
Sari berusaha mengabaikan kerlipan masa depan itu. Ia bergabung di meja makan untuk sarapan pagi bersama. Mbak Pur sudah menyiapkan menu kesukaan Sari.
Gelisah hatinya tidak bisa disembunyikan. Sesekali Sari menatap Bagas dan Doni satu persatu, dan ia lebih memilih untuk diam. Doni memperhatikan perubahan sikap Sari yang sedikit aneh di matanya.
"Lo kenapa Sar, dari tadi aneh gitu?" tanyanya saat mereka sedang mencuci piring bekas makan bersama.
"Eh, ehm … nggak apa-apa kok. Mungkin cuma perasaan kamu aja." jawab Sari bimbang.
"Hhhm, jangan bilang Lo dapet visi lagi?"
Sari tersenyum, ia mencoba mengelak dan berlalu meninggalkan Doni yang masih menatapnya tak percaya.
"Cckk, sok tahu kamu! Udah ah cepetan ganti baju nanti kesiangan malah nggak ketemu sama pak Arya!"
"Lo nggak bisa sembunyikan itu dari gue, Sar!"
Perkataan Doni, berhasil menghentikan langkah kaki Sari. Ia berbalik dan menatap Doni seolah ingin mengatakan,
Please jangan teruskan!
"Gue juga lihat itu semua Sar … gue liat Bagas!"
Mata Sari sontak membulat, ia membalik tubuhnya dan mendekati Doni dengan panik.
"Apa maksud kamu Don, jangan bikin aku takut!" Sari setengah berbisik, ia tidak ingin Bagas mendengarnya.
"Bagas, target selanjutnya kan?" Doni menatap Sari tajam.
Mata Sari terasa panas saat menatap Doni, ia menggelengkan kepalanya perlahan.
"Nggak, kamu salah? Your vision is fake!"
Doni hanya diam menatap Sari yang kembali membuat pipinya basah.
"Gue harap juga begitu, semua itu bohong."
Doni menyentuh bahu Sari yang terlihat menahan isakannya.
"Gue bakal jagain Bagas, gue janji! Lo tenang aja, selama masih ada gue nggak akan bisa mereka nyentuh Bagas. Seujung kukunya pun, nggak akan kubiarkan Bagas terluka!"
Sari menoleh ke arah Doni yang berdiri sejajar dengannya. "Tolong Don, jagain dia buat aku selama aku pergi nanti!"
Doni mengangguk penuh arti. "Siap-siap gih, hapus itu airmata! Cengeng bener, kagak pantes buat superhero kek Lo!"
"Apaan sih?!" Sari menghadiahi Doni pukulan kecil di lengannya.
Pak Arya sedang sibuk memeriksa laporan beberapa tim yang menumpuk di mejanya, saat pak Lingga datang bersama Saka.
"Apa saya mengganggu?" Lingga bertanya sebelum masuk ke dalam ruangan.
"Oh, pak Lingga? Nggak kok, silahkan masuk!" jawab Pak Arya seraya berdiri menyambut pak Lingga.
Pak Lingga dan Saka duduk di sofa dan mulai membicarakan nasib liputan Journey to the East.
"Ada apa nih pak Lingga kesini? Apa ini tentang liputan itu?"
"Ehm, tepat sekali. Saya memang ingin membicarakan tentang itu sama pak Arya."
Pak Arya menarik nafas berat lalu menyandarkan punggungnya ke belakang.
"Saya pikir kita hentikan dulu untuk sementara waktu. Sepertinya Sari dan yang lain masih shock dengan apa yang terjadi."
Pak Lingga masih diam dan mendengarkan.
"Saya heran, sebenarnya apa yang terjadi disana? Gimana ceritanya Ahmad dan Rara … tewas secara mengenaskan begitu?" Pak Arya tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Kita berurusan dengan hal gaib pak, jadi semua itu bukan hal aneh. Kami salah karena telah melampaui batas antara dunia manusia dan alam gaib. Salah perhitungan tepatnya." Pak Lingga mencoba menjelaskan.
"Iya juga sih, tapi … rasanya masih nggak masuk dinalar aja deh!" ujar pak Arya masih belum puas dengan jawaban Lingga.
Lingga dan Saka telah mengatur semuanya, kematian Ahmad disetting seolah-olah meninggal akibat ilmu hitam yang menyerang mereka saat melakukan liputan di Banyuwangi. Sementara untuk Rara sedikit rumit.
Karena keduanya dibuat seolah meninggal karena ilmu hitam. Sementara jenazah Rara tidak ada ini membuat Saka berinisiatif mengambil jenazah tanpa nama dari sebuah rumah sakit, sebagai gantinya. Dengan dalih kondisinya hancur, ia melarang keluarga Rara membuka peti tersebut.
Awalnya pihak keluarga memang menolak dan ingin membuka peti tapi Saka berhasil meyakinkan mereka agar tidak membuka peti jenazah. Semua berjalan lancar hingga pemakaman.
"Pak Arya jangan khawatir, saya akan menjamin keselamatan lainnya. Itu janji saya, jadi dua Minggu lagi syuting akan kembali dijalankan." Lingga berusaha meyakinkan Pak Arya.
Dengan berat hati akhirnya pak Arya menyetujui niat Lingga. Mereka tengah membicarakan hal lain ketika Sari, Bagas dan Doni juga masuk ke dalam ruangan.
"Siang pak, maaf saya ada urusan sedikit dengan pak Arya."
Kata Sari ketika memasuki ruangan. Dirinya tidak peduli dengan kehadiran Lingga dan Saka disana.
"Eh Sar, ada apa? Bukannya kamu libur kan? Bagas dan Doni juga ikutan kesini, apa ada yang penting?"
"Iya pak, sangat penting!" Sari menekankan perkataannya sambil menatap tajam Lingga.
Pak Arya mengernyit kebingungan, "Ehm, kok suasananya jadi nggak enak? Ada apa ini?" Pak Arya menatap Sari dan Lingga bergantian.