Petualang Jagad Lelembut

Petualang Jagad Lelembut
Bab 23


Sari membiarkan wanita itu berbicara. Rasanya malas menanggapi makhluk aneh yang tidak tahu sopan santun. Melihat Sari tidak memberikan respon apa pun sosok itu pun mundur dan menjejakkan kakinya ke tanah.


"Eh, kamu bisa turun juga ke tanah? Kirain nggak punya kaki?"


Wanita berbaju putih itu menyeringai dengan mulutnya yang terlihat semakin melebar. "Bagus, kamu sama sekali nggak punya rasa takut. Aku suka!"


"Ya lagian ngapain coba takut sama mbaknya, emang situ bisa bikin saya mati?"


Wanita itu menggeram menahan amarah, perkataan Sari melukai harga dirinya sebagai bangsa lelembut. "Kurang ajar!"


Dalam kejapan mata, wanita itu tiba-tiba saja sudah berada tepat di wajahnya menyeringai dengan wajah yang mengerikan. Berubah keriput dengan rambutnya yang memutih.


Matanya melebar seolah hampir terlepas dari wajahnya, begitu juga dengan mulutnya yang melebar dan menampakkan taring tajam berbau busuk.  membuat Sari terkejut dan mundur.


"Kau takut sekarang?"


"Oh, jadi ini wujud aslimu? Takut, nggak juga cuma kaget aja."


Wanita itu tertawa mendengar ucapan Sari, dan sebelum Sari menyadarinya tangan wanita itu telah berada di leher Sari dan mencekik dengan kuat. Sari kehabisan nafas ia berusaha melepaskan tangan wanita yang berkuku panjang dan hitam dari lehernya.


"Apa mau kamu? Kita nggak ada urusan kan?"


"Mauku? Aku mau dirimu, wajahmu, dan juga … darahmu yang manis!"


Sari menyeringai pada sosok lelembut tanpa adat itu, "Kamu pikir darah aku itu gula? Biasa diabetes kamu kalo minum darah saya?! Kamu memilih lawan yang salah!"


Tangan Sari seketika mengeluarkankan energi yang berasal dari cincin pemberian Mang Aa. Energi panas itu perlahan bakar tangan wanita menyeramkan itu. Bau hangus mulai tercium bersamaan dengan asap yang keluar dari tangan Sari.


Sosok lelembut itu membelalakkan matanya membuat Sari mual melihatnya. Untuk beberapa saat wanita itu tampak menahannya tapi ketika Sari menambahkan energinya, ia tak bisa berkutik. 


Wanita berambut putih itu berteriak kesakitan dan melepaskan tangannya. Ia mundur dan memegang tangan kirinya yang perlahan menghitam dan berubah menjadi abu. Ia kehilangan separuh dari tangan kirinya.


"Kurang ajar?! Akan ku beri kau pelajaran Sari!"


Wanita itu hendak mendekat ketika Sari mendengar suara geraman aneh seperti harimau dari arah belakang. Aura kekuatan yang melebihi dirinya, begitu pekat terasa. Ia ikut merasakan tekanan seperti dalam ruangan hampa.


Wanita itu ketakutan, ia perlahan mundur, dan kemudian menghilang ditelan gelapnya malam. Sari hendak mengejarnya ketika sebuah tangan dingin menyentuh bahunya.


Sari menoleh ke arah suara dan mendapati seseorang yang dikenalnya, "Pak Lingga?"


"Biarkan dia pergi, dia tidak penting! Dan tolong jangan jauh-jauh dari saya selama liputan!"


Pak Lingga menatap Sari dengan tajam, ucapannya begitu serius hingga membuat Sari penasaran."Siapa wanita itu? Bapak kenal dia?"


"Dia … seseorang yang dulu aku kenal. Dia telah berubah menjadi wanita mengerikan, dan itu karena … kesalahanku." Pak Lingga menjawab dengan sedih dan menatap lurus kedepan kearah menghilangnya sosok wanita berbaju putih itu.


"Maaf, bukan maksud saya ikut campur tapi …" 


Belum juga Sari menyelesaikan pertanyaannya suara Bagas terdengar memanggilnya. "Sar?!"


"Eh, kamu ngapain kesini beb?!"


"Aku yang mau nanya ke kamus, ngapain sampai ke tempat gelap begini sendiri? Jauh lagi dari lokasi!" Bagas khawatir dengan kondisi Sari, ia segera mendekap Sari dalam pelukannya.


"Gas, jangan begini malu sama pak Lingga?!" Sari berusaha melepaskan pelukannya.


"Pak Lingga? Dimana?" Bagas celingukan mencari keberadaan Pak Lingga, dan tidak ada satu pun disana selain mereka berdua.


Sari bingung, ia memastikan dalam ingatannya jika pak Lingga benar-benar ada disampingnya tadi. Menolongnya mengusir sosok lelembut yang mengganggunya tadi.


"Lho, kemana dia pergi?!" Tadi beneran lho dia ada disini Gas!"


"Iya tapi mana? Daritadi aku juga cuma liat kamu aja Sar?!"


"Serius?!"


"Dua rius malah! Dah ah ngelantur kamu, masih capek kali kamu sama perjalanan panjang kita. Yuk gabung lagi ma mereka!" Bagas menarik tangan Sari dan memaksanya untuk segera pergi dari tempat itu.


"Hhm, mungkin." Sari mengikuti Bagas, ia kembali menoleh ke arah menghilangnya sosok wanita aneh itu.


Penasaran banget siapa dia? Kenapa Pak Lingga sedih waktu natap perempuan itu?