
Sari bergerak cepat melesat menembus dimensi lelembut yang begitu gelap. Segelap hati manusia yang tercemar oleh keburukan. Para pemburu pusaka lainnya mengejar Sari dan keempat penjaga dengan kecepatan yang sama.
Entah darimana asalnya tapi Sari sempat melihat beberapa dari mereka mengenakan topeng baja berwarna hitam yang mengerikan. Mereka menunggangi kuda yang juga berwarna hitam yang sangat beringas.
Lebih tepatnya hewan gaib yang menyerupai kuda karena gigi mereka begitu tajam dengan surai yang menyala bak lidah api yang menari nari ditiup angin.
Sari bergidik ngeri membayangkan seandainya ia terlempar dari punggung Bimasena dan mendarat tepat di depan hewan gaib bergigi tajam itu.
"Mahesa, Abisatya … halangi mereka!" perintah Sari yang mulai terganggu.
"Baik!" Mahesa dan Abisatya segera berbalik dan menghalangi para pemburu pusaka lainnya.
Ada setidaknya lima pemburu dengan topeng hitamnya. Mereka memang belum menyerang Sari tapi berkali-kali mereka melontarkan energi penghalang yang menghadang Sari dan Bimasena.
"Bisakah kita lebih cepat lagi Bimasena, kita harus mendapatkan pusaka itu sebelum mereka!" bisik lirih Sari di telinga Bimasena yang disambut auman yang menggelegar memecah kesunyian malam. Menciutkan nyali para lelembut yang hendak menyambut mereka.
Sari terus memperhatikan keatas, menelusuri jejak kemerahan yang terus berputar seolah mencari lokasi yang tepat. Hingga akhirnya bola cahaya itu berhenti berputar dan masuk menembus sebuah bangunan yang mirip sekali dengan keputren yang Sari lihat dalam perjalanannya terdahulu.
"Bimasena, disana!" Sari menunjuk ke arah yang dituju dan Bimasena segera berlari lebih cepat ke arah jatuhnya bola cahaya.
Mereka berhenti tepat di depan bangunan kuno itu. Langit kemerahan yang memayungi bangunan keputren itu tampak berputar melingkar membuat suasana angker yang meremangkan bulu.
"Apa kamu tahu dimana kita?" tanya Sari pada Bimasena.
"Tidak, tapi sepertinya disinilah sebuah pusaka tersimpan."
Sari memperhatikan sekitar, tidak ada satupun penjaga disekitar bangunan. Sepi seolah tak berpenghuni.
"Aneh." gumam Sari.
Ia perlahan melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam keputren tapi belum juga ia masuk sebuah suara memekakkan telinga memecah kesunyian.
Sari menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Mahesa dan Abisatya yang terpelanting jatuh dan berhenti tepat di hadapan Sari. Benturan energi maha dahsyat antara para pemburu pusaka dan kekuatan khodam penjaga Sari membuat ledakan energi yang memekakkan telinga.
"Tidak juga Sar, kami … sedikit kewalahan!" sahut Mahesa dengan menahan sakit diperutnya.
"Mundur lah, sepertinya aku sendiri yang harus menghadapinya?!"
"Sar jangan gegabah, kamu masih perlu energi buat narik pusaka itu!" Bimasena mengingatkan.
"Tenang saja, aku cuma bermain sebentar dengan para pengganggu, tidak akan lebih dari 5 menit!"
Para penjaga Sari mundur memberikan ruang pada tuannya untuk bertarung. Dihadapan Sari kelima pemburu pusaka itu telah tiba.
"Siapa kalian? Kenapa menggangguku dan keempat penjagaku?!" tanya Sari tegas. Dirinya dalam keadaan siaga penuh.
Tidak ada yang menjawab dari kelimanya, mereka hanya saling berpandangan satu sama lain. Yang Sari dengar selanjutnya hanya bahasa yang tidak ia pahami.
Sepertinya mereka bukan dari bangsa manusia … aku nggak pernah dengar bahasa itu sebelumnya?!
Setelah mereka saling berbicara satu sama lain, tiba-tiba salah satu dari mereka melemparkan tombak hitam dengan api yang menyala ke arah Sari tanpa peringatan apa pun. Sari berhasil menghindar dengan melompat ke belakang, ia kesal dengan sikap tak sopan kelima pemburu itu.
"Eeh, nggak sopan ditanya bukannya jawab malah main lempar tombak! Kamu pikir saya ikan pake ditombak gitu apa?!" gerutunya kesal.
Mereka tidak menjawab tapi salah satu dari pemburu itu kembali mengarahkan tombaknya pada Sari.
"Kalahkan kami dan kau akan kami beri jalan untuk masuk ke dalam!"
"Sial! Mereka rupanya mau ngetes aku ya?! Baik, kalian yang mencari gara-gara jangan menyesal jika dirimu hancur!" seru Sari seraya mengambil pusaka kebanggaan nya.
Tangannya menarik Kujang Siliwangi dari dimensi lain, dimensi tempat ia menyimpan dengan baik beberapa pusaka warisan leluhurnya. Ditangan kanannya muncul pusaka sang prabu dengan aura angker yang mengancam.
Kuda-kuda pemburu pusaka itu gelisah merasakan kekuatan Kujang Siliwangi milik Sari. Tapi hal itu tidak menggoyahkan para pemburu, mereka bersiap melemparkan tombak lagi pada Sari dan kali ini bukan hanya satu tapi empat pemburu.
"Curang, bisanya main keroyokan! Siapa takut!"