda nyesel baca dan nambah lagi nyambung ke novelnya yang dah buaaanyaaak bener🤭...
...terimakasih atas dukungannya yaaa....nice weekend, jaga kesehatan dan MET malam mingguan.......
...pak RT...bayaran saya jgn lupa ditransfer yaaa...🤪🤣...