
Sari dan yang lainnya menikmati makan siang mereka di sebuah resto tak jauh dari gedung kantor. Meski jam makan siang sudah terlewati, suasana restoran tetap saja ramai.
"Nggak seru ni nggak ada Rara." Ahmad mengeluh sambil memainkan ponselnya.
"Gimana lagi, dia kan begitu orangnya kalo dah fokus ya udah. Susah." sahut Sari.
"Iya juga sih, tu anak saking cintanya kerja sampe lupa sama tugasnya cari jodoh!"
"Ada tugas cari jodoh segala! Jodoh nggak usah dicari nanti kalo udah waktunya juga nyamperin Lo ndiri kali!" Doni menimpali.
"Ini nih namanya salah paha, jodoh mah kudu dicari namanya ikhtiar Don!"
"Onta … paha siapa Lo bawa-bawa, kalo ngomong yang genep dong. Pa-ham!"
Sari dan Bagas tertawa sementara Ahmad semakin menekuk wajahnya. "Itu tadi cuma contoh pemakaian kata yang ambigu."
"Halah, otak lo aja yang cuma se-ons!"
"Eh, kenapa ya gue kok was-was ninggalin Rara sendirian?! Sejak si Lingga itu datang ke kantor, hawanya tuh nggak enak bener! Kalian ngerasa gitu nggak sih?" Ahmad merasakan sesuatu yang memang tengah terjadi.
Sari dan Doni saling berpandangan. Jangankan mereka yang mengerti, Ahmad yang notabene tidak paham hal mistis pun bisa merasakannya.
"Nggak usah kebawa suasana Mad, cuma perasaan kita aja kali. Mungkin karena tim pak Lingga jaga jarak sama kita, jadi kita mikirnya yang macem-macem." Bagas mencoba meredakan kekhawatiran Ahmad.
"Dah nggak usah mikir macem-macem, makan dulu kita! Udah dateng tuh pesanan!" Sari mengalihkan perhatian mereka pada makanan yang diantar pelayan.
Mereka menyelesaikan makan siang dengan cepat. Seharian berkutat dengan pekerjaan membuat mereka kehabisan energi dan tentu saja kelaparan.
"Kamu udah pesenin punya Rara?" tanya Bagas ke Sari.
"Udah, ni tinggal ambil aja. Yuk balik kasian Rara kelamaan nunggu."
Ahmad dan Doni berjalan mendahului Bagas dan juga Sari, sebelum pergi meninggalkan restoran Doni berbisik pada Sari. "Gue jalan dulu, ada yang nggak beres ma Rara."
Sari diam tanpa ekspresi, ia membayangkan rumitnya liputan kali ini.
Belum berangkat dah banyak bener halangannya, gimana besok disana?!
"Sar, kamu mikirin apa?" Bagas penasaran karena sedari tadi Sari banyak terdiam.
"Eh, nggak ada kok."
Bagas yang sudah paham dengan sifat Sari tidak mau percaya begitu saja. "Nggak mau cerita nih?"
Sari tersenyum, dan memilih mengapit lengan Bagas. "Yuuk, kasian Rara."
"Bener nggak mau cerita?" Sekali lagi Bagas mencoba bertanya.
"Ehm …. nee!" (Tidak)
"Ok, aku nggak maksa. Tapi tolong don't hiding something from me!"
"Ehm, belofte!" (Janji!) jawab Sari dengan senyuman.
Maaf Gas, tapi sebelum aku tahu pasti apa yang kita hadapi … aku terpaksa bohongi kamu dulu …, sesal Sari dalam hati.
Tiba di ruangan mereka, Doni tampak tegang sementara Ahmad panik mencari Rara. "Don, tu anak kemana sih? Nggak biasanya dia ninggalin kerjaan berantakan begini!"
Doni masih bergeming tak menjawab. Ia memperhatikan kertas laporan yang berserakan di lantai.
Ini bukan kebiasaan Rara, feeling gue bener. Sesuatu menimpa Rara, tapi apa? Batin Doni sambil memunguti kertas di lantai.
Kertas berserakan, komputer masih menyala, kursi Rara yang jauh dari kubikelnya cukup menjadi jawaban bagi Sari. "Lets slecht is gebeurd!"
( Sesuatu yang buruk terjadi!)
"Dimana Rara?" tanya Sari lagi dan dijawab gelengan kepala dari Doni dan Ahmad.
Bagas langsung bertindak cepat, ia memeriksa kamar mandi dan juga ruang arsip. Nihil, Rara tidak ada disana.
"Gue nanya pak Arya dulu, masa iya nggak tahu kan bisa lihat Rara dari ruangannya." ujar Bagas bergegas berjalan menuju ruangan pak Arya.
Setelah mengetuk pintu Bagas langsung membukanya, tidak ada siapapun di ruangan pak Arya. Bagas beralih ke ruangan pak Lingga dan timnya. Disana juga kosong. Bagas mulai khawatir.
"Ni orang pada kemana sih? Kosong semua lagi!"
"Kosong?" Sari keheranan.
Doni yang memunguti kertas di lantai terkejut melihat dua tetes darah yang terlihat diatas lantai dekat meja Rara. Doni memastikan bahwa itu darah saat kedua jarinya menyentuh cairan lengket berwarna merah itu.
"Darah …" Sari bergumam saat melihat tangan Doni.
Doni menatap Sari, "Apa kamu berpikir apa yang aku pikirkan Sar?" Sari mengangguk.
"Ada CCTV kan di ruangan pak Arya?" Sari bertanya dan bergegas menuju ruangan yang dimaksud.
Tapi belum sempat Sari masuk ke ruangan pak Arya, Rara muncul bersama ketiga orang yang tidak asing bagi mereka. Ia memasuki ruangan divisi dengan ceria dan tampak mengobrol dengan Atika.
"Rara …" panggil Sari.
"Eh, kalian udah datang ya?!" sahutnya gembira.
"Dari mana kamu tadi?" tanya Sari lagi
"Aku? Diajak makan sama mereka bertiga?!"
"Tadi kita ajak makan bareng nolak!" Ahmad terlihat kesal pada Rara.
"Tadi kan emang belum selesai, pas banget mereka datang ngajakin ya udah ngikut deh." jawab Rara sambil menarik kursinya kembali ke mejanya.
"Terus kenapa ini kertas berantakan ma komputer Lo masih nyala? Aneh, Lo nggak biasanya gini?" Doni menginterogasi Rara.
"Tadi Atika ngajak buru-buru, katanya mumpung ada diskon harga buat lunch di cafe sebelah tuh yang lagi viral. Jadi deh aku kesandung dan berantakan semua." Rara mencoba menjelaskan pada semuanya.
"Iya, maaf tadi saya buru-buru narik tangan Rara jadi berantakan kemana mana deh. Apa itu jadi masalah?" Atika bertanya pada Sari yang tengah menatapnya tajam.
"Nggak, tentu saja nggak jadi masalah. Tapi karena ini diluar kebiasaan Rara makanya kami khawatir." jawab Sari datar.
"Sekali lagi saya minta maaf. Baiklah kami pergi dulu, kita duluan ya Ra kapan-kapan aku ajak kamu lagi hunting makanan enak?!" Atikah mengerlingkan matanya pada Rara.
"I would love that Atika, see you." Rara membalasnya dengan senyuman.
Sari melirik Doni, ada yang aneh dari mereka. Tapi keduanya memilih untuk diam dan memperhatikan saja.
Atikah yang diikuti kedua teman prianya tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Sari. "Oh ya saya lupa, kapan kita bisa lunch bareng Sari?!"
"Anytime?" jawab Sari asal.
Atika tersenyum penuh misteri, "I will wait for that day to come."
(Saya akan menunggu hari itu tiba.)