
Seperti yang dijanjikan pak Lingga, semuanya berjalan dengan tanpa kendala. Saka bertindak cepat dengan menghubungi orang-orang kepercayaannya.
Setelah berpamitan dengan pak Agus dan juga mengurusi beberapa hal yang berhubungan dengan liputan, mereka pergi meninggalkan Trowulan.
Jenasah Ahmad segera dibawa menuju ke Surabaya menggunakan helikopter sewaan, dan dengan segera diterbangkan ke Semarang. Semuanya dilakukan dengan mudah oleh Lingga. Tim Journey to the East yang tersisa selalu ada di sisi Ahmad.
Saka juga memerintahkan pada beberapa anak buahnya untuk membereskan semua peralatan dan barang-barang milik tim Journey to the East yang masih tertinggal di homestay. Semua dilakukan dengan cepat dan singkat.
Saka dan Lingga memang hebat, pengaruhnya luar biasa, hingga semua urusan yang berhubungan dengan pengiriman jenazah tidak memiliki kendala berarti. Uang memang berbicara banyak hingga semuanya bisa berjalan lancar sampai tujuan.
Sore hari menjelang magrib, mereka tiba di rumah duka di kawasan Gunungpati. Orang tua Ahmad histeris melihat kedatangan putra kesayangan mereka yang sudah terbujur kaku.
Sari kembali meneteskan air mata, ini sungguh berat baginya. Apalagi melihat ibu Ahmad yang shock dan tak banyak bicara. Hanya menatap nanar dan mengusap lembut wajah putranya dengan linangan air mata.
Pak Arya juga sudah datang di rumah duka bersama petinggi lainnya. Beberapa karangan bunga sudah berjajar rapi di depan rumah. Sari menatap satu persatu karangan bunga itu dengan tatapan kosong.
Ia masih merutuki kelengahannya menjaga Ahmad. Tapi apa yang sudah terjadi tidak mungkin diulang kembali. Sari hanya bisa mengambil pelajaran dari kesalahannya.
Pak Arya melakukan serah terima jenazah didampingi pak Lingga disertai pemberian santunan dari perusahaan. Sari memilih berada jauh dari kerumunan. Bagas menemani dan menggenggam erat tangannya sepanjang acara.
Ahmad langsung dimakamkan malam itu juga. Sari dan sisa tim Journey to the East memutuskan beristirahat di hotel terdekat. Doni dan Bagas sedang mengikuti tahlilan dan Sari memilih diam dalam kamar, bermeditasi.
Tubuhnya begitu lelah setelah pertarungan tanpa jeda dengan para lelembut. Ia mengatur nafas memusatkan konsentrasi dan perlahan memasuki alam lain.
...----------------...
Suara gemericik air terdengar begitu menenangkan. Sari merasakan kedamaian yang tidak biasa.
"Sar, selamat datang kembali."
Suara Bayu menyapanya dengan lembut. Sari perlahan membuka matanya, ia mendapati Bayu sudah berdiri didepannya tersenyum dengan mengenakan salontreng dan celana pangsi dilengkapi dengan ikat kepala dan juga sarung yang diselempangkan. (pakaian khas rakyat Sunda)
Sari celingukan melihat sekitar, ia kembali ke rumah Bayu dan seperti biasa semburat senja selalu menghiasi langit.
"Capek?"
"Hhm, sangat. Sepertinya aku butuh berendam lagi di kolam obat itu, badanku udah kek diinjak gajah sakit semua." ujar Sari.
"Sepertinya memang begitu Sar, energimu terlalu besar sementara tubuh kamu belum siap sepenuhnya untuk menerima."
"Ini terlalu cepat rasanya. Baru kemarin aku mutusin untuk bantu Lingga sekarang semuanya berubah, tubuhku aneh. Kamu tahu, aku bahkan bisa menyembuhkan lukaku sendiri." Sari kemudian bercerita tentang semua yang ia alami pada Bayu.
Dengan sabar Bayu mendengarkan ocehan Sari dari A sampai Z dari ujian pertama menghabisi para pemburu, mendapatkan kekuatan baru dari kujang Siliwangi, mendapatkan pedang Sengkayana hingga kematian Ahmad.
"Aku lelah. Bisa nggak sih kembali ke masa lalu dan mengulang semuanya?!" Sari menghela nafas dengan kasar.
Bayu tersenyum, "Apa ada bedanya kalo kita kembali ke masa lalu?"
"Ya setidaknya aku nggak bikin perjanjian konyol itu sama Lingga! Nyebelin bener tu aki-aki satu, nggak pake jelasin apa konsekuensi dari perjanjian itu!"
"Mengubah masa lalu tetap tidak akan mengubah takdir. Kalo kamu berniat nyelamatin Ahmad bisa jadi berhasil tapi apa kamu bisa jamin keselamatan yang lain?"
Sari mengernyit, ia menatap Bayu yang kembali melanjutkan perkataannya.
"Jika takdirmu harus kehilangan temanmu, meskipun kamu mengubah masa lalu kamu tetap akan kehilangan. Ahmad mungkin selamat tapi mungkin posisinya akan digantikan Doni atau Bagas."
"Eh kok gitu?"
"Sehebat apa pun kamu Sar, sekuat apa pun kekuatan kamu jika sudah berurusan dengan takdir tidak ada satupun makhluk yang bisa menyentuh dan mengubahnya."