Petualang Jagad Lelembut

Petualang Jagad Lelembut
Bab 74


Bagas dan Doni dilanda kepanikan, tapi sayangnya mereka sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa.


"Gas, piye Ki Gas Doni mati po piye kui?! Weladalah Gas, mosok lakon mati to!"


Ahmad histeris dan mulai menangis lagi meratapi sahabatnya yang telah terkulai lemas.


Bagas benar-benar bingung, ia tidak bisa berbuat apa pun. Ia bimbang. Jika Bagas nekat keluar dari pelindung mungkin saja dia bisa membantu tapi peluangnya selamat kecil sekali.


Andai gue punya kekuatan seperti Sari dan juga Doni. Rasanya kayak orang nggak guna bener ini!


Bagas menoleh ke arah Ahmad yang masih shock melihat keadaan Doni. Ia pun memutuskan untuk keluar dari pelindung.


Bodo amat dah, gue kudu nolongin Doni!


Bagas melangkahkan kakinya dengan yakin keluar dari pelindung buatan Doni. Namun, baru lima langkah seseorang menarik tangannya.


"Jangan bodoh! Tetap disini, atau kamu akan mati konyol disana!"


"Pak Lingga, tapi …,"


"Diam, dan lihat saja! Aku harus jaga keselamatan kalian berdua, itu janjiku sama Sari. Jadi menurutlah kalo kamu masih mau bertemu dengannya!" ujar pak Lingga tegas tanpa melihat Bagas.


Bagas hanya menatap pak Lingga dengan ekspresi rumit, ia tidak memahami maksud perkataan pak Lingga barusan.


Bertemu dengan Sari maksudnya? Ini ancaman atau peringatan?!


Tak lama Bagas melihat dengan jelas di matanya, sebuah cahaya kuning keemasan muncul di depan Doni menghalau makhluk besar yang melumpuhkan Doni. Suara geraman maung terdengar di suara Bagas.


Apa lagi itu?!


Dan tak lama kemudian, angin berhembus sedikit kencang seiring dengan datangnya tiga sosok baru yang membuat mata Bagas terbelalak.


"Itu …,"


"Sari, akhirnya dia datang." lanjut pak Lingga dengan senyum.


...----------------...


Auman Mahesa seolah memanggil Sari dari dimensi lelembut. Ia berpacu melawan waktu, menembus batas kecepatan cahaya dalam sekejap. Sari pun tiba tepat waktu.


"Terimakasih Mahesa sudah menolong Doni untukku."


"Aku hanya menjalankan perintah mu Sar." jawab Mahesa dengan sedikit menundukkan kepalanya.


Sari melirik ke arah Doni yang lemas tak berdaya dengan luka disekujur tubuhnya. Dengan sigap Sari mendekati Doni, ia begitu mengkhawatirkan kondisi Doni yang tampak buruk.


"Dia baik-baik saja Sar, setelah istirahat Doni akan kembali pulih." kata Bimasena yang memeriksa kondisi Doni tanpa menunggu perintah.


"Yakin?"


Bimasena mengangguk, "Aku justru mengkhawatirkan dia?!" Bimasena menunjuk ke arah Pak Agus yang mulai lemas dan mendapatkan pukulan bertubi-tubi.


"Kandra bantu dia dan bawa dia bersama yang lain!" perintah Sari.


Tanpa banyak bicara Kandra langsung membantu pak Agus mengalahkan dua lawan sekaligus dengan mudah dan menarik pak Agus ke dalam kubah pelindung yang kini dijaga pula oleh pak Lingga. 


Begitupun dengan tubuh Doni yang terluka. Bimasena telah memindahkannya ke tempat aman bersama yang lain.


Sari memberi isyarat pada pak Lingga seolah berkata, "Jaga mereka untukku!"


Pak Lingga pun mengangguk samar seolah memahami Sari.


Makhluk jejadian utusan Airlangga kembali datang dari kegelapan. Jumlah mereka mencapai puluhan. Sari dan keempat penjaganya bersiap. 


"Baiklah, ayo kita bermain! Apa kalian berempat sanggup?!"


"Ini bukan apa-apa bagi kami Sar, tentu saja kami sanggup!" sahut Mahesa menyeringai pada kawanan makhluk itu.


"Bagus, berapa lama waktu kita Bimasena?" tanya Sari menatap jenaka pada pemimpin penjaganya.


"Lima menit?" sahut Bimasena dengan mengerlingkan satu matanya.


"What the hell … oke good, no injury time?!" Sari mengembangkan senyum pada Bimasena.


Sekumpulan makhluk itu berhadapan dengan Sari dan para penjaganya, menunggu aba-aba untuk bergerak cepat menyerang. Seseorang keluar dari kegelapan dengan angkuhnya. Airlangga.


"Lihat siapa yang datang, harusnya kamu bergabung denganku Sari! Dan kita akan membentuk kerajaan kegelapan menguasai dunia lelembut dan dunia manusia!"


Sari hanya tersenyum sinis, "Dalam mimpimu Airlangga!"


"Baiklah jika itu maumu, aku … akan mengambil orang yang kau cintai!"


Airlangga mengancam berusaha menjatuhkan mental Sari tapi sayangnya Sari tak bergeming.


"Bunuh mereka yang disana dan bawa gadis itu padaku!" perintah Airlangga sontak membuat puluhan anak buahnya segera menerjang menyerang Sari dan keempat penjaganya dengan cepat.


"Baiklah kawan, waktunya memberi pelajaran! Lima menit Bimasena tidak lebih!" 


Airlangga, jangan menghindari ku!