Petualang Jagad Lelembut

Petualang Jagad Lelembut
Bab 36


Sari menatap kepergian Rara dengan sedih, rekan satu timnya kini berubah menjadi musuh. Teringat jelas di memorinya kebersamaan mereka yang  telah terjalin sejak mereka bertemu di stasiun televisi tempat mereka bekerja.


"Dah jangan dipikirin, mungkin Rara cuma butuh beradaptasi sedikit sama keadaan disini yang panas." kata Doni sambil menepuk bahu Sari.


"Yup, disini memang panas. Sepanas keadaan yang kita bakal hadapi Don." gumam Sari lirih.


Bagas juga mendekati Sari, ia ikut menatap kepergian Rara yang begitu dramatis di matanya.


"Sebenarnya Rara kenapa sih? Kok gue ngerasa aneh gitu sama sikapnya? Berantem ya sama Lo?" tanya Bagas pada Doni yang langsung mendapat tatapan sinis darinya.


"Enak aja Lo bilang Gas, gue mana pernah berantem sama cewek … mending ngalah dah timbang adu mulut sama cewek, kagak tegaan gue!"


"Hhmm, lagak Lo nggak tegaan … tempo hari juga berantem ma Rara!" Bagas mengingatkan.


"Masa?! Sorry gue suka amnesia mendadak apalagi di depan Sari, suka amnesia kalo dia calon makmum Lo?!" jawab Doni cengengesan.


Sari langsung melayangkan pukulan ringan di lengan Doni, "Jangan ngajakin ribut deh!"


"Kagak Sar, cuma bikin dia cemburuan dikit … kali aja ada kesempatan gue ngerebut Lo!" sahut Doni tertawa seraya meninggalkan Sari dan Bagas.


Doni menyusul Kang Pur dan warga lainnya, tak lupa sebuah kamera kecil dalam posisi menyala di tangannya.


"Mad, ikut gue!" ajak Doni pada Ahmad yang sedari tadi seperti orang kebingungan.


"Kemana kita Don?"


"Jiiiah pake nanya lagi Lo! Kerja lah cari berita! Nooh, ada berita di depan kita gali informasi misteri kirim dah ke divisi berita. Lumayan kan?!"


"Eh iya, cerdas juga Lo! Ternyata rambut keriting kagak ngefek ke otak lo!" Ahmad meledek Doni.


"Apa hubungannya sama rambut gue?! Dari dulu gue juga cerdas … Lo aja yang Lola?!" sahut Doni tak mau kalah.


Keduanya terus berdebat sepanjang jalan, sesekali suara tawa juga terdengar dari keduanya. Bagas dan Sari yang mengikuti mereka dari belakang hanya bisa menggelengkan kepalanya. 


"Kapan mereka tuh bisa akur?!" kata Bagas.


"Lebaran kucing pake dibawa bawa beb, nggak ada lebaran lainnya ya?!"


Sari hanya tertawa kecil, tapi tawanya itu mereda ketika Bagas mulai menanyakan keadaan Rara."Aku khawatir deh sama Rara, beb?! Dia berubah banget gitu ya? Apa kamu menyembunyikan sesuatu dari aku?"


"Eeeh, siapa? Aku? Nggak kok, mana ada?!" Sari berusaha mengelak.


Bagas menarik tangan Sari dan memaksanya untuk berhenti berjalan.


"Sar, kita satu tim … ceritain ke aku apa yang sebenarnya terjadi?! Aku nggak mau tim kita jadi terpecah begini!"


Sari dan Bagas saling bertatapan, lalu Sari menjawab pelan, "Feeling kamu bener Gas, sesuatu memang terjadi sama Rara."


Sari menceritakan awal mula perubahan Rara dari sebelum berangkat dan sesudah mereka berada di Banyuwangi. Semuanya ia ceritakan dengan detail termasuk kematian Atikah yang masih ia sembunyikan dari Doni.


"Apa! Gila?! Aku nggak salah denger kan Sar?!" Bagas terkejut, ia memastikan sekali lagi bahwa apa yang didengarnya itu adalah kenyataan.


"Jangan ngeprank beb, nggak lucu lho ini!"


"Bentar aku lihat tanggalan sek … bukan tanggal 1 April juga kali Gas, udah lewat banyak!" jawab Sari asal, ia sudah menduga penjelasannya akan sulit diterima Bagas.


"Wait, you say vampire?!" tanya Bagas lagi.


"Aku nggak bilang itu pasti hanya … mirip."


Bagas menggelengkan kepalanya, "Asli ni mistis beneran sih! I feel bad Beib?!"


"Nanti malam kita bicara lagi deh, pak Lingga mau ngomong sesuatu ke kita juga. Sekarang kita bantuin Doni dulu, siapa tau ada hal menarik yang berhubungan dengan Rara." Sari menarik tangan Bagas dan memintanya tidak menjawab apa pun.


Ia memberikan kode pada Bagas, ada yang sedang memperhatikan mereka berdua dari kejauhan.


Aku yakin itu Rey atau Rara, sementara ini lebih baik aku menahan diri … aku nggak mau membahayakan Bagas juga Ahmad!