
Sari kali ke tubuhnya, ia tidak mungkin berlama-lama disana. Sari membuka matanya perlahan berusaha menyesuaikan diri dengan perbedaan dimensi. Akhir-akhir ini Sari sering mengalami tekanan di kepalanya setiap kali harus melintasi dimensi.
"Pusing lagi ini kepala, aneh ya padahal sebelumnya biasa aja … mungkin karena aku terlalu banyak pakai energi."
Sari melirik ke jam tangan yang melingkar cantik di tangan kirinya. "Duh, jam lima! Aku kelamaan ninggalin mereka!"
Sari bergegas keluar dan kembali bergabung dengan timnya.
...----------------...
Saka keluar dari persembunyiannya, ia tersenyum pada Sari. Rupanya dia yang mengirimkan energi untuk memancing Sari pergi ke dimensi yang dikehendakinya.
"Anak itu luar biasa. Dia bisa menghadapi tekanan yang aku berikan. Sepertinya ramalan itu benar adanya."
"Saka? Ngapain disini, apa kamu lagi uji coba sama anak itu?" Atika tiba-tiba saja muncul di belakang Saka, membuat Saka jengah.
"Kamu ngikutin saya? Nggak perlu tahu saya ngapain, bukan urusan kamu! Lebih baik diam dan ikuti perintah pak Lingga." Saka berlalu meninggalkan Atikah yang geram.
"Ciiiih, apa istimewanya anak itu? Sampai seujung kukunya pun tidak boleh aku sentuh! Aku jadi penasaran sama rasa anak itu!"
...----------------...
Sari mempercepat langkahnya, dan benar dugaan Sari rekan satu timnya sudah menunggu dirinya dengan wajah tertekuk. Termasuk Bagas.
"Sori, lama nunggu ya?"
"Darimana lo Sar, tau-tau kabur gitu aja?" tanya Doni
"Ehm, kamar mandi? Perutku mules tadi." Sari berusaha mengelak dengan membantu Rara merapikan mejanya.
"Udah, nggak usah pura-pura sibuk gitu? Kita tahu kok, Lo dari mana."
Sari menghela nafas panjang, menatap Doni dan juga Bagas yang sudah menatapnya dengan tajam menanti jawaban.
"Oke, tadi ada seseorang atau tepatnya sesuatu yang memanggilku."
"Untuk?" Bagas bertanya.
"Memberi petunjuk? Entah deh aku juga masih ragu apa itu."
"Semoga petunjuk itu berguna buat kita?! Dan kamu jangan sekali kali lagi tiba-tiba menghilang, saya harus bilang apa sama mom kalo kamu tau-tau pergi!" Bagas mengultimatum Sari.
"Iya, iya … udah kek mom aja cerewet nya nih."
Sari kembali ke kubikelnya, dan melanjutkan pekerjaannya yang tertinggal. Sementara yang lain menyiapkan data-data yang telah disusun untuk diajukan dalam meeting besok.
Sari masih penasaran dengan simbol yang ia lihat dalam dimensi lain. Ia memutuskan untuk mencarinya, berharap ada sedikit informasi yang bisa ia gunakan.
Sari menemukan salah satu penemuan arkeologi yang memuat lambang kerajaan Majapahit. Ia terkejut karena penemuan itu persis seperti yang tercetak di salah satu kain yang ia lihat. Dalam catatan arkeologi, disebut dengan Surya Majapahit. Bentuknya memang seperti matahari dengan ornamen salah satu dewa Hindu diantara lidah matahari yang berjumlah delapan.
"Majapahit? Benarkah?"
Sari kembali melakukan pencarian mencari simbol yang juga ia temukan di peperangan itu. Ia kembali menemukan bendera yang juga masih bisa ditemukan oleh tentara TNI-AL yang disebut Panji ular-ular perang.
"Bendera ini hampir mirip sama yang aku lihat, sedikit berbeda sama yang sekarang sih tapi mirip banget." Sari bergumam dan menggali ingatan yang ia bawa dari dimensi lain.
"Kalo yang aku lihat itu pertempuran Majapahit terus siapa lawannya? Aku nggak nemuin bendera yang lain disini?!"
Sari meneruskan pencariannya, tapi nihil. Ia kesal karena lelah mencari. Ditatapnya lambang kerajaan Majapahit yang ditemukan di situs arkeologi sambil memijit keningnya.
"Siapa yang mengundangku masuk dalam pertempuran itu? Nggak mungkin kalo nggak ada sebabnya kan?"
"Tapi buat apa? Apa seseorang itu … salah satu dari mereka?" Sari menatap ke ruangan tempat pak Lingga dan timnya berada.
Sari mencurigai mereka karena kemiripan energi yang ia rasakan saat pertama kali bertemu di ruang meeting dan saat di area tangga darurat.
"Berjalan di kegelapan, hidup dalam kesengsaraan? Melintasi dimensi dan bertahan hidup?" Sari merebahkan punggungnya dengan santai di kursinya, ia memejamkan matanya.
Mencoba sekali lagi mencari korelasi petunjuk yang ia terima dari penjaganya dan perjalanan dimensinya yang aneh.
"Mbak Sari belum pulang?" Seseorang mengejutkan Sari, membuatnya membuka mata tiba-tiba.
"Eh, pak Lingga?"
Pak Lingga tertawa melihat Sari yang terkejut dan hampir saja terjatuh dari kursinya. "Kayak liat hantu aja nih."
"Maaf pak, lagian bapak sih bikin saya kaget aja." Sari mencoba berdiri dan menatap sekitarnya. Sepi.
Kemana semua orang, kok pergi nggak bilang-bilang sih? Gerutu ya dalam hati.
"Ada apa mbak?"
"Eh, nggak kok pak. Sepi, kayaknya saya ketiduran tadi. Kalo gitu saya pulang dulu ya pak."
"Eh tunggu, bisa saya bicara sebentar?" Pak Lingga mencegah Sari pergi.
Sari mengangguk dan tersenyum. "Saya butuh bantuan mbak Sari segera. Karena cuma mbak Sari yang bisa bantuin saya."
"Bantuan apa ni pak?"
"Saya, membutuhkan … kamu." Senyuman iblis melengkung di bibir pak Lingga, membuat Sari terbelalak.
Wajah Pak Lingga berubah mengerikan dengan taring yang semakin panjang. Menyeringai pada Sari dan bersiap menjadikan Sari santapannya.
"Pak Lingga jangan ngeprank dong! Nggak lucu kali pak!" Sari mundur selangkah demi selangkah.
"Saya butuh darah kamu, saya harus hidup!" Suara pak Lingga berubah parau dan serak. Air liur menetes disela giginya yang semakin tajam.
"Eeh, darah? Kek vampir aja ni orang?! Pak nggak lucu beneran, bisa dilepasin nggak itu topeng. Saya nggak mau nyakitin bapak lho?!" Sari mengingatkan pak Lingga, ia telah bersiap dengan kekuatannya berjaga jika Pak Lingga nekat menggigitnya.
Pak Lingga tidak menjawab dan dalam kedipan mata, ia menerkam Sari menghujamkan gigi tajamnya ke leher dan sukses menembus pembuluh vena Sari. Darah merembes keluar seiring dengan pecahnya pembuluh darah, dan pak Lingga dengan rakus meminum darah Sari.
Sari berteriak, ia merasakan sakit yang luar biasa. Ia ingin menjerit tapi suaranya tercekat, ingin berontak dan melawan tapi energinya terkuras oleh kekuatan pak Lingga.
"Ben ik nu dood?" (Apa aku mati sekarang?)