Petualang Jagad Lelembut

Petualang Jagad Lelembut
Bab 33


Sari melupakan Bagas dan juga timnya, bahkan keberadaan Rara. Matahari berada di titik tertinggi, hari ini kota Banyuwangi begitu panas. Bagas dan yang lainnya masih melakukan proses pengambilan gambar.


 Doni menoleh ke arah Sari, ada sejuta tanya dibenaknya ketika melihat Sari yang datang bersama dengan pak Lingga. Rasa penasarannya membuat ia meninggalkan posisinya dan digantikan oleh Ahmad.


"Lo dari mana Sar, gini hari baru dateng?!"


Doni bertanya dengan menatap Sari dan pak Lingga secara bergantian.


Sari menatap pak Lingga sejenak, lalu menjawab. "Abis dari pasar didepan."


"Pasar? Trus Rara mana, kok malah Dateng sama pak Lingga?" selidik Doni.


"Rara, dia lagi ke …"


"Pergi cari makanan lain tadi." Pak Lingga menyambung jawaban Sari.


Doni mengernyit, ia bingung kenapa pak Lingga bisa bersama Sari padahal tadi ia pergi bersama Rara.


Aneh bener ni orang dua … mereka nyembuyiin sesuatu nih dari gue!


"Rara belum balik Don?"


"Belum, makanya gue nanya ke Lo. Mana tu anak kan kagak tau jalan disini, kalo nyasar gimana coba?!"


"Don, kamu lupa siapa Rara sekarang?" Doni seketika terdiam saat mendengar pertanyaan Sari.


"Apa jangan-jangan tadi si Rara …" Doni menduga duga keadaan Rara.


Sari menatap Doni, "Dia pergi tadi nggak tau kemana, kita tadi ketemu Airlangga di pasar dan Rara ketakutan."


"Airlangga? Siapa lagi dia?" Doni bertanya.


Sari menoleh ke arah Pak Lingga sejenak lalu menjawab, "Anggap aja dia musuh kita? Hampir aja aku jatuh ke dalam pengaruhnya kalo pak Lingga nggak bantuin aku tadi."


"Wait … gue bingung, Airlangga musuh pak Lingga? Dia hasut Lo? Buat apa?" Doni belum memahami perkataan Sari.


"Airlangga dan saya berseberangan kepentingan, tapi tujuan kami sama. Mencari pusaka unik peninggalan kerajaan Majapahit. Dia membutuhkan Sari, dan berusaha menggiring Sari agar berada di pihaknya." Pak Lingga berusaha menjelaskan singkat pada Doni.


Penjelasan pak Lingga berbuah pertanyaan dari Sari yang masih penasaran dengan Airlangga.


"Kenapa Airlangga justru membawa saya melihat kejadian di masa lalu? Dia juga minta saya buat bantuin bapak lho cari pusaka?"


"Pusaka itu bisa mengakhiri kutukan dan bisa memindahkan kekuatan pada pemegangnya. Itu bukan pusaka sembarangan Sar, seorang empu dengan ilmu kanuragan tinggi membuat dan mengisi pusaka itu dengan ruh sejati miliknya."


"Kemungkinan dia ingin membuatmu percaya padanya dan menyerahkan pusaka itu padanya." pak Lingga menambahkan.


Sari menatap pak Lingga dengan ekspresi bingung. "Boleh tahu seperti apa bentuknya?"


"Pusaka itu bernama …,"


"Woooi … Lo pada ngapain sih disitu, kerja! Bantuin gue! Sar, buruan siapin si ibu udah siang ni panas!" seru Ahmad dari kejauhan memotong perkataan pak Lingga.


"Lebih baik kita bicara nanti malam di homestay, ada yang harus saya tunjukkan ke kalian berdua." Pak Lingga menyudahi pembicaraan dan duduk di kursi yang telah disiapkan Saka asistennya.


"Cck, kacau begini caranya!" Doni mengacak rambut keritingnya dengan kasar sembari berjalan meninggalkan Sari.


Keadaan semakin rumit begini, tapi setidaknya aku mulai paham apa yang terjadi …, batin Sari.


...----------------...


Wawancara awal dengan budayawan Osing akhirnya selesai, hidangan makan siang telah disiapkan. Diiringi alunan musik lesung khas suku Osing yang dimainkan apik oleh para ibu-ibu warga desa, Sari dan tim menikmati makan siang mereka.


"Mari silakan dinikmati, ini ada pecel pitik salah satu makanan khas kami." Kang Pur menawarkan pada Sari dan yang lainnya.


"Pecel pitik ini biasanya sebagai pelengkap tumpeng Sewu yang dibuat untuk acara tradisi makan besar sebagai tolak bala atau selamatan desa." Kang Pur melanjutkan penjelasannya.


"Pecel pitik ini sendiri maknanya supaya kang diusel usel kepitik diarang anapik, filosofi dari pecel pitik ini sendiri adalah sesuatu yang ditangani apa pun diharapkan akan menemukan hasil yang terbaik."


Bagas dan yang lainnya mendengarkan penjelasan Kang Pur dengan serius. Semantara duo Ahmad dan Doni tidak pernah ketinggalan untuk bertengkar saat acara makan bersama.


"Podo ae tak kiro yo gudangan, tapi kok enek ayame mbarang yo Mad." sahut Doni dengan tangannya yang terampil memindahkan lauk ke atas piringnya.


"Weh, enak ndes … ayame legi!" (ayamnya manis)


"Huuush, sopan … gek mangan Iki lho! Ndas … ndes, pencitraan Mad!" 


"Sssst, bisa diem nggak kalian! Lagi makan berantem mulu!" Sari kembali mengingatkan mereka yang selalu saja berdebat saat makan.


"Heran gue ma Lo berdua, tiap makan berantem mulu! Bikin makanan nggak berkah tau nggak, sepet bener liatnya!" Bagas menimpali perkataan Sari.


"Yaelah Gas, yang penting hidup gue manis kagak sepet kek salak!" sahut Doni.


"Eh, salak juga ada yang manis kok!" Sari menambahkan.


"Iya ada, semanis gue kan Sar, biarpun item tampang gue manis kek artis Korea." Doni cengengesan.


"Diiih males!"


"Udaah, nggak malu apa sama sponsor juga Kang Pur? Makan, jangan banyakan omong!" Bagas kembali mengingatkan.


Kang Pur dan istrinya hanya tertawa melihat kelakuan muda mudi di depannya itu. Acara makan siang pun berlanjut tanpa kehadiran Rara. 


Sari merasa khawatir dengan kondisi Rara tapi mengingat kejadian sebelumnya, Sari yakin Rara sedang bersama Airlangga saat ini.


"Napa Sar, mikir Rara?" tanya Bagas yang menyadari kekasihnya itu berulang kali mencari sosok Rara.


"Iya, kemana dia ya?"


"Tunggu aja nanti juga dateng, makan dulu mukamu pucet bener. Sakit?"


"Nggak, pusing dikit aja." jawab Sari pelan.


Sari kembali melanjutkan makannya. Beberapa saat kemudian, mereka dikejutkan oleh teriakan dari beberapa warga desa. Dengan tergesa-gesa mereka menghampiri Kang Pur dan melaporkan sesuatu yang mengejutkan.


"Kang, gawat … ada masalah Kang!"


Kang Pur berdiri dan mendekati salah satu pria yang tampak kebingungan. "Ada apa, pelan-pelan aja ngomongnya!"


"Anu Kang … itu, disana … banyak ternak milik warga mati secara mendadak!" Lapor salah satu warga desa dengan panik.


"Mendadak gimana, yang jelas dong kalo bicara!" Kang Pur mulai terusik.


Salah satu warga itu mendekatkan tubuhnya lalu berbisik pada Kang Pur, ekspresi Kang Pur berubah seketika. "Ayo kita periksa!"


Kang Pur pergi begitu saja meninggalkan Bagas dan timnya yang juga dibuat penasaran dengan apa yang terjadi. 


"Ada apaan tuh? Kek nya gawat deh!" Doni yang penasaran ikut berdiri dan segera membasuh tangannya.


"Iya, ikutan kesana yuuk?!" ajak Sari, diikuti anggukan dari Bagas dan Doni.


Bagas, Doni dan Sari bergegas menyusul Kang Pur.


"Eh, tungguin gue dong! Tega bener gue ditinggalin! Nggak kasian apa Lo pada ma gue?!" seru Ahmad yang bergegas menyusul ketiga rekannya.


"Kagak!" sahut mereka bertiga bersamaan.


...****************...


...selamat bermalam Minggu teman-teman...nggak terasa yaa puasanya dah mau seminggu aja nih, gimana lancar semua kan?...


...semoga semua diberi kesehatan dan kelancaran sampai akhir yaaa......


...mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan bahasa daerah 🙏...


...Have a nice weekend 🥰🥰...