Petualang Jagad Lelembut

Petualang Jagad Lelembut
Bab 30


Sari melihat peristiwa memilukan yang terjadi di masa lampau. Seorang pria tampan dengan pakaian bangsawan ala kerajaan tempo dulu dan mahkota di kepalanya berjalan tergesa-gesa menuju sisi lain istana.


Wajahnya menunjukkan ekspresi yang rumit, antara sedih dan marah. Dialah sang Prabu legendaris Hayam Wuruk.


Perang besar yang terjadi di lapangan Bubat di desa Trowulan itu telah mengakhiri segala angannya. Ia kecewa dengan sikap Mahapatih Gajah Mada yang diam-diam mengadu domba dirinya dengan Raja Linggabuana. Gajahmada telah membuatnya patah hati.


Hayam Wuruk masuk ke dalam pesanggrahan tempat putri Dyah Pitaloka berada, ia ingin mengajaknya bicara dan mengakhiri kesalahpahaman yang terjadi. Namun, apa yang dilihatnya justru pemandangan mengerikan. Sang putri telah tewas bersimbah darah. Begitu juga dengan para abdi dalem yang menemaninya.


Sang Prabu shock melihat kekasih hatinya telah tewas dengan keris menancap di perutnya. Sang putri menutup matanya meninggalkan keduniawian, demi kehormatan ayahandanya, Maharaja Linggabuana. 


Wajah cantiknya ditutup dengan kain sutra hijau keemasan. Matanya sedikit membuka, bibirnya tetap indah di mata sang Prabu seolah ingin mengatakan 


"Wahai kekasihku, ini aku datang padamu ke tanah Jawa … pernikahan ini adalah dambaan kedua orang tuaku, andai kemarin kau datang padaku tentulah kita bersanding saat ini."


...****************...


...Sangsaya lara kagagat, pětěng rasanikang ati, kapati sira sang katong, kang tangis mangkin gumirih, lwir guruh ing katrini, matag paněděng ing santun, awor swaraning kumbang, tangising wong lanang istri, arěrěb-rěrěb pawraning gělung lukar....


...Kidung Sundayana ( bait 3.29 - 3.33 )...


...****************...


"Airlangga, cukup! Ini sangat menyedihkan!" ujar Sari pelan.


"Aku gagal menyelamatkan sang putri." Airlangga menunduk lesu.


"Apa maksudmu?"


"Aku ditugaskan bersama Lingga untuk menjaga sang putri secara diam-diam tapi, tragedi itu benar-benar diluar kendali kami. Aku gagal menjalankan perintah sang Prabu dan terikat dalam kutukannya seumur hidupku." Airlangga menjelaskan siapa dirinya dan juga pak Lingga pada Sari.


"Jadi benar, kalian memang abadi." Sari berhadapan dengan Airlangga.


"Menjalani kesengsaraan dan tidak pernah bersatu dengan orang yang dicintainya?" tanya Sari yang dijawab anggukan Airlangga.


"Aku dan Lingga tersiksa dalam keabadian. Inilah penebusan dosa kami pada sang prabu. Beratus tahun kami hidup tanpa menua sedikitpun, dan kami harus menatap kepergian orang yang kami kasihi."


"Pasti menyakitkan."


"Sangat, itu sangat menyakitkan! Jika Lingga ingin menghentikan keabadiannya, aku lebih memilih bersembunyi dalam gelap. Menikmati hidup dan kekayaanku sekarang." 


Sari tidak terkejut dengan keputusan pak Lingga, ia bisa memahami sakitnya kehilangan orang yang dicintai. Ratusan tahun menahan rasa ingin mencintai tentu sangat menyiksa batinnya.


Nggak heran kalo Lingga bermuka dingin, gimana nggak menahan rasa untuk mencintai selama beratus tahun itu bukan perkara mudah … hebat juga dia untuk ukuran lelaki! Sari berkata dalam hati mengagumi sosok Lingga.


"Katamu kalian memiliki musuh siapa dia?" Sari penasaran dengan sosok yang dimaksud Airlangga.


"Mereka adalah orang-orang yang mengincar kekuatan keabadian kami. Mereka yang ngelmu dengan mengorbankan sisi manusia mereka dan menganggap hidup abadi adalah segalanya."


"Kalo kamu kenal dia, lalu siapa namanya? Apa dia bagian dari masa lalu juga, seperti kalian?"


Airlangga hanya tersenyum, "Jika sudah waktunya nanti kamu akan tahu siapa dirinya. Untuk saat ini, bantu Lingga menemukan pusaka itu dan akhiri keabadiannya."


Sari hanya terdiam karena bingung, ia masih menatap Airlangga dengan sedikit kesal.


"Tau nggak, dari kemarin saya tuh bosan semuanya bilang narik pusaka … narik pusaka, emang kalian nggak bisa narik sendiri sampe perlu saya buat ambil itu pusaka?!"


Airlangga ganti terdiam, ia memahami Sari bingung dengan maksudnya tentang pusaka. "Karena yang bisa menariknya hanya wanita dengan empat penjaga, wanita yang diramalkan ratusan tahun lalu untuk memecahkan kutukan sang prabu."


Sari tidak tahu harus berkata apalagi, kepalanya terasa pusing. Dalam semalam ia berpindah dimensi beberapa kali itu membuatnya sakit. Pikiran dan tubuhnya sudah mulai tidak sejalan.


Otaknya terus memaksa Sari memecahkan misteri tapi tubuhnya tidak bisa menolak kelelahan yang ia alami.